Aku ingin mengatakan kepadamu, kejujuran, bukan dusta. Bahagia itu Sederhana. Akan kubisikkan itu setiap pagi, dan engkau akan percaya, bahwa hati kita telah bahagia melalui cara-cara yang sederhana.
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Jumat, 11 Maret 2016
Sepenggal LPDP (Catatan 1)
Kepalaku berdenyut-denyut, rasa kesemutan menjalarinya, lalu merembet ke bagain lain, tangan kaki, sekujur tubuh. Wajahku panas, parahnya lagi perutku seperti dikocok, perih dan sakit...
Ini hari kamis, 11 Feb, 2016. Keletihan kelesuan membuatku merasa, betapa nikmat menjadi sehat itu. Sebenarnya ini hanya masuk angin biasa, harusnya aku terbiasa, tetapi tetap saja, merindukan seseorang yang bisa membuatku lebih baik dalam keadaan seperti ini. Ema, apa kabar ema? Rasanya tak sanggup lagi bohong, jika aku sungguh kuat (menguatkan diri) tanpamu. Kerinduan seperti ini selalu datang dan meminta airmataku jatuh, walau sudah ditahan-tahan. Dua tahun dan 6 bulan, waktu yang sudah cukup lama, dan aku berhak merasakan rindu sampai separah ini. Allah....
Dua hari ini, kemarin dan hari ini, aku terpaksa membolos dari sekolah. Sesungguhnya, tidak hadir di sekolah membuatku menjadi manusia yang kurang baik, ada banyak amanah yang kutinggalkan, anak-anak, PSB, ekskul, edit soal, dan satu lagi janjiku menuliskan sebuah materi tentang “seandainya”, terbengkalai semua. Amanah yang Allah titipkan padaku, tidak tertunai dengan baik. Mudah-mudahan Allah memaafkanku, mudah-mudahan.
Kepala terus berpikir (memikirkan) apa yang telah kulewati dua hari ini, tidak tampak normal. Satu hari sebelum keberangkatannya, adalah sisa usahaku yang terakhir untuk mendapatkan surat keterangan penerima bidik misi dan surat keterangan bebas narkoba. Bagaimana memulai cerita ini? Perjalanannya terlalu panjang.
Setelah usahakau datang ke klinik, ke dokter dan RSU nihil (bolak-balik), berangkatlah siang harinya ke KAPOLRES KOTA Tasikmlaya, dan ternyata tidak bisa, karena domisiliku di kabupaten. Waktu menunjukkan pukul 13.30, dan satu-satunya jalan terakhir adalah datang ke Mangunreja singaparna. Semoga belum tutup, aku berangkat menuju ke sana, dan sampai 14.30 an. Alhamdulillah Allah permudah prosesnya. Bada ashar, SKBN sudah ditangan. Bagimana dengan surat bidikmisi? Seorang teman di kampus membantuku mendapatkannya, lagi-lagi Allah membantuku, Allahu Akbar, segala puji hanya untuk Allah. Tepat jam 17.00 datang ke kampus, bertemu Mr. D, meminta bekal nasihat: “Jad diri kamu apa adanya Li, percaya diri, jangan menutupi kelebihan, jangan mengada-adakan yang tida ada dalam diri kita! Yang topi berpikir mah, searching saja ya!” Aku tahu kata-kata itu singkat, tapi harus memaknainya sepanjang perjalanna pulang.
Perjalanna belum sleesai. Sore harinya melanjutkan the journey, Tasik-Ciawi, 17.30 s.d 18.30, hujan-hujanan. Jika didramatisir, itu sungguh seperti film. Tokohnya berputar tiada lelah, menantang hujan, petir, angin badai... tapi aku bukan lakon di film, biasa saja... tiada petir, ada angin dan hanya basah, sisanya lelah. Itu saja!
Esok harinya, subuh jam 4, aku sudah dibangunkan, “Dek bangun!”
Aktivitas pagi pun dimulai, teh journey akan dilanjutkan 05.00 pagi, sudah tancap gas menuju bandung! Hari ini jadwal perivikasi, wawancara, esai dan LGD untuk beasiswa LPDP ku. Sempat-semparnya aku mengetik sttaus di BBM, “Subuh tanpa gerimis, jalan tiada ujung, harap tiada pupus, bismillah, laa haula wa laa quwwata!” Tulisna itu sungguh mmberi energi tersendiri. Subuh hari yang berembun, aku menyusuri takdirku, melihat masalaluku, tersenyum padanya, menginsyafi segala kebodohanku, lalu menatap ke depan, jalan yang kutempuh kini betapa panjang.... dan harapanku pada Nya tak akan pernah berhenti, masa depan yang kuperjuangkan untuk siapa? Entahlah, aku tak tahu, misi hidupku. Misi hidup spesifik itu.... hanya saja, lakukan yang terbaik hari ini, biar esok jadi apa dan untuk siap, adalah rahasiaNya.
Perjalanan yang amat menegangkan, jadwal kedatanganku harusnya 07.30. Tapi aku dan kakak masih di jalan Soeta, masih belum belok ke buah batu lalu ke jalan lengkong dan asia afrika. Tiba di GKN asia afrika, pukul 08.00 kurang sepluh atau 15 menitan, dan ada seorang ibu pula yang sama dneganku hendak perivikasi. Baru tiba, diantar suaminya.
Seorang ibu yang entah siapa namanya, ibu hamil, yang kuketahui akan mengambil S3 di UI. Kami masuk sambil berkenalan, masuk ke balrom, menju tangga yang diarahkan panitia. Tangga yang mengarah ke bawah, ground floor. Ibu itu berkata, “Jadwalnya hari ini ya?”
Hah?
Saya belum cek email 2 hari ini. ternyata setiap orang itu di kasih jadwal masing-maisng, yang sudah dikelompokkan.
Saya cemas, bagaimana kalu jadwal saya adalah esok? Harusnya sya tidak datang hari ini dong!
Buru-buru cek email, dengan kendala Hp yang lowbatrre (karena semalam di gunakan terus oleh ponakan) dan kuota yang tet tot. Ma sya Allah, harus sabar. Saya belum melakukan registrasi perseta yang ditandai dgn alat pemindai. Oke fiks kan dulu jadwalnya. 15 menit kemudian saya tahu, hari ini saya da jadwal perivikasi, esai dan LGD, dan besok wawancara. Alhamdulillah! Segera mengabsen, dan duduk manis menunggu giliran.
Cukup lama, ruangan mulai sesak. Esai dan LGD adalah tahapan pertamaku, sedikit berbeda dengan kawan yang lain. Kawan di sini para bapak ibu. Aku kebagian esai jam 11.30 an, LGD jam 13.00, dipotong dulu waktu solat.
Ingat kondisi perut belum di isi, dari subuh mula... kalo ada ema pasti ada yang merhatiin makan inih! Akhirnya memutuskan asaja tidak makan minum hari ini...
Esai apakah yang harus saku kerjakan nanti? Bisa tidak ya, rasanya otakku mandeg tidak tahu apa-apa.
Rasa penasaran... kami dikumpulkan dalam satu kelompok 5B. Kelompokku ternyata khusu afirmasi, dan kegembiraanku adalah mereka smeua sangat welcome, apalagi alumni bidikmisi merasa satu hati, ada satu kelompok yang dari UPI, Agus Ramelan, ya aku tahu dia, bingo! Dia salah satu peserta PMW yang senagkatan denganku... dari UPI dia hendak lanjut ke ITB, ambil elektro. Aku sendiri? UPI ke UPI dan PENDAS.
BAGAIMANA ESAI? TEMA APA YANG KUTULIS?
Bersambung ke catatan 2....
Senin, 03 Agustus 2015
CURHAT PASCA YUDISIUM
Apa kabar?
Entah yang keberapa kalinya aku gagal curhat, selalu saja ada gangguan diamna akau tak bisa menulis sepuas hati.
Seorang kakak, katakan, senang sekali saat bercakap-cakap, dan seringnya aku tak tega mengehntikkan obrolannya. Padahal aku bisa berkata, leave me alone, i want write something...
Tetapi, tak mampu... mungkin itu karena aku sayang, benar?
Saat ini ia tengah tertidur, mari kita cek dulu, mungkin ada nyamuk di pipi kiri kanannya?
----------------
Benar, ketiganya sudah lelap. Mataku pun sudah sembab, ingin ditidurkan, tetapi tak ada waktu lagi untuk curhat, selain malam-malam saat semua pembuat gaduh tertidur, hehehe-kejam nian!
Lampu kamar kumatikan saja, itu baikkan buat regenerasi kulit mereka?
Eli mau menulis apa?
Paska yudisium tentu saja. Ada banyak sekali tawaran yang membingungkan. AKu tahu kebingungan itu sendiri tercipta karena aku tak pernah menyiapkan diriku sendiri menjadi apa. Saat ibu memint aku pulang, aku ngangguk saja, karena toh langkah sendiri pun aku tak bisa bayangkan. Mungkin di sana pointnya, saat aku memiliki mimpi untuk bekerja sesaui minatku.. ah, aku sungguh egois dalam hal ini.
Tetiba di hari itu, 1 Juli 2015. Entah lah mengapa kakiku melangkah ke arah labschool, aku hanya sedang mencari Mom Desi, dan tertangkap basah masuk ruang kantor labschool, mereka sedang rapat! Pak Aan menyambut dengan sumringah... tanpa ba-bi-bu meminta kesediaan untuk jadi stap pengajar di sana?
"Hah?"
Tentu saja, kebingunganku tertangkap oleh seorang dosen yang sebenarnya sudah jauh-jauh hari (maksudnya) menyelamatkanku untuk tetap stay in Tasikmalaya.Waktu itu, aku melihat rautnya yang bahagia, dan aku sendiripun sebenarnya bahagia mearasa dihargai, kan sulit cari kerja? betul?
Tetapi waktu itu, Pak Aan memintaku pula menghubungi Ibun, agar sama-sama masuk mengabdi di labschool. Langsung saat itu juga aku telpon Ibun dan mengabarkan keinginan Pak Aan. Ibun juga terlihat bingung, sama sepertiku. AKu meminta beberapa orang untuk melihat dengan jernih, bagaimana keputusanku selanjutnya?
Tentu yang utama bagiku adalah ijin ibu....
Selain itu, ada hal yang sebenarnya tak usah aku ungkap, bagaimana peluang di labschool ternyata hanya untuk 2 orang saja. Itupun, untuk posisi yang satu harus menunggu beberapa bulan... dan saat itu juga aku tahu bahwa dosen yang bermaksud menyelamatkanku itu tengah berupaya pula memasukkan kawanku. Sekiranya aku masuk? Ah...
apalagi saat kuketahui, ibun sudha menyatakan kesiapan, aku tahu apa yang akan terjadi.
Seolah-olah semua menyalahkanku, karena aku lama sekali berkeputusan.. tetapi biarlah, mereka tidak ada dalam posisiku saat itu.
Busa-busa dijelaskanpun tak ada gunanya...
Hingga suatu malam, saat aku sedang online, dosen tersebut mengontakku, bahwa sikap diamku dinayatakn sebagai penolakan atau ketidakminatan dan sebagainya lah...
Sudah diprediksi, dan untuk mempertegas diri, aku mengatakan: Maaf, bukankah aku belum memberi jawaban. Jawabanku hari senin, ini Sabtu. Haham, mungkin dengan kata itu seolah-olah aku orang penting ya? Tapi sungguh aku telah mengatakan padanya keputusanku hari Senin.
Well, sebenarnya hal itu telah diduga, bahkan sebelum hari itu, aku sedikit curhat pada kakakku yang tengah tidur itu... dan sarannya memang be your self, ada banyak jalan menuju impian.
Meskipun jelas-jelas seperti itu, masih saja Pak Aan bertanya kesediaan, dan kadang aku hanya bisa tersenyum. Beberapa dosen lain pun menyampaikan unek-uneknya bahwa aku memang lambat dalam membuat keputusan, tak bisa ambil peluang, dan sebagainya: lebih parah lagi mengatakan aku tak bisa terima saran.
Oke Zahraa, tak usah lah sedih dengan kata-kata itu. Hihi, lebai saja, buang waktu saja. Ada banyak hal sebenarnya, menjadi alasan tersendiri:
1. Ibu, aku tahu umur siapa yang tahu. Dua hari ingin kuluangkan khusus untuk ibu dan keluarga, jadi memilih kerja full senin-sabtu bukan yang aku harapkan.
2. Free, dengan jiwa yang kumiliki, bukan tipeku untuk berada dalam kurungan waktu dan tempat. Bekerja part time selalu jadi prioritasku, tak membuatku jenuh pastinya...
3. AKu ingin kursus, kemampuan bahasa asing yang pas-pasan tentu mesti dapat daya dukung penuh. Otakku pasti tidak bodoh-bodoh amat kan? Masa iya, kursus aja gk ada peningkatan?
4. Mendidik dengan gayaku, hehehe, sebenarnya pasti banyak yang komen saat aku bilang, tak mau jadi pendidik, tak mau ngajar! Walau hidup di bimbelan yang nota bene mendidik, aku mengambil bagian kurikulum saja. Otak atik kajian materi, dan sebagainya. Entahlah... jadi saat seorang dosen merekomendasikan aku masuk bimbel lain, aku bingung. Jadi stap pengajar lagi! Biimbelnya islami? Itu daya tarik, lagian aku bosan disebut tak bisa menerima bantuan dan saran. Oke deal, akhirnya aku mnegirim CV ke mumtazaalbiruni. Dan menunggu jadwal keluar.. Wow, iam be teacher?
5. banyak waktu buat menulis. Karena entah apa, aku merasa bahwa jika kita diam saja menunggu panggilan, mana mungkin ada yang telpon. ADa juga, kita kirim lamaran, lalu dag dig dug nunggu terima atau enggak. Itu, aku hanya coba-coba kirim lamaran dan diterima... jadi apa? jadi hantu yang menulis haha(Ghost Writer), menulis setiap hari, jika dihitung 100 artikel mesti ditulis dalam sebulan. hah? Aku sendiri tak percaya aku bisa, tapi, hari tadi adalah hari pertama aku nulis artikel... entahlah bagus apa jelek, yang penting nulis, 5 artikel /hari.
Artikelku harus bertema pendidikan islam. Hemmm... dunia kerja, aku seperti romusha ya? tidak juga.
Sembari menunggu pengumuman PIMNAS, masih juga ngarep! aku coba-coba berbisnis madu dan fashion. well tahu sendiri aku kan gagal terus kalau bisnis, ujung-ujungnya pasti pelanggan pada gak bayar, terlalu baik dagangnya. Tapi tak kapok-kapok...
Tapi semuanya mesti dilakukan dengan diam dan tidak sok sibuk, santai sajalah, nikmati hidup ini.
Itu urusan dunia? CUT! Dunia untuk akhirat.
Aku tahu, saat ini sbenearnya aku bisa menghidupi diriku, tidak jajan, puasa aja atau apalah, yang penting hidup dengan makanan halal. Tetapi ada soal lain, entah dari mana mulainya, aku slelau jadi tulang punggung dari kehidupan keluarga kakak. :)
Jika ada sesuatu yang kurang, dan ingin meminjam, pasti hubungi adik bungsu. Well, tak bisa menolak, tapi juga tak bisa bantu, karena aku hidup cukup, cukup sehari-eun :D
Oleh sebab itulah, aku berharap bisa bantu semua orang yang menghubungiku dan bilang, "Teteh boleh gak pinjam uang?"
Hah? Ingin seklai bantu!!!!!! Tetapi apa daya, hanya semampunya.
Makanya sering sekali berdoa, biar diberi kecukupan agar bisa bantu orang, atau cukupilah kebutuhan orang-orang yag merasa tak cukup. Bekerja, itulah salah satu usahanya!
AKu tak tahu, apa yang kukerjakan akan berharga atau tidak untuk masa depanku, terus melaju, jalani dengan senyuman. AKu sering sekali mengatakan: Hidup ini penuh sandiwara, jadi untuk peran apapun yang orang lakoni kepada kita, so hadapi saja dengan senyuman!
Begitulah curhatku, aku tahu aku tak bisa lagi menyakiti ibu, harus beri ibu kepastian, besok mungkin pulang dan mengatakan keputusanku... Ya Allah permudah urusanku.
Biarkan aku mejadi hambaMu yang penuh syukur. :)
(0:06), 4/8/15.
Az.
Senin, 27 Juli 2015
MARYAM
“Aduhai celaka, alangkah baik seandainya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tak berarti, lagi dilupakan.” (QS Maryam: 23)
Untuk Maryam yang tak akan dilupakan oleh Tuhan bahkan saat dirinya ingin dilupakan. Untuk juang yang menyisakan perih dalam pelajaran yang agung, Tuhan mengabadikan namanya dalam satu surat kitab suci mulia. Untuk Maryam, yang cintanya menghaluskan semesta, menundukkan langit, dan menjadikan dirinya rendah tunduk pada ketentuan Rabbnya.
Adalah hakikat angin untuk pergi lalu dan lalang. Adalah hakikat daun untuk busuk, tua dan jatuh. Adalah kematian, sebagai hakikat tinggi semua yang hidup. Adalah keberadaan sebagai hakikat dari penciptaan. Sedang aku lupa, hakikatku sendiri.....
Bukan aku yang Maryam. Dia adalah seseorang bernama Maryam, perempuan tentu saja, aku laki-laki. Bukan maryam yang itu, ini adalah Maryam lain. Sedang ceritanya selalu mengikutiku, kemanapun aku pergi, ada suara-suara memanggil, pilu. Apa sebab ia memangil? Mungkin ini tentang kepergiannya yang tak kuketahui, di sana ada separuh dosa dan sesal yang kusembunyikan.
***
Suatu hari dengan menangis Maryam menemuiku, memintaku melakukan sesuatu yang tak bisa kulakukan saat itu.
“Tolong lah aku, Ndra,” ia sering memanggilku Ndra, padahal namaku bukan itu. Sejak kali pertama kita berpapasan, dan ia mengikutiku dan memanggil-manggilku dengan “Ndra” sementara namaku bukan itu.
“Kenapa? Minta tolong kok ke aku? Aku bukan dewa loh...,” seperti biasa aku bercanda dengan antusias kepadanya. Entah ada sebagian dari hatiku yang cenderung kepadanya. Cenderung sayang.
Dia menggigit bibirnya kuat. Setelah lama kutunggu, yang keluar bukanlah kata. Ada seorang perempuan menangis dihadapanku, itu serba salah.
“Hei kok nangis?” ujarku tidak enak. Airmata itu ia usap, dan mulai menenangkan diri, bibirnya yang mengatup kini bergerak-gerak lambat ingin mengucap sesuatu yang berat.
“Aku mengandung, Ndra.”
Kabar ini bagiku seperti sayatan yang diberi garam. Perih! Maryam mungkin bisa melihat bagaimana aku begitu terpukul. Kecenderungan hati itu, tak menyisakan lagi harapan.
“Setahun lalu aku menikah dengan pemuda bernama Andra. Kami menikah diam-diam, hanya keluargaku yang tahu,” perempuan itu berkata lirih.
“Lalu? Mengapa kau bersedih? Apakah suamimu meninggalkanmu?”
Maryam, perempuan itu menangis lebih hebat lagi. Ia menggelengkan kepalanya. “Andra tak mungkin meninggalkan kami.” Ucapnya seolah berteriak.
“Tentu saja, karena kau begitu baik hati dan tak bisa bedakan mana lelaki yang culas!” ujarku geram.
Maryam tak lagi menjawab. Kesimpulannya membuatku menyesal telah berkata demikian keras, “Kamu tentu tak bisa menolongku.”
Perempuan ternyata memang sulit ditebak, ia tak lagi menjelaskan “apa yang bisa kulakukan” untuknya, kemudian pergi meninggalkanku yang diliputi rasa bersalah.
Esok harinya aku berusaha menemuinya dengan niat minta maaf, tapi dua jam aku berdiri di depan rumahnya tak menghasilkan apa-apa, selain desau bambu dan gonggongan anjing kampung.
“Mencari Maryam?”
Aku mengangguk. Senang ada seseorang yang bisa menjelaskan kepadaku perihal perempuan yang entah mengapa aku begitu mengkhawatirkannya.
“Dua hari lalu pergi, entah kemana. Mungkin nanti siang atau sore kembali. Mungkin pulang ke rumah orang tuanya di kota T.”
Semua serba mungkin, aku tak bisa percaya.
“Apakah Maryam sering keluar begini?” Aku berpendapat jika sudah kebiasaannya, kata “mungkin” bisa saja menjadi “kebenaran”.
“Tidak, biasanya ia senang tinggal di rumah. Dan orang tuanya yang akan mengunjunginya.”
Aku tahu, jika kata “mungkin” itu terlalu abstrak. Dengan masigul kutatap lagi daun pintu rumahnya, siapa tahu, tiba-tiba saja ada yang menggerakannya dari dalam. Rupanya itu hanyalah inginku, tidak akan pernah ada pintu yang terbuka jika penghuninya pun tak ada. Tapi siapa tahu? Angin bisa saja menggerakannya bukan?
Sesampainya di kosanku, aku berusaha mencari tulisan-tulisan Maryam yang berserakan dimana-mana. Benarkah aku Andra? Ternyata Andra itu suaminya? Apakah aku suaminya? Sering dalam tulisan itu Maryam berkata panjang-panjang, jika aku adalah Andra, bukan namaku sekarang. Sikapku mengingatkannya pada Andra, bahkan kebiasaanku berpakaian adalah jelmaan Andra, bahwa caraku berjalan, berbicara, dan manatapnya adalah milik Andra. Apakah aku Andra? Sungguh, aku lupa. Siapakah aku?
Kepalaku oh berputar! Pusing tujuh keliling. Aku membiarkan diriku tenggelam, lalu mata terpejam lelap karena rasa mual pun menyeruak. Semenjak itu, aku tak berani lagi bertanya, siapakah aku? Kepalaku oh berputar. Tak ada lagi pertanyaan.
Mungkin saja aku lupa, dan akan selalu lupa. Juga maryam yang telah pergi dengan sisakan sesak dadaku. Sedang benci dari keluarganya tak lagi dapat kuhapuskan, aku yang telah meinggalkannya? Benarkah?
Aku kebingungan, tentang diriku, akan selamanya menjadi manusia yang tak tahu asal-usul. Jika saja, aku tak temukan jawaban. Tentang kejadian di masa itu.
Apakah lupa itu hanya dapat terjadi karena benturan keras? Apakah lupa bentuk amnesia itu hanya karena kecelakaan? Sedang aku baik-baik saja, tak ada yang kurang, tak ada yang sakit, tak ada kecelakaan.
Sebuah handphone namak di bawah kertas-kertas. Apakah ini handphoneku? Tentu saja, karena ada di dalam lemariku. Lemariku, ini daerah terlarang. Aku berusaha mencari-cari jawaban di sana, apakah aku melupakan sesuatu, atau meninggalkan sesuatu. Setahun ini, aku lupa bahwa dunia telah maju, dan handphone adalah kebutuhan yang telah menjadi primer. Lalu dimana nomor handphone keluargaku? Tak pernah ada kecuali satu nama di daftar panggilan: Maryam. Nama yang tak pernah kutambahkan sebagai kontak, tapi ia telah ada.
Apakah ini tanda? Aku dan maryam adalah (pernah) dekat?
“Mengapa aku tak menghubunginya sekarang?”
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau..........”
***
Jika semua telah sampai pada hakikatnya, lalu apa yang tersisa?
Apakah lupa, jika Tuhan adalah satu-satunya yang menciptakan hakikat?
Itukah sisa dari segala hakikat?
Kau lupa?
Ah Tuhan. Bukankah tak pernah lupa, tak melupakan, tak mungkin dapat dilupakan?
Bulan berlalu dan aku melakukan semua rutinitas sebagai seorang perantau yang bekerja penuh waktu di sebuah lembaga swasta. Lembaga dengan cabang dimana-mana. Suatu hari nama Maryam berkedip masuk ke kotak masuk, rupanya itu pemberitahuan dari operator saja, bahwa panggilanku beberapa kali di minggu ini sampai ke nomor Maryam. Itu tandanya: sudah aktif!
“Maryam!” aku kegirangan.
Lambat suara itu hadir, tersedak oleh perasaan yang campur aduk. Suara berat memulai percakapan itu.
“Ini Bapak, Ndra..”
Dengan kegamangan aku menerima dipanggil sedemikian. Dengan masih terguguk suara berat itu melanjutkan kata-kata, singkat saja. Isinya beruapa kenyataan bahwa Maryam tak akan dapat lagi kutemui, selamanya dalam wujud yang bisa terindrai.
“Bukankah engkau suaminya? Mengapa kau tidak bertanggung jawab!” bentaknya diujung berita.
Aku suaminya? Aku sendiri lupa bagaimana caranya aku menjadi seorang suami dari perempuan yang meluluh lantakkan kecenderungan itu.
“Aku bukan Andra Pak. Aku Nurdin!”
“Ya, jelas persis kau Andra. Lihat ini nomor siapa, hah?”
Aku tercekik, dari mana nama Nurdin kuperoleh? Aku hanya menerka-nerka, saat bekerja orang-orang memanggilku Nurdin.
***
Adalah Maryam, istriku, yang telah membawa semuanya pergi. Juga Imran, bayi kecil kami yang juga ia bawa pergi. Kenangan itu kabur, entah sejak kapan dan mengapa aku terkena penyakit lupa ini. Sedang Maryam adalah istriku, tak mungkin aku lupa. Tak mungkin! Tetapi itulah manusia. Aku pun manusia. Hanya Tuhan yang tak pernah melupa.
Tasikmalaya, 15 April 2015
Kamis, 09 Juli 2015
SIDANG SKRIPSI
sedang tidak enak badan, tapi ingin menuliskan sesuatu tentang skripsi.
buakn lagi tentang bagaimana menyusunnya, tentang bagaimana proses sidang itu berlangsung. Jika aku mesin, ini cerita akan kuulang-ulang diceritakan... kepada sesiapa yang ingin tahu.
Enam hari sebelum sidang skripsi, aku bersama teman iseng-iseng membayangkan proses persidangan. maklum, kita terlalu parno..
dan dari obrolan itu sepakat dengan tips-tipas menghadapi penguji:
1. Pura-pura sakit, bleh meriang flu, sakit gigi, atau batuk-batuk. Mana ada penguji yang tega nahan tersangka sampai 1 jam 2 jam, kan tersangka mau ke dokter segera gituloh, walaupun gak ke dokter ya kan harus istirahat.
2. Tips 2 ini cukup manusiawi, bagaimana kalau pas sahur kita makan jengkol atau pete, terus jangan gosok gigi, nah nah kan berhadapan, penguji gak mau dong bau terus menerus, alhasil sidang akan cepat berlalu. Bisa sih, tapi bisa dipastikan nilai atittude kita C, hehehe..
3. Tips ketiga adalah menjawab pertanyaan dengan semanis mungkin tanpa pembelaan untuk hal-hal teknis, dan pantang menyerah untuk masalah yang bisa ganggu kontent, misal mempertahanakan rumusan masalah :D kan kalo masalah penomoran halaman mah, bukan esensi. Harus manis nih, kalo bisa angguk-angguk kepala dan mencatat semua perkataan penguji. hahaha...
4. Tips ke empat, menjawab sebelum dikasih pertanyaan. begini, coba anda.... langsung kita jawab, "saya bersedia pak." haham tips ini apasih gaje.
Begitulah kita menciptakan tips menghadapi ujian sidang skripsi.
Entah karena kualat atau apalah, setelah percakapan malam itu, dinding mulutku bengkak, sariawan, dan sariawannya suhbanallah sebesar naudzubillah, kalo kesentuh gigi samping, rasanya ingin teriak sekuat-kuatnya............. sakitttttt banget! Seumur hidup baru mengalami sariawan separah ini. Dan kata orang ini bisa disebabkan:
1. Setres
2. Kurang tidur
3. Kurang minum
4. Kurang makan buah dan sayur...
Pokoknya gitu lah, berbagai cara dilakukan. Sempat terbesit, apakah ini karena efek menggunakan akawa gigi juga ya? Sejak Juni saya berniat merapihkan gigi, dan benar saja, setiap mau bicara saya harus buka mulut hati-hati, kalu tidak kawat gigi bisa nyangkut di lubang naudzubillah itu...
Ibu bilang, ke dokter, buka lagi saja kawatnya!
Ada 4 hari tiap mau buka saum, bangun tidur, atau mau sahur pasti nangis dulu, apalagi pas gosok gigi, cireumbay....
Sakitnya gak ketulungan, sampai suatu hari berdiri di depan cermin dan berkata, aku gak sakit, kamu sakit ge aku kuat, tapi tetep we bari ceurik... da sakit. LOL.
Bapak bilang, coba pakai harangasu, harangasu abu hitam dari sisi-sisi hawu... yeuh kolot jaman baheula mah pake harangasu. Oke... dengan mata terpejam, kuoleskan harangasu ke dinding mulut tepat ke lubangnya, dengan air mata bercucuran akhirnya si harangasu menempel tepat. jedad jedud berkurang, setelah itu tetep sakit lagi...
Ibu bilang aku salah memakinya, harusnya pas mau tidur, terus biar sama kapasnya saja.
oke, demi sidang lancar, saya coba lagi, walau tahu sakitnya kaya gimana... oles harangasu pakai kapas, ditempel di lubang sebelum tidur bari cireumbay!
Pas bangun tidur, memang enak dingin, dan pipiku chubby kan, nah nah sebelum makan tentu kapas di lepas dong, lalu satu dua.. tiga.. kapas di tarik.. "AWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWwwwwwwwwwwwwwwwwwwww!" seperti dicubit didaerah yang luka. menjerit sekuat tenaga, sakit broh!
Ibu kaget, kenapa? kulihat lubang di dinding mulutku semakin dalam dan merah. Kata ibu, atuh da kapasnya di bawa tidur!
Ibu!!!!! kan ibu yang bilang...
Dengan santai ibu bilang, 5 menit saja, kapasnya ambil lagi..
Ah sudahlah...
Hari selas sidang, tapi sariawanku tak kunjung menunjukkan tanda sembuh, aku tak bisa berkata, meminta atu berbicara dengan isyarat, atau menulis. dan sebalnya orang-orang malah ketawa, atau ngajak bercanada yang bikin posisis mulut pipi dan wajah berkerut, itu sakit loh. jadinya sering menyepi dan nangis sendiri deh...
Hari Senin kembali ke tasik, ibu menyelipkan harangasu di balik tasku, anggo nya kata ibu. Senin itu aku mau ketemu OM Pidi, mau simulais sidang, dan memang walau terbata-bata aku bisa ngomong dan menjawab pertanyaan om pidi.
Om Pidi bilang, itu sih kamu pakai kawat segala ih, buka kali lah Li... duh!
Akhirnya pulang dari Om Pidi, karena tak kuat dengan sakit, dan harangasu tak mempan, oh ya sempat juga pakai osari yang dari madu dan kurma itu loh, GAK MEMPAN, ngajeletot tapi terus aja nyut nyut.. memutuskan ke dokter gigi, dokter gigi yang biasa merawat tak bisa datang ya sudah datang ke dokter gigi lain, dan alhasil dibuka lah dua kawat yang dekat dengan lubang naudzubillah itu.
Apakah jadi plong? Mendingan, tapi tetap sakitnya tak bisa dihilangkan terutama ketika berbicara.
Besok sidang tapi aku gak bisa bicara? bagaimana bisa, ya ALlah sebuhkan abi ya Allah.. itu doa yang tak henti-henti.
Tahu gak? Selama sakit sariawan, saking panasnya mulut kalo tidur ingin sekali dikipasin, sampai selalu nyiapin kain khusus jika aku posisinya ke kanan atau kiri, siapain buat ngeces! Hahaha jorokkan, but that true!
Hari H tiba... ini tulah kayanya, aku beneran sakit, sariawanku jedud-jedud, mungkin ini puncaknya.
Dengan masker pink, aku siap di sidang... penyidangnya:
1. Prof. Cece
2. Dr. Karlimah
3. Drs. Edi Hendri
Tahu kan ketiganya, guru-guru besar idealis yang aku akan mendadak ciut, dan bisa membuat berat badanku turun drastis. Ya Allah, abi ingin hari ini lancar dan abi bisa bicara kalo ditanya ituh ya Allah plis ya Allah... itulah nikmat bisa bicara itu, jaga lisan makanya sist bro!
Ternyata prof Cece memsiahkan diri, ia menyidangku sendirian, eh dibantu dua asdosnya Pak Opik dan Om Pidi. ENtah karena situasi yang dibuat merinding, parnoku kambuh, dan jawabanku entah apa, menguap kemana semua isi skripsiku, dan yang pasti aku merasa suaraku bergetar hahahha,, sampai ketika akan berkata olehnya.. kok aku malah bilang olehna, aku berpikir huruf Y nya kemana ini? Aku ulangi katana, aduhhh kok ngilang sih.. hahaha. akhirnya aku diam, sambil pengen nangis gitu juga, hahaha, maklum gigi juga sakit karena kawatku membuat formasi baru pasca dibuka 2 biji... lah kompleks we, hari itu :D
teori apa yang anda gunakan? tanya pak Prof.
Tarigan pak dan wellek dan Waren. mengapa bukan teori anda? Anda tahu apa itu teori?
Sist bro, aku diam loh ditanya gituh beberapa detik, aku tak mau dong asal bunyi, sambil mikir masa perkuliahan dulu tahun 2011, pak didi yang bilang apa bedanya asumsi sama teori. AKu jawab sambil dagdigdug, "Asumsi yang sudah terbukti kebenarannya pak." "Iya itu teori, tepatnya teori itu itu sesutau yang bisa menjelaskan, menerangkan, terus apalagi ayo?
aku melongo....
"Menemukan.."
bukan itu, "memprediksi!" ucap prof, mungkin jengkel padaku yang belet.. :(
Apa yang anda ketahui tentang kebenaran?
Hah? Ini apa pula?
Jika berjata tentang kebenaran, maka sumber kebenaran yang bersifat postulat adalah kebenaran Tuhan, ucapku datar dan sok tahu, hahahha...
iya itu, benar, dan sumber itu apa?
setelah itu adalah hadist ucapku lagi hahaha..
iya apa itu sumbernya? aku masih aja loading.
"Alquran dong!" ucap prof gereget, hehe peace Pak.
Panjang dan lebar lagi pertanyaan, tentang narasumber skripsiku sastrawan Acep Zamzam Noor, mengapa anda memilihnya? apakah anda memilih be,iau karena anda merasa harus memperkenalkan beliau atay karena masalah?
Karena masalah dilapangan pak, jelasku datar.
bagus, ucap prof lagi.
Ya ALlah untung mulutku gak salah jawabm ya Allah, terima kasih.
Kenapa tidak membuat biografi ANda saja?
Aku tercekat, biografi diriku sendiri? Siapalah aku mah pak, apalah-apalah, jawabku.
Pak Prof marah. Kamu ya, tidak bersyukur, kamu itu.... (bahasa pak prof asalnya anda jadi kamu?) kamu harus syukuran! Jangan pesimis, jangan down, potensi kamu bla... bla... kamu itu pasti banyak yang suka ke kamu... sudahlah skripsi kamu sudah oke, saya mau pesan ke kamu, tanggal 25 Juli saya juga pergi dari kampus, begitu juga kamu, anggap ini petuah ya, kalau jodoh itu jangan standar tinggi.. bla-bla-bla...
Hidup ini mana tahu, nih dua orang ini, mereka gak tahu mulanya akan jadi dosen, ujarnya melirik pak opik dan om P, dia liriknya pada pak Opik, hanya seorang mahasiswa yang suka di masjid ngawurukkan barudak, gak tahau hati saya tersentuh saja dan nawarin dia ngajar di kampus. Tuh hati saya yang bergerak saya gak tahu, itu kehendak Allah... kamu juga...
saya jadi meleleh mendengarnya, banyak yang diceritakan beliau tentang jodohnya, ibu. Dan itu berujung pada pertanyaan penutup, jadi kesimpulan yang tadi saya omongkan apa?
"jangan mencari yang sempurna pak! ucapku polos dan bingung.
Ah kamu, bukan itu... kamu Pidi, apa?
Om Pidi tersenyum sama-sama bingung wajahnya, "Harus saling melengkapi pak, ucapnya mantap.
nah itu: SALING MELENGKAPI!
Sampai saat ini, itu yang aku ingat dari sidangku dengan beliau. Sok ada yang mau nanya, tawar pak prof pada dua asistennya. Pak Opik mengambil buku produkku, ini puisi siapa?
karya peneliti pak,
karya siapa tanya pak prof ingin tahu juga?
Annisa Zahraa pak. jawabku.
Dan om Pidi meledak tawanya, begitu juga pak prof yang memandangku dengan aneh.
Coba bacakan! perintah Pak Opik.
Guys, bayangkan gigiku yang sakit ngomong aja, mesti baca puisi, sumpeh itu mau nangis saja, sambil minta ampun, takut-takut air liurku yang panas keluar bak lahar tak tertahan. Ya Allah...........
Akhirnya kubacakan puisi, dan diujung sesi tepuk tangan untuk tangisku yang tak bisa ditahan, sakit bro! bukan menghayati puisi :(
Setelah ditanya bertubi oleh Pak Opik, gak bertubi juga ketang, pak prof memperlihatkan nilai yang kuperoleh, nih buat kamu, saya berani nagsih dan memperlihatkan ke kamu, sudah tanpa revisi! Aku melongo dan setenagh bahagia juga... sidang itu tak semenyeramkan awalnya. Saat pak prof mempersialkan duduk, dan bertanya, siapa nama Anda?
hah, ini serius nih ucapku sambil degdegan.
Semua aman pada akhirnya.
Keluar dari ruangan sidang, mencari WC, pakai masker lagi.. siap diuji lagi dengan dr. arli dan drs. edi.
______________bersambung dulu ya_______________-
Rabu, 15 April 2015
MAWAPRES: Sekilas Dulu dan Kini (Ada Harapan)
10.20.
Duduk di depan laptop merah. Melihat apa yang akan kubagikan lagi, tentang pemikiran-pemikiran di masa kini di dalam otak yang terbatas.
Saat kemarin menghadiri final mawapres (mahasiswa berprestasi), ada sedikit kenangan tentang satu tahun lalu. Bukan perkataan: bahwa akupun pernah berdiri di sana, dan merasakan gelisah dan kekhawatiran akibat gegap gempita penonton, bukan itu.
Saat memasuki aula, bertemu dengan Ibu Juni dan mengatakan bahwa apapun putusannya, kami pun (waktu itu ada vira) adalah mawapres bagi beliau. Mungkin itu sanjungan yang tepat tak tepat.
Memang, antara 4 kandidat di tahun lalu dan kini ada 3, semua orang selalu saja berbeda. Baik jalan hidup (termasuk prinsip dan sebagainya), skill (kemampuan), maupun pengalamannya (baik di dalam maupun diluar).
Setiap orang selalu dengan ciri khasnya, ada tiga kandidat hari ini yang akan di”bantai” oleh para doktor penguji (calon doktor juga ada). Tiga kandidat itu menampilkan diri dengan kapasitasnya masing-masing. Toh, jika pada akhirnya, setiap pertandingan akan ditunjuk satu yang mewakili sebagai pemenang, itu bukan berarti dua orang dibelakangnya tidak berkualitas. Ketiganya telah menampilkan yang terbaik dari potensi dirinya.
Banyak sekali potensi di seorang manusia, termasuk potensi akal, hati, fisik, dsb. Akan tetapi potensi dalam bidang tertentu itu, Tuhan bagi-bagi, pada passionnya masing-masing. Ada yang unggul di bidang bahasa, bidang akademik, organisasi, karya tulis, pengalaman, dan lain-lain. Allah bagikan itu merata, pada yang bekerja keras dan yang mau belajar.
Mr. D, sesaat setelah mengumumkan siapa yang akan mewakili Tasikmalaya menuju Bandung, menulis sesuatu di dinding grup UPI Tasik. Sebelumnya, saat pengumuman itu, kami menyaksikan betapa galaunya beliau, dan sangat hati-hati dalam menyampaikan juara. Walaupun sebenarnya kami sudah dapat menebak siapa yang akan keluar sebagai pemenang, ada desas desus bahwa 2 finalis mendapat nilai sama, entahlah itu benar atau tidak, nilai kami pun tidak diumumkan dengan jelas. Begini tulisnya (panjang x lebar).
Tulisan Mr. Dindin (Dosen Matematika UPITas; setiap tahun jadi penjaga gawang yang mengumunkan pemenang), waktu mawapres tahun lalu. Intinya adalah bahwa jika saja ke lima orang ini bisa dimerger dalam satu tubuh. Itulah mawapres UPI Tasik yang perfect (katakanlah demikian).
“SELEKSI MAWAPRES TAHUN 2014 BERAKHIR DENGAN TETRA JUARA”
Saya cari-cari tulisan itu di beranda grup VISI MISI UPI 2015. Jika saja tak ada facebook yang bisa menampilkan kapan terjadinya, mungkin sudah lupa. Mawapres tahun lalu, sama-sama dilakukan bulan April.
Sungguh tulisan Mr. Dindin ingin saya kutip, tapi entah kenapa, jadi ingin semuanya saya tulis di sini, boleh ya plagiat pak. Jika tak ditulis berasa tak lengkap.
“Konsep Baru
Duduk di depan laptop merah. Melihat apa yang akan kubagikan lagi, tentang pemikiran-pemikiran di masa kini di dalam otak yang terbatas.
Saat kemarin menghadiri final mawapres (mahasiswa berprestasi), ada sedikit kenangan tentang satu tahun lalu. Bukan perkataan: bahwa akupun pernah berdiri di sana, dan merasakan gelisah dan kekhawatiran akibat gegap gempita penonton, bukan itu.
Saat memasuki aula, bertemu dengan Ibu Juni dan mengatakan bahwa apapun putusannya, kami pun (waktu itu ada vira) adalah mawapres bagi beliau. Mungkin itu sanjungan yang tepat tak tepat.
Memang, antara 4 kandidat di tahun lalu dan kini ada 3, semua orang selalu saja berbeda. Baik jalan hidup (termasuk prinsip dan sebagainya), skill (kemampuan), maupun pengalamannya (baik di dalam maupun diluar).
Setiap orang selalu dengan ciri khasnya, ada tiga kandidat hari ini yang akan di”bantai” oleh para doktor penguji (calon doktor juga ada). Tiga kandidat itu menampilkan diri dengan kapasitasnya masing-masing. Toh, jika pada akhirnya, setiap pertandingan akan ditunjuk satu yang mewakili sebagai pemenang, itu bukan berarti dua orang dibelakangnya tidak berkualitas. Ketiganya telah menampilkan yang terbaik dari potensi dirinya.
Banyak sekali potensi di seorang manusia, termasuk potensi akal, hati, fisik, dsb. Akan tetapi potensi dalam bidang tertentu itu, Tuhan bagi-bagi, pada passionnya masing-masing. Ada yang unggul di bidang bahasa, bidang akademik, organisasi, karya tulis, pengalaman, dan lain-lain. Allah bagikan itu merata, pada yang bekerja keras dan yang mau belajar.
Mr. D, sesaat setelah mengumumkan siapa yang akan mewakili Tasikmalaya menuju Bandung, menulis sesuatu di dinding grup UPI Tasik. Sebelumnya, saat pengumuman itu, kami menyaksikan betapa galaunya beliau, dan sangat hati-hati dalam menyampaikan juara. Walaupun sebenarnya kami sudah dapat menebak siapa yang akan keluar sebagai pemenang, ada desas desus bahwa 2 finalis mendapat nilai sama, entahlah itu benar atau tidak, nilai kami pun tidak diumumkan dengan jelas. Begini tulisnya (panjang x lebar).
Tulisan Mr. Dindin (Dosen Matematika UPITas; setiap tahun jadi penjaga gawang yang mengumunkan pemenang), waktu mawapres tahun lalu. Intinya adalah bahwa jika saja ke lima orang ini bisa dimerger dalam satu tubuh. Itulah mawapres UPI Tasik yang perfect (katakanlah demikian).
“SELEKSI MAWAPRES TAHUN 2014 BERAKHIR DENGAN TETRA JUARA”
Saya cari-cari tulisan itu di beranda grup VISI MISI UPI 2015. Jika saja tak ada facebook yang bisa menampilkan kapan terjadinya, mungkin sudah lupa. Mawapres tahun lalu, sama-sama dilakukan bulan April.
Sungguh tulisan Mr. Dindin ingin saya kutip, tapi entah kenapa, jadi ingin semuanya saya tulis di sini, boleh ya plagiat pak. Jika tak ditulis berasa tak lengkap.
“Konsep Baru
Saya bersyukur sekali bisa menyaksikan
dan terlibat pada seleksi Mawapres 2014 ini. Tahun ini berarti tahun keempat
kita melaksanakan kegiatan tersebut di kampus ini. Tahun ini memang saya
terlibat baik sebagai juri maupun sebagai panitia, tapi hanya tahun kedua dan
ketiga (2012 dan 2013) saya berperan sebagai pembimbing kemahasiswaan. Ketika
tahun 2011 saya mengajukan kepada pimpinan kampus untuk melaksanakan seleksi
Mawapres di tingkat UPI Kampus Tasikmalaya, itu merupakan perjuangan yang
sangat hebat. Sekarang saya bisa tertawa dengan lepas bahwa seleksi Mawapres
akan menjadi tradisi yang hebat di kampus ini.
Sekarang tim panitia semakin lengkap. Dengan pembimbing kemahasiswan yang baru (Pak Resa Respati) dan tim pembina kegatan2 kemahasiswaan lainnya, kegiatan ini bisa lebih meriah tahun ini. Apalagi tahun ini merupakan tahun pertama yang melaksanakan sistem final, gagasan yang kami munculkan supaya kegiatan bisa lebih meriah. Pada dasarnya aspek yang dinilai pada seleksi Mawapres masih sama yaitu : IPK, KTI dan presentasinya, kemampuan berbahasa bahasa Asing dan prestasi ko/eksra kurikuler.
Semua Peserta Perempuan
Tahun keempat pelaksanaan seleksi Mawapres ini, memang ada yang baru seperti tahap final tersebut, tetapi ada hal yang spesial yaitu dari kesembilan peserta semuanya adalah PEREMPUAN. Entah kenapa, mungkin sebagai hampir kebalikan tahun kemarin yang semuanya laki2 kecuali satu orang perempuan. Maka saya acungkan jempol kepada sembilan peserta tersebut karena memang butuh keberanian dan persiapan untuk mengikuti kegiatan ini. Kegiatan seleksi mawapres bukanlah kegiatan instan, tetapi kegiatan yang harus disiapkan semenjak mereka menginjakkan kaki di kampus. Maka saya sampaikan rasa bangga saya kepada kesembilan peserta yaitu : Ade, Eli, Medita, Vira, Eva, Siti Hajar, Widya, Reni dan Aprilia. Selama saya kuliah S1 saya tidak pernah merasakan momen seperti ini, maklum dulu kegiatan Mawapres dilakukan secara tertutup bahkan di tingkat universitas sekalipun.
Finalis dari 3 menjadi 4
Sejak awal panitia telah menetapkan bahwa akan ada 3 orang peserta yang akan masuk ke final. Akan tetapi setelah seleksi tahap awal yang melibatkan 5 orang juri (Pak Yusuf, Bu Seni, Pak Resa, Bu Desi dan saya sendiri) diputuskan bahwa ada 4 orang mahasiswa yang diloloskan ke tahap final. Tahun ini memang lebih sulit mencari juara urutan pertama dan berikutnya karena masing2 punya keunggulan dan kekurangan yang justru kekurangan salah satu peserta menjadi kelebihan peserta lain dengan bobot yang berbeda tetapi sangat tipis. Keempat finalis yang masuk final yaitu : Ade, Eli, Medita dan Vira memiliki keunggulan masing-masing sebagai finalis. Diantaranya ada yang memiliki kelebihan pada karya, inisiatif dan prestasi dalam mengembangkan kegiatan kemahasiswaan di kampus sehingga bisa memberikan inspirasi pada mahasiswa lainnya bagaimana berkiprah di kampus, diantaranya ada yang memiliki jejak rekam prestasi pada kegiatan internasional, diantaranya juga bahkan memiliki performance yang mengesankan ketika menyajikan karya tulis mereka. Andaikan keempat orang bisa digabungkan maka pofil mahasiswa berprestasi sangatlah lengkap
Saya sering menyampaikan bahwa kegiatan Mawapres ini harus berdampak kepada gairah berprestasi di kampus ini terutama bagi angkatan2 berikutnya.
Final yang Berbeda
Panitia memutuskan bahwa untuk tahap final kita akan mengundang juri teatnya panelis yang berbeda, hanya Bu Desi yang tetap diundang karena diharapkan mampu mengeksplorasi kemampuan berbahasa Inggris para finalis. Juri yang lainnya yang diundang adalah Bu Karlimah, Pa Dian, Pak Edi dan Pa Syarif. Kelima panelis final ini diharapkan bisa melihat perbedaan keunggulan para finalis sehingga mampu memilih siapa juara dan yang berhak mewakili ke tahap final di tingkat universitas.
Seperti yang kita saksikan, kegiatan final ini memberikan kejutan2. Pertanyaan dari para panelis sangat menggigit sehingga mampu menunjukkan perbedaan masing-masing finalis. Keunggulan2 masing yang sudah terlihat pada saat penyisihan benar2 mereka tunjukkan disini.
Penentuan juara pada final kali ini adalah berdasarkan penilaian kelima panelis ditambah dengan dengan pilihan dari pimpinan kampus serta juri tahap penyisihan dan panitia yang memiliki hak dan menentukan siapa yang terbaik.
Hasil Terbaik
Pada awalnya siapun yang memiliki hasil pilihan tertinggi dari semua voter, ia akan menjadi juara pertama dan jumlah berikutnya juara 2 dan seterusnya. Akan tetapi di luar dugaan, kami harus memutuskan sesuatu yang berbeda tahun ini dimana kami tidak menentukan juara untuk seleksi Mawapres kali ini. Kami hanya menentukan siapa yang akan mewakili kampus Tasikmalaya di tingkat universitas. Memang keputusan yang sedikit aneh mungkin tapi paling adil karena keempat Finalis ini bisa saja mewakili UPI kampus Tasikmalaya di Bandung. Suara terbanyak yang diperoleh oleh Saudari Medita dari para panelis dan voter yang terdiri dari pimpinan yang hadir dan para juri lain dan panitia mengantarkan ia mewakili kampus UPI Tasikmalaya ke Bandung. Tetapi tetap kami menentukan tidak ada juara 1 dan seterusnya. Saudari Medita memperoleh apresiasi tinggi pada tahap penyajian KTI di final serta kemampuan berbahasa inggris dari 2 orang panelis. Kitapun memiliki 3 juara lainnya : Eli memperlihatkan keunggulan pada bidang kegiatan kemahasiswaan terutama ko/ekstra kurikuler; Ade memperlihatkan keunggulan dalam kegiatan internasional, sementara Vira mempelihatkan gagasan terbaik pada KTI nya yang memiliki topik yang paling sesuai dengan topik Mawapres pada pedoman dari Dikti.
Tapi begitulah akhirnya, keempatnya secara bersamaan menjadi juara atau TetraJuara. Dengan bigitu profil mahasiswa berpretasi ada pada keempat finalis ini ditambahkan dengan para peserta yang lainnya. Andaikan keempat Finalis ini bisa dimerge layaknya file PDF, maka itulah profil terbaik mahasiswa berprestasi UPI Kampus Tasikmalaya yang harus menjadi bancmark pada kegiatan seleksi Mawapres 2015 dan seterusnya.
Saya ucapkan selamat kepada mereka berempat dan semua peserta Mawapres 2014, karena kalian telah menunjukkan bahwa kampus ini ADA untuk menghasilkan mahasiswa berprestasi. Mari kita siapkan bersama-sama wakil kita nanti di Bandung mudah2an bisa menunjukkan prestasi yang membanggakan kampus.
Mempersiapkan Mawapres 2015
Saya ucapkan selamat pula pada Pak Resa, ini merupakan tugas awal yang hebat karena tim panitia Mawapres lebih lengkap dan bertenaga. Kita juga harus menyiapkan Mawapres 2015 supaya lebih baik, dengan persiapan panitia dan peserta lebih baik. Bisa saja ada hal-hal baru. Hal-hal baru yang pernah terlontar adalah bagaimana kalau peserta seleksi Mawapres terdiri dari dua angkatan yaitu tingkat 2 dan 3; serta ada nominasi-nominasi lain mahasiswa berprestasi pada bidang-bidang tertentu seperi bidang seni, keagamaan, dan olahraga. Yang pasti harus lebih rame. Oh iya, tadi juga diusulkan ada tim khusus untuk mengarahkan topik2 pada KTI bagi para calon peserta. Tentunya kegiatan Mawapres ini harus mampu menggerakan kampus dari segala sisi : (1) kegiatan kemahasiswan harus lebih rame, (2) kultur menulis dan kegiatan ilmiah harus semakin intens (Bu Seni menginginkan sekali adal UKM LEPPIM di kampus ini; serta (3) kultur berbahasa inggris/asing sebagai pengantar ilmu pengetahuan juga harus semakin meningkat dengan mengoptimalkan lab bahasa.
Akhirnya, saya sampaikan bahwa saya tidak menyembunyikan rasa bahagia saya bahwa kampus ini semakin bergairah dengan prestasi para mahasiswanya. Semoga tahun depan bisa lebih hebbbatttt. Wassalam.”
Begitulah tulisnya panjang lebar, dan alhasil tulisannya yang mantap itu, mendapat respon yang positif dari dosen lainnya, juga mahasiswa. Termasuk prediksinya untuk mawapres tahun depan. Tapi, semanat dan cita-cita memang membutuhkan kekonsistensian. Saat kemarin mawapres di helat, konsepnya tetap sama, bahkan cenderung apa yang di usulkan pak dadan tahun lalu untuk membuat kategori pemenang mawapres, tak ada.
Apalagi usulan Pak Ghulam, untuk menyiapkan setiap mawapres agar lebih bisa dihargai dan diberikan lahan untuk berkontribusi. Itu baru sekedar ide, buktinya belum bisa dipercaya. Usul Mr. D sendiri agar disiapkan talent scouting, disiapkan calon mawapres menguasai bahasa, tidak terlihat. Ya, semua butuh waktu dan dana, sepertinya.
Tahun ini pun Mr. D seperti biasa menulis, hanya sedikit, tentang definisi mawapres dalam kacamata beliau. Mungkin karena kurang terlibat, tahun ini tulisannya tidak semantap tahun lalu.
Tapi diluar itu, mawapres tahun ini, telah membangkitkan gairah mahasiswa. Tidak bisa dihitung mahasiswa yang hadir, berdesakan, berdiri, dan bertepuk tangan, mengusulkan dan memberi dukungan. Sehari kemarin, UPI Tasikmalaya hidup dengan keilmiahannya. Presentasi ilmiah dari 3 kandidat membuat kami berdecak kagum, apalagi disampaikan dalam b. Asing, yah walaupun kami tidak paham semua isi KTI nya, setidaknya penonton belajar, dan yang penting finalis pun belajar banyak dari hari kemarin. Catatan untuk menutup tulisan ini: Mungkin bisa sidang skripsi dilaksanakan secara terbuka, ini untuk DPS. Agar budaya ilmiah kampus bisa didongkrak, mungkin menakutkan bagi kami mahasiswanya, tetapi semua kenangan itu akan jadi nilai tersendiri, pengalaman berharga yang tak dilupakan seumur hidup kami.
Sekian.
Sekarang tim panitia semakin lengkap. Dengan pembimbing kemahasiswan yang baru (Pak Resa Respati) dan tim pembina kegatan2 kemahasiswaan lainnya, kegiatan ini bisa lebih meriah tahun ini. Apalagi tahun ini merupakan tahun pertama yang melaksanakan sistem final, gagasan yang kami munculkan supaya kegiatan bisa lebih meriah. Pada dasarnya aspek yang dinilai pada seleksi Mawapres masih sama yaitu : IPK, KTI dan presentasinya, kemampuan berbahasa bahasa Asing dan prestasi ko/eksra kurikuler.
Semua Peserta Perempuan
Tahun keempat pelaksanaan seleksi Mawapres ini, memang ada yang baru seperti tahap final tersebut, tetapi ada hal yang spesial yaitu dari kesembilan peserta semuanya adalah PEREMPUAN. Entah kenapa, mungkin sebagai hampir kebalikan tahun kemarin yang semuanya laki2 kecuali satu orang perempuan. Maka saya acungkan jempol kepada sembilan peserta tersebut karena memang butuh keberanian dan persiapan untuk mengikuti kegiatan ini. Kegiatan seleksi mawapres bukanlah kegiatan instan, tetapi kegiatan yang harus disiapkan semenjak mereka menginjakkan kaki di kampus. Maka saya sampaikan rasa bangga saya kepada kesembilan peserta yaitu : Ade, Eli, Medita, Vira, Eva, Siti Hajar, Widya, Reni dan Aprilia. Selama saya kuliah S1 saya tidak pernah merasakan momen seperti ini, maklum dulu kegiatan Mawapres dilakukan secara tertutup bahkan di tingkat universitas sekalipun.
Finalis dari 3 menjadi 4
Sejak awal panitia telah menetapkan bahwa akan ada 3 orang peserta yang akan masuk ke final. Akan tetapi setelah seleksi tahap awal yang melibatkan 5 orang juri (Pak Yusuf, Bu Seni, Pak Resa, Bu Desi dan saya sendiri) diputuskan bahwa ada 4 orang mahasiswa yang diloloskan ke tahap final. Tahun ini memang lebih sulit mencari juara urutan pertama dan berikutnya karena masing2 punya keunggulan dan kekurangan yang justru kekurangan salah satu peserta menjadi kelebihan peserta lain dengan bobot yang berbeda tetapi sangat tipis. Keempat finalis yang masuk final yaitu : Ade, Eli, Medita dan Vira memiliki keunggulan masing-masing sebagai finalis. Diantaranya ada yang memiliki kelebihan pada karya, inisiatif dan prestasi dalam mengembangkan kegiatan kemahasiswaan di kampus sehingga bisa memberikan inspirasi pada mahasiswa lainnya bagaimana berkiprah di kampus, diantaranya ada yang memiliki jejak rekam prestasi pada kegiatan internasional, diantaranya juga bahkan memiliki performance yang mengesankan ketika menyajikan karya tulis mereka. Andaikan keempat orang bisa digabungkan maka pofil mahasiswa berprestasi sangatlah lengkap
Saya sering menyampaikan bahwa kegiatan Mawapres ini harus berdampak kepada gairah berprestasi di kampus ini terutama bagi angkatan2 berikutnya.
Final yang Berbeda
Panitia memutuskan bahwa untuk tahap final kita akan mengundang juri teatnya panelis yang berbeda, hanya Bu Desi yang tetap diundang karena diharapkan mampu mengeksplorasi kemampuan berbahasa Inggris para finalis. Juri yang lainnya yang diundang adalah Bu Karlimah, Pa Dian, Pak Edi dan Pa Syarif. Kelima panelis final ini diharapkan bisa melihat perbedaan keunggulan para finalis sehingga mampu memilih siapa juara dan yang berhak mewakili ke tahap final di tingkat universitas.
Seperti yang kita saksikan, kegiatan final ini memberikan kejutan2. Pertanyaan dari para panelis sangat menggigit sehingga mampu menunjukkan perbedaan masing-masing finalis. Keunggulan2 masing yang sudah terlihat pada saat penyisihan benar2 mereka tunjukkan disini.
Penentuan juara pada final kali ini adalah berdasarkan penilaian kelima panelis ditambah dengan dengan pilihan dari pimpinan kampus serta juri tahap penyisihan dan panitia yang memiliki hak dan menentukan siapa yang terbaik.
Hasil Terbaik
Pada awalnya siapun yang memiliki hasil pilihan tertinggi dari semua voter, ia akan menjadi juara pertama dan jumlah berikutnya juara 2 dan seterusnya. Akan tetapi di luar dugaan, kami harus memutuskan sesuatu yang berbeda tahun ini dimana kami tidak menentukan juara untuk seleksi Mawapres kali ini. Kami hanya menentukan siapa yang akan mewakili kampus Tasikmalaya di tingkat universitas. Memang keputusan yang sedikit aneh mungkin tapi paling adil karena keempat Finalis ini bisa saja mewakili UPI kampus Tasikmalaya di Bandung. Suara terbanyak yang diperoleh oleh Saudari Medita dari para panelis dan voter yang terdiri dari pimpinan yang hadir dan para juri lain dan panitia mengantarkan ia mewakili kampus UPI Tasikmalaya ke Bandung. Tetapi tetap kami menentukan tidak ada juara 1 dan seterusnya. Saudari Medita memperoleh apresiasi tinggi pada tahap penyajian KTI di final serta kemampuan berbahasa inggris dari 2 orang panelis. Kitapun memiliki 3 juara lainnya : Eli memperlihatkan keunggulan pada bidang kegiatan kemahasiswaan terutama ko/ekstra kurikuler; Ade memperlihatkan keunggulan dalam kegiatan internasional, sementara Vira mempelihatkan gagasan terbaik pada KTI nya yang memiliki topik yang paling sesuai dengan topik Mawapres pada pedoman dari Dikti.
Tapi begitulah akhirnya, keempatnya secara bersamaan menjadi juara atau TetraJuara. Dengan bigitu profil mahasiswa berpretasi ada pada keempat finalis ini ditambahkan dengan para peserta yang lainnya. Andaikan keempat Finalis ini bisa dimerge layaknya file PDF, maka itulah profil terbaik mahasiswa berprestasi UPI Kampus Tasikmalaya yang harus menjadi bancmark pada kegiatan seleksi Mawapres 2015 dan seterusnya.
Saya ucapkan selamat kepada mereka berempat dan semua peserta Mawapres 2014, karena kalian telah menunjukkan bahwa kampus ini ADA untuk menghasilkan mahasiswa berprestasi. Mari kita siapkan bersama-sama wakil kita nanti di Bandung mudah2an bisa menunjukkan prestasi yang membanggakan kampus.
Mempersiapkan Mawapres 2015
Saya ucapkan selamat pula pada Pak Resa, ini merupakan tugas awal yang hebat karena tim panitia Mawapres lebih lengkap dan bertenaga. Kita juga harus menyiapkan Mawapres 2015 supaya lebih baik, dengan persiapan panitia dan peserta lebih baik. Bisa saja ada hal-hal baru. Hal-hal baru yang pernah terlontar adalah bagaimana kalau peserta seleksi Mawapres terdiri dari dua angkatan yaitu tingkat 2 dan 3; serta ada nominasi-nominasi lain mahasiswa berprestasi pada bidang-bidang tertentu seperi bidang seni, keagamaan, dan olahraga. Yang pasti harus lebih rame. Oh iya, tadi juga diusulkan ada tim khusus untuk mengarahkan topik2 pada KTI bagi para calon peserta. Tentunya kegiatan Mawapres ini harus mampu menggerakan kampus dari segala sisi : (1) kegiatan kemahasiswan harus lebih rame, (2) kultur menulis dan kegiatan ilmiah harus semakin intens (Bu Seni menginginkan sekali adal UKM LEPPIM di kampus ini; serta (3) kultur berbahasa inggris/asing sebagai pengantar ilmu pengetahuan juga harus semakin meningkat dengan mengoptimalkan lab bahasa.
Akhirnya, saya sampaikan bahwa saya tidak menyembunyikan rasa bahagia saya bahwa kampus ini semakin bergairah dengan prestasi para mahasiswanya. Semoga tahun depan bisa lebih hebbbatttt. Wassalam.”
Begitulah tulisnya panjang lebar, dan alhasil tulisannya yang mantap itu, mendapat respon yang positif dari dosen lainnya, juga mahasiswa. Termasuk prediksinya untuk mawapres tahun depan. Tapi, semanat dan cita-cita memang membutuhkan kekonsistensian. Saat kemarin mawapres di helat, konsepnya tetap sama, bahkan cenderung apa yang di usulkan pak dadan tahun lalu untuk membuat kategori pemenang mawapres, tak ada.
Apalagi usulan Pak Ghulam, untuk menyiapkan setiap mawapres agar lebih bisa dihargai dan diberikan lahan untuk berkontribusi. Itu baru sekedar ide, buktinya belum bisa dipercaya. Usul Mr. D sendiri agar disiapkan talent scouting, disiapkan calon mawapres menguasai bahasa, tidak terlihat. Ya, semua butuh waktu dan dana, sepertinya.
Tahun ini pun Mr. D seperti biasa menulis, hanya sedikit, tentang definisi mawapres dalam kacamata beliau. Mungkin karena kurang terlibat, tahun ini tulisannya tidak semantap tahun lalu.
Tapi diluar itu, mawapres tahun ini, telah membangkitkan gairah mahasiswa. Tidak bisa dihitung mahasiswa yang hadir, berdesakan, berdiri, dan bertepuk tangan, mengusulkan dan memberi dukungan. Sehari kemarin, UPI Tasikmalaya hidup dengan keilmiahannya. Presentasi ilmiah dari 3 kandidat membuat kami berdecak kagum, apalagi disampaikan dalam b. Asing, yah walaupun kami tidak paham semua isi KTI nya, setidaknya penonton belajar, dan yang penting finalis pun belajar banyak dari hari kemarin. Catatan untuk menutup tulisan ini: Mungkin bisa sidang skripsi dilaksanakan secara terbuka, ini untuk DPS. Agar budaya ilmiah kampus bisa didongkrak, mungkin menakutkan bagi kami mahasiswanya, tetapi semua kenangan itu akan jadi nilai tersendiri, pengalaman berharga yang tak dilupakan seumur hidup kami.
Sekian.
Az (16/04/2015)
Minggu, 12 April 2015
Perjalanan Tiada Ujung Az!
Catatan ini sebagai oleh-oleh dari sisa kenangan, diskusi,
dan perjalnan spiritual dan pemikiran dari sejak masuk UPI sampai kemarin di nurul
fikri, cilembang, Bandung 10-12 April 2015.
LDK. Sejak awal masuk UPI, mencari-cari UKM keagamaan, dan tidak ada, waktu itu masih ingat, saya mengechat sebuah akun “kalam divan”. Menanyakan kondisi UKM kerohanian di UPI Bandung. Dan di sana ada, sedikit curhat saya pun menginginkan jika saja di upi tasik ada,, dan akun bernama kalam divan pun (entah siapa adminnya) mendoakan supaya di UPI Tasik pun segera berdiri sebuah UKM keagamaan.
Rupanya percakapan di tingkat 1 itu tidak ada kelanjutannya, doa sekedar doa...
Waktu tingkat 2 sangat tertarik dengan kegiatan dari sebuah program: Tutorial. Seperti sebuah UKM kerohanian, Tutorial bisa mewadahi kegiatan keagamaan, bahkan sempat waktu tingkat 1: PT membuat acara gebyar: UPI islamic Fair. Menghadirkan Oki Setiana Dewi sebagai pemateri dari bedah bukunya, melukis pelangi.
Sebenarnya waktu tingkat 1, ada perekrutan dari organisasi ekstra kampus (KAMMI), ada beberapa kawan yang ikut, walaupun pada mulanya tidak tahu itu merupakan tahap 1 dari kaderisasinya. Sayang sekali, karena banyak halangan bahkan tahun berikutnya tidak bisa ikut. Mungkin juga sudah qodarullah... sehingga Allah membuat saya bisa belajar banyak dari semuanya.
Kegiatan Tutorial adalah pilihan saya satu-satunya untuk mengembangkan minat saya di bidang kerohanian. Mungkin sedikit terlambat, waktu SMA saya bukan anak rohis, jadi ketika ikut tutorial, ada sedikit minder: da aku mah apa. Walau begitu, tetap yakin: kalo mau berubah mah harus kandel beungeut we...
Waktu tingkat 3, saya mulai berpaling. Merasa jenuh, kegiatan Tutorial waktu itu ada kantin, kajian rutin, itu paling. Fokus ke UKM menulis, dan meminta maaf atas ketidakfokusan. Teman-teman yang lain pun sama. Banyak dari senagkatan saya yang mundur perlahan, menjauh dan menjadi tidak aktif. Merasa bersalah juga, karena waktu itu saya terpilih menjadi koordinator akhwat angkatan binder 2011. Harusnya bertanggung jawab atas masalah itu.
Berkecimpung di UKM Menulis berakhir di tahun 2014. Sebelum itu,penghujung 2013 dalam hati saya berazam ingin sepenuhnya mengabdi di Tutorial, di kerohanian.
Kondisi tutorial sendiri tengah berguncang, kegiatan-kegiatan tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan sebagaimana laiknya UKM, kami sadar itu karena status tutorial di dalam kampus hanya sebagai asistensi mata kuliah, yang semua kegiatan harus berdasarkan pada dosen pengampu mata kuliah PAI.
Ketika hendak mengadakan binder 2013, dalam sebuah rapat serius terjadi percakapan. Pada mulanya binder ingin dilaksanakan di Ciando, tetapi pembina menginginkan di dalam kampus, dari masalah itu kami menjadi melek dengan posisi saat ini, tutorial bukan lagi ranah yang bisa mewahai kami, walau bukan hanya itu permasalhannya. Mungkin banyak, entahlah, karena saya sendiri tidak terlalu aktif, tidak tahu banyak yang terjadi antara pembina dan pengurus, sejauh itu yang saya tahu baik-baik saja.
Saat diadakan mUBES, dan terpilih Cecep AH sebgai ketua, terjadi banyak perombakan dalam setruktur. Struktur Tutorial dirampingkan mengacu pada AD dan ART. Kabinet menjadi ramping.
Dan saat MUBES itu, pembina menyampaikan posisi tutorial, dan mendukung pendirian UKM keagamaan. Dan sejak itu mulailah kami membentuk TIM addhock untuk persiapan peluncuran komunitas keagamaan yang “mungkin” akan lebih bmampu mewadahi keinginan kami dengan lebih leluasa.
Tim addhock terdiri drai pengurus tutorial diantaranya: kang ilham, kang rijal, teh asih, teh ai nur (ayay), teh astri, saya sendiri dari tingkat 3, vira, iman, adik tingkat, via, annisa anita, erni, fida, asep, ahmid, dll.
Tim mulai dibagi-bagi, dari koordinator samapai bagian lainnya, ada yang merumuskan ad-art mengacu pada ad art UKDM UPI, ada yang fokus ke syiar membuat akun fb blog dll, ada yang fokus ke atas (menghubungi pejabat UPI Kampus), dan merekrut.
Dari sekian minggu kerja TIM, kami melauncing UKDM dengan sebuah acara yang bisa dibilang “ilegal” karena tidak diketahui siapa pembinanya.
Ketika saya meminta Pak Syarif sebagai pembina, beliau mengatakan tahun ini beliau belum siap, karena tengah membina BAQI, UKM keagaaman yang konsen di baca tulis AL-Quran. Kehadiran BAQI sendiri, meruapakan sesatu yang surprise: kejutan, karena sama sekali kami tidak pernah di ajak atau mungkin diberi tahu. Tidak mengapa, ya kerana sepertinya bibit muda (tingkat 1) akan lebih bisa dikondisikan, dibanding pemain lama. Maaf bahasanya (^^)
Akhirnya dengan prosesi peluncuran balon, dan dihadiri UKM Aksara waktu itu: kita keukeuh launcing UKDM. Walau pun setelah upload foto kegiatan, banyak komentar miring dan sebagainya. Banyak ide muncul dan penentangan, mengapa ada uKDM jika sudah ada tutorial? Mengapa tidak digabungkan? Well, tahu sendiri Tutorial sudah tak bisa lagi wadahi aspirasi kami, dan mengapa tidka digabung, sebenarnya itu pun harapan kami, bisa gabung dengan baqi, tetapi langkah ke sana seolah belum terbuka, terkait masalah namapun, baqi tidak mungkin diangkat sebagai nama UKDM, karena konsentrasinya, jika digabung paling bisa namanya At-Tarbiyah, UKM At-tarbiyah. Nama itu lebih umum untuk menayungi beberapa konsentrasi.
Kajian UKDM yang pertama bersama ustadz, diliput media, hal ini menimbulkan banyak reaksi juga, termasuk pembimbing kemahasiswaan dan beberapa dosen. Walau kajian ini sebelumnya sudah di konfirmasikan ke pembimbing UKDM yang bersedia: Bapak Oyon.
LDK. Sejak awal masuk UPI, mencari-cari UKM keagamaan, dan tidak ada, waktu itu masih ingat, saya mengechat sebuah akun “kalam divan”. Menanyakan kondisi UKM kerohanian di UPI Bandung. Dan di sana ada, sedikit curhat saya pun menginginkan jika saja di upi tasik ada,, dan akun bernama kalam divan pun (entah siapa adminnya) mendoakan supaya di UPI Tasik pun segera berdiri sebuah UKM keagamaan.
Rupanya percakapan di tingkat 1 itu tidak ada kelanjutannya, doa sekedar doa...
Waktu tingkat 2 sangat tertarik dengan kegiatan dari sebuah program: Tutorial. Seperti sebuah UKM kerohanian, Tutorial bisa mewadahi kegiatan keagamaan, bahkan sempat waktu tingkat 1: PT membuat acara gebyar: UPI islamic Fair. Menghadirkan Oki Setiana Dewi sebagai pemateri dari bedah bukunya, melukis pelangi.
Sebenarnya waktu tingkat 1, ada perekrutan dari organisasi ekstra kampus (KAMMI), ada beberapa kawan yang ikut, walaupun pada mulanya tidak tahu itu merupakan tahap 1 dari kaderisasinya. Sayang sekali, karena banyak halangan bahkan tahun berikutnya tidak bisa ikut. Mungkin juga sudah qodarullah... sehingga Allah membuat saya bisa belajar banyak dari semuanya.
Kegiatan Tutorial adalah pilihan saya satu-satunya untuk mengembangkan minat saya di bidang kerohanian. Mungkin sedikit terlambat, waktu SMA saya bukan anak rohis, jadi ketika ikut tutorial, ada sedikit minder: da aku mah apa. Walau begitu, tetap yakin: kalo mau berubah mah harus kandel beungeut we...
Waktu tingkat 3, saya mulai berpaling. Merasa jenuh, kegiatan Tutorial waktu itu ada kantin, kajian rutin, itu paling. Fokus ke UKM menulis, dan meminta maaf atas ketidakfokusan. Teman-teman yang lain pun sama. Banyak dari senagkatan saya yang mundur perlahan, menjauh dan menjadi tidak aktif. Merasa bersalah juga, karena waktu itu saya terpilih menjadi koordinator akhwat angkatan binder 2011. Harusnya bertanggung jawab atas masalah itu.
Berkecimpung di UKM Menulis berakhir di tahun 2014. Sebelum itu,penghujung 2013 dalam hati saya berazam ingin sepenuhnya mengabdi di Tutorial, di kerohanian.
Kondisi tutorial sendiri tengah berguncang, kegiatan-kegiatan tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan sebagaimana laiknya UKM, kami sadar itu karena status tutorial di dalam kampus hanya sebagai asistensi mata kuliah, yang semua kegiatan harus berdasarkan pada dosen pengampu mata kuliah PAI.
Ketika hendak mengadakan binder 2013, dalam sebuah rapat serius terjadi percakapan. Pada mulanya binder ingin dilaksanakan di Ciando, tetapi pembina menginginkan di dalam kampus, dari masalah itu kami menjadi melek dengan posisi saat ini, tutorial bukan lagi ranah yang bisa mewahai kami, walau bukan hanya itu permasalhannya. Mungkin banyak, entahlah, karena saya sendiri tidak terlalu aktif, tidak tahu banyak yang terjadi antara pembina dan pengurus, sejauh itu yang saya tahu baik-baik saja.
Saat diadakan mUBES, dan terpilih Cecep AH sebgai ketua, terjadi banyak perombakan dalam setruktur. Struktur Tutorial dirampingkan mengacu pada AD dan ART. Kabinet menjadi ramping.
Dan saat MUBES itu, pembina menyampaikan posisi tutorial, dan mendukung pendirian UKM keagamaan. Dan sejak itu mulailah kami membentuk TIM addhock untuk persiapan peluncuran komunitas keagamaan yang “mungkin” akan lebih bmampu mewadahi keinginan kami dengan lebih leluasa.
Tim addhock terdiri drai pengurus tutorial diantaranya: kang ilham, kang rijal, teh asih, teh ai nur (ayay), teh astri, saya sendiri dari tingkat 3, vira, iman, adik tingkat, via, annisa anita, erni, fida, asep, ahmid, dll.
Tim mulai dibagi-bagi, dari koordinator samapai bagian lainnya, ada yang merumuskan ad-art mengacu pada ad art UKDM UPI, ada yang fokus ke syiar membuat akun fb blog dll, ada yang fokus ke atas (menghubungi pejabat UPI Kampus), dan merekrut.
Dari sekian minggu kerja TIM, kami melauncing UKDM dengan sebuah acara yang bisa dibilang “ilegal” karena tidak diketahui siapa pembinanya.
Ketika saya meminta Pak Syarif sebagai pembina, beliau mengatakan tahun ini beliau belum siap, karena tengah membina BAQI, UKM keagaaman yang konsen di baca tulis AL-Quran. Kehadiran BAQI sendiri, meruapakan sesatu yang surprise: kejutan, karena sama sekali kami tidak pernah di ajak atau mungkin diberi tahu. Tidak mengapa, ya kerana sepertinya bibit muda (tingkat 1) akan lebih bisa dikondisikan, dibanding pemain lama. Maaf bahasanya (^^)
Akhirnya dengan prosesi peluncuran balon, dan dihadiri UKM Aksara waktu itu: kita keukeuh launcing UKDM. Walau pun setelah upload foto kegiatan, banyak komentar miring dan sebagainya. Banyak ide muncul dan penentangan, mengapa ada uKDM jika sudah ada tutorial? Mengapa tidak digabungkan? Well, tahu sendiri Tutorial sudah tak bisa lagi wadahi aspirasi kami, dan mengapa tidka digabung, sebenarnya itu pun harapan kami, bisa gabung dengan baqi, tetapi langkah ke sana seolah belum terbuka, terkait masalah namapun, baqi tidak mungkin diangkat sebagai nama UKDM, karena konsentrasinya, jika digabung paling bisa namanya At-Tarbiyah, UKM At-tarbiyah. Nama itu lebih umum untuk menayungi beberapa konsentrasi.
Kajian UKDM yang pertama bersama ustadz, diliput media, hal ini menimbulkan banyak reaksi juga, termasuk pembimbing kemahasiswaan dan beberapa dosen. Walau kajian ini sebelumnya sudah di konfirmasikan ke pembimbing UKDM yang bersedia: Bapak Oyon.
Wah tulisan saya jadi kemana-mana. Sejak itulah saya mulai menegmbangkan diri secara penuh ke UKM baru ini. Diposisikan dalam bidang Kajian yang terpisah dari Syiar (biasanya bersatu) menjadi pelajaran yang berarti.
Dari sana saya mulai belajar, bahwa tidak smeua pengetahuan bisa diterima, apalagi jika pengetahuan itu bisa membuat orang lain menjadi ragu akan keyakinannya. Saya sendiri memang suka kajian yang bisa memperbarui iman, tetapi hal ini tentu tidka baik untuk awam.
Di perankan dalam divisi kajian adalah sesuatu yang strategis, dalam divisi ini ditentukan siapa pemateri dan bahasan materi. Ada sebagian ketakutan beberapa orang bahwa UKDM yang baru berdiri ini di boncengi oleh kepentingan satu organisasi eksternal. Tidak ada seperti itu, jika memang ada itu tentu ada sanksi, lagi pula masalah pilihan individu itu diserahkan pada individu yang diajaknya dan mengajaknya. Di UKDM sendiri sebagai divisi kajian, saya berusaha menghilangkan paradigma itu. Maka untuk menguatkan itu, pada ujung tahun 2014, saya belajar mengkaji HTI, puncaknya saya ikut ICMS di Jakarta. Nekad!
Dari sana, saya mengalami sesuatu yang luar biasa. Mulai dari dianggap orang sesat karena (terlihat) masuk HTI, dianggap radikal, dan sebagainya. Sampai-sampai, setiap kali disudutkan. Well, saya pun menjadi dilematis, masa-masa itu sungguh berat, dan membuat saya jengkel orang-orang yang merasa paling benar dengan keyakinan harokah (gerakannya). Tetapi waktu berlalu, saat intinya sudah saya dapat, melalui diskusi dengan pak dindin, pak opik, via dan teh ani kakak tingkat di HTI, saya menghilangkan rasa dilema dan sebagainya. Menetralkannya, dan berusaha jadi manusia yang bermanfaat saja.
Dan dari pengalaman itu, saya belajar lebih bijak tentang gerakan-gerakan islam di tanah air. Seorang dosen mengusulkan saya ikut HMI, agar lebih bisa objektif. Karena KAMMI sendiri, walau bukan anggota atau pengurus, saya orang yang bisa dikatakan simpatisan aktif, acara-acara kammi sering dijadikan sarana menambah ilmu, dan beberapa aksinya yang “mewakili aspirasi saya”, saya ikuti.
Mungkin saat seseorang mengatakan “saya harus berdiri dengan tegas di satu harokah, tidak bisa kaki ini diinjakkan pada dua atau lebih keyakinan.” Ingin juga menjawab, tapi ah senyumin saja, mungkin karena itu pula saya menjadi bagian orang yang Cuma bia ngomong, aslinya tidak aktif dimanapun. Pikiran ini sudah jauh lebih moderat dari yang seharusnya. Dan wadah yang bisa menerima saya dengan keyakinan ini::::, sampai saat ini adalah UKDM.
Di UKDM, saya berteman dengan orang-orang dari berbagai paham, katakan bisa salafi, ikhwan, bahkan yang gak memiliki gerakan, ah saya mah NU saja, gak ngerti nu kararitu, dll.
Di sana, harus dihargai semuanya, tidak boleh ingin terlihat menonjol dsb, walaupun saat jajak pendapat akan terlihat apa yang dikatakan adalah hasil dari pemahamannya.
Wah bahasannya menjadi jauh. Saat kebenaran terus dicari-cari, mencari yang paling benar, yang tersisa hanya kebingungan. Saya tidak mengerti mengapa umat ini tergolong begitu banyak, al-quran menyebutkan sampai 73 golongan, sedangkan yang selamat hanya 1, yakni yang lurus pada wasiat rasul, tali agama ini adalah al-quran dan sunnah.
Saat dihadapkan pada dilema yang lebih problematik, saya menemukan masalah yang menyangkut akidah, bahwa ada nabi yang Allah utus setelah Muhammad, yakni nabi isa, nabi isa sudah turun, begutilah pendapatnya, katakan itu aliran ahmadiyah. Saya ingin menjerit, sekuat-kuatnya, ada juga pemikiran itu ya, lengkap lagi dengan buku-bukunya, dan masih ada orang yang pintar dan sangat pintar baik hati lagi mau mengikuti pemikiran seperti ini. Mengada-ada!
Saya tidak mau mendebat, sudahlah biar Allah saja yang jadi saksi antara kami, sempat terjadi diskusi tetapi hasilnya adalah rasa sesal yang dalam. Allahku, maafkan diri ini, bersitegang satu sama lain bukanlah solusi. Islam itu damai, jika peringatan sudah disampaikan, lakum diinukum wal yadin...
Satu lagi yang membuat pikiran ini menjadi pusing, aliran syiah. Penganar mata kuliah di SPAI tidak cukup untuk memahami syiah. Dimulai dari sejarahnya sampai bahayanya. Buku-buku syiah yang saya temukan di perpustakaan, telah mebuat saya menajdi jengkel juga, saat ada pembedaan perlakuan pada sahabat dan ahlul bait Rasulullah.
Walaupun begitu tetap berusaha mencari “ikan dalam air jernih”. Melihat jika syiah sangat pandai sekali dalam menyusun buku, kadang sepikiran dengan seseorang, kok aliran sesat bisa masif begini, buat bukunya tebal-tebal, welehhhh...
Saat kemarin di Nurul Fikri mengikuti mukhoyyam tarbawi 2, pengetahuan berlimpah ruah. Selama ini problem LDK hanya di dalam kampus, sedang LDK yang lain sudah move on, dan mulai memperhatikan suadara di Palestin bumi syam dan skeitarnya.
Lalu syiah dibedah langsung oleh ahlinya, seorang syeikh yang di datangkan dari Mesir, syeikh Ibrahim, dan terbukalah hijab. Saat ada pertanyaan ciri-ciri syiah yang bisa terlihat oleh mata, syeikh menjawab, orang syiah memandang sholat jumat hanya sunnah. Jadi bisa terlihat orang syiah kadang tidak melakukan sholat jumat, walaupun pada dasarnya ia taat dalam urusan solat. Hah? Kami jadi ingat sesoerang, sambil tersenyum.........
Di Nurul Fikri pun dihadirkan syeikh Mustafa An-Nubany, seorang syeikh dari Palestin. Kami menjadi sadar bahwa umat islam itu satu di seluruh dunia, visi misi kita satu, ah selama ini kami sibuk dnegan persoalan pribadi. Sedih kadang, nasionalisme sempit yang menjadikan kami tak lagi memiliki rasa satu tubuh dan jiwa. Kami hanya peduli dengan diri sendiri. Sedih we pokonamah.
Dari sana memang tak banyak yang dapat diceritakan, seolah jiwa ini terus bergerak, dan kebanggan menjadi seorang muslim terasa sangat dalam, alangkah indah jika perasaan itu dimiliki smeua orang. Islam adalah agama terbaik, agama yang Allah ridhoi. Jangan membuat kebengkokan di dalamnya. Cukuplah agama ini, rahmatan lil alamin. Ya Allah jagalah hati kami.
UKDM ke depan menjadi wahana yang memiliki potensi tersendiri. Terimakasih UPI tasikmalaya. Allah sekolahkan saya di universitas ini dengan hikmah yang luar biasa, saya menjadi banyak belajar, bahkan untuk sesuatu (kehidupan) yang kekal. Allahu akbar, maafkan diri ini.
Terkadang kelelahan dan rasa sakit hati muncul, tetapi jangan pernah berpikir keluar dari jamaah, dan menghindari keterlibatan. UKDM adalah jamaah yang tepat, ayo saling menguatkan. Dakwah tak bisa tegak hanya dengan 1 orang.
Sedikit berbincang dengan beberapa pengurus UKDM baru, UKDM ke depan akan rutin menyalurkan donasi ke Palestin tiap satu bulan sekali, ayo jadilah orang yang memiliki saham atas tegaknya (kembalinya) al-aqso, dan menjadi bidan dari khilafah rasyidah. Allahu Akbar!
Semoga tulisna ini bermanfaat. Maaf nama-anama yang saya sebutkan, maaf juga untuk nama-nama yang tak saya sebutkan, mohon maaf atas segala khilap.
Satu kata penutup ini menjadi pelipur lara saja: Jangan bunuh karakter seseorang dengan membandingkan ia dengan orang lain. Karena setiap orang telah Allah bekali dengan karaker masing-masing. Cukplah Allah jadi penilai. Sebaik-baik manusia di sisi Allah adalah yang bertaqwa.
Penutup untuk diri sendiri sepertinya. Haha yang sudah dibandingkan. Wew ah. Az (13/04/15)
Senin, 06 April 2015
Ingat Biang Kerok Tersayang
Tentang anak didik kita di sekolah. Tentang anak-anak di sekitar kita. Tentang anak kita sendiri. Tentang buah hati yang kita sayangi.....
Seorang umi menulsikan: Saya yakin mereka memiliki cahaya bintang sendiri. Suatu saat dengan izin Allah melalui doa-doa kita, mereka pasti akan memunculkan pendar-pendar prestasinya. Saya hanya ingin anak-anak saya bahagia melalui tahapan usianya.
Begitulah bunda, terkadang saya sebagai seorang ibu (guru) terheran-heran dengan seorang anak. Kok anak ini begitu sulitnya, begitu sukarnya.... tetapi saat mendengar lagi dan membaca lagi kata-kata itu, rasanya adem. Cahaya bintang sendiri, yang akan bersinar tepat pada masanya!
Ketika Allah menitipkan buah hati pada kita, tiadakah kita ingin membuatnya menjadi sosok terbaik melalui cara-cara yang juga baik. Tidak ambisius. Jiwa anak tidak kita pangkas dengan ego tinggi. Anak kita, adalah sebentuk daging terlembut yang senantiasa kita haluskan dengan budi pekerti mulia.
Visiku adalah untuk melahirkan generasi peradaban yang siap menghadapi tantangan zaman. Bismillah, siapapun anak didikku yang akan aku temui, adalah berhak atas cintaku yang mungkin sedikit.
Bismillah. Pejamkan mata, lupakan kata-kata buruk dan penilaian negatif. Fokus pada kebaikan, semangat. Allah tidak pernah melupakanmu, Zahraa.
Az.
Kamis, 02 April 2015
Setelah Menunggu
Hujan telah turun, dan lembah bukit basah. Rumput bergeliat, biji bijian gembira, sebentar lagi, hijau jadi warna dominan.
Aku duduk di depan notebok, menerawang isi hatiku. Apa yang tengah berkecamuk ini? Mengapa rasanya perih sekali? Apa yang tengah terjadi?
Terkadang cerita hidupku yang amat panjang menyiksa sebagaian mimpi yang juga belum kugenapkan.
Ada lagi tentang tulisanku, sebuah novel yang kuendapkan, daun subuh dan gerimis, telah peroleh pencerahan. Akhirnya benar, kutemukan satu titik yang mulanya aku hanya anggap ada di dunia fiksi. Sudah siapkah aku tuliskan lagi?
Aku tak mampu. Tak mampu menuliskannya hari ini, dengan hati yang masih lebam, mungkin 3 bulan nanti akan mulai kurangkai. Tetapi.. buat apa? Buat apa menyimpan sesuatu yang menyakiti pembaca sekalian?
Aku duduk di depan notebok, menerawang isi hatiku. Apa yang tengah berkecamuk ini? Mengapa rasanya perih sekali? Apa yang tengah terjadi?
Terkadang cerita hidupku yang amat panjang menyiksa sebagaian mimpi yang juga belum kugenapkan.
Ada lagi tentang tulisanku, sebuah novel yang kuendapkan, daun subuh dan gerimis, telah peroleh pencerahan. Akhirnya benar, kutemukan satu titik yang mulanya aku hanya anggap ada di dunia fiksi. Sudah siapkah aku tuliskan lagi?
Aku tak mampu. Tak mampu menuliskannya hari ini, dengan hati yang masih lebam, mungkin 3 bulan nanti akan mulai kurangkai. Tetapi.. buat apa? Buat apa menyimpan sesuatu yang menyakiti pembaca sekalian?
Aku harus menarik lagi, hanya jangan terburu-buru menentukan akhirnya, apalagi setelah malam ini kuketahui, bahwa ada semacam "konfirmasi yang belum juga clear".
Mengapa aku pandai sekali bermain peran di sana, dengan tertawa dan berkata ringan-ringan...
Tuhan, jika saja aku bisa meluruskan jalan yang bengkok, aku ingin jalanku tak pernah menyimpang pada hati yang sulit.
Tuhan, jika saja hati ini terlalu lelah, aku memohon padamu kuatkan lagi, hingga akhir nanti, aku tersenyum dan berkata: ini hikmahnya.
Mengapa terkadang ketulusanku akan sesuatu hal seolah tiada artinya sama seklai? apakah ini berarti aku tak pernah tulus?
mengapa terkadang keikhlasanku akan sesuatu hal, seolah tiada harganya? apakah ini memang berarti aku tak pernah benar-benar ikhlas.
Kini dunia seoalh tertutup, aku tak mengijinkan lagi sesuatu merusak duniaku lagi. Mengusik hatiku lagi, tiada yang berhak.
Dan saat hujan telah turun, dan daun mulai bergeliat hijau, aku tak mengenal lagi siapa gerimis yang telah meninggalkanku, atau aku yang tak lagi perduli tentang musim yang akan terus berganti.........
Untuk sebuah kenanagan yang tak ingin dikenang, anakku, ini ibu menulis, dengan sesal yang tak ada dua. Maafkan ibu. Tak akan lagi begini, ini adalah akhir dari kata "aku percaya", tidak ada lagi selain melupakan dan berdiri pada kaki sendiri. Anakku... maafkan ibu.
Mengapa aku pandai sekali bermain peran di sana, dengan tertawa dan berkata ringan-ringan...
Tuhan, jika saja aku bisa meluruskan jalan yang bengkok, aku ingin jalanku tak pernah menyimpang pada hati yang sulit.
Tuhan, jika saja hati ini terlalu lelah, aku memohon padamu kuatkan lagi, hingga akhir nanti, aku tersenyum dan berkata: ini hikmahnya.
Mengapa terkadang ketulusanku akan sesuatu hal seolah tiada artinya sama seklai? apakah ini berarti aku tak pernah tulus?
mengapa terkadang keikhlasanku akan sesuatu hal, seolah tiada harganya? apakah ini memang berarti aku tak pernah benar-benar ikhlas.
Kini dunia seoalh tertutup, aku tak mengijinkan lagi sesuatu merusak duniaku lagi. Mengusik hatiku lagi, tiada yang berhak.
Dan saat hujan telah turun, dan daun mulai bergeliat hijau, aku tak mengenal lagi siapa gerimis yang telah meninggalkanku, atau aku yang tak lagi perduli tentang musim yang akan terus berganti.........
Untuk sebuah kenanagan yang tak ingin dikenang, anakku, ini ibu menulis, dengan sesal yang tak ada dua. Maafkan ibu. Tak akan lagi begini, ini adalah akhir dari kata "aku percaya", tidak ada lagi selain melupakan dan berdiri pada kaki sendiri. Anakku... maafkan ibu.
Az. (2/4/15).
Rabu, 11 Maret 2015
Sedikit Refleksi
Sambil menuliskan ini, saya mendengar ceramah Aa Gym "Menemukan Sang Menantu". Sambil bergetar, mendengarkan bagaimana proses bagaimana beliau memilihkan menantu untuk putrinya. Saya kutip sedikit bagaimana sang anak menyerahkan urusan jodohnya kepada orang tuanya, AaGym menirukan ucapan Icha, "Bapak, Icha mah gak akan nyari
jodoh, biar Allah saja yang menetapkan, syariatnya biar Bapak saja yang
mencari". Hikmah apa yang bisa diambil bila anak menitipkan jodoh pada
orang tuanya? Berikut ini adalah sepenggal cerita K.H. Abdullah
Gymnastiar dalam mencarikan jodoh untuk putri keeempatnya.
Ya Allah, saya menjadi sedih sangat sedih....
Aa mengatakan, ini anak menitipkan jodoh pada bapaknya, yang bapaknya ini kurang ilmu kurang kasih sayang. Bagaimana dengan nasib hamba yang menitipkan jodohnya pada Allah, yang sempurna ilmu dan kasih sayangnya.
Rabb, pernah hati ini salah, dan tergelincir pada keinginan hati yang tak sepantasnya.
Kini segalanya kutitipkan kepada Mu, segala rasa yang ada, segala aib yang tersembunyi, segala nafsu yang menggebu, setiap rindu yang menyiksa, jika semuanya telah Engkau siapkan, hamba ridha dengan segala pilihanMu, kutitipkan segalanya pada Mu, Engkaulah sebaik-baik pemilih, berilah yang terbaik untuk kehidupan akhirat hamba. Rabbku... pilihkanlah yang terbaik.
Jika lembaran kemarin penuh kesalahan, maka hari ini lembaran masih putih.
Hati ini hanya harus yakin, bahwa masa depan yang terbaik akan datang, tetap berkhusnudzon kepada Allah.
Ya Allah, saya menjadi sedih sangat sedih....
Aa mengatakan, ini anak menitipkan jodoh pada bapaknya, yang bapaknya ini kurang ilmu kurang kasih sayang. Bagaimana dengan nasib hamba yang menitipkan jodohnya pada Allah, yang sempurna ilmu dan kasih sayangnya.
Rabb, pernah hati ini salah, dan tergelincir pada keinginan hati yang tak sepantasnya.
Kini segalanya kutitipkan kepada Mu, segala rasa yang ada, segala aib yang tersembunyi, segala nafsu yang menggebu, setiap rindu yang menyiksa, jika semuanya telah Engkau siapkan, hamba ridha dengan segala pilihanMu, kutitipkan segalanya pada Mu, Engkaulah sebaik-baik pemilih, berilah yang terbaik untuk kehidupan akhirat hamba. Rabbku... pilihkanlah yang terbaik.
Jika lembaran kemarin penuh kesalahan, maka hari ini lembaran masih putih.
Hati ini hanya harus yakin, bahwa masa depan yang terbaik akan datang, tetap berkhusnudzon kepada Allah.
Tiada perkara yang luput dari pengetahuanNya.
Semangat calon Ibu Rumah Tangga yang baik, (^^) calon guru SD yang baik, cmiiiwwww!
Semangat calon Ibu Rumah Tangga yang baik, (^^) calon guru SD yang baik, cmiiiwwww!
Senin, 02 Februari 2015
Guru Profesional?
Walaupun aku sepakat bahwa menjadi seorang guru bukan sebuah profesi, tapi meyakini jika guru haruslah profesional, yes banget!
Mejadi guru bukan sekedar cita-cita, melainkan panggilan jiwa, bukan? Aku mulai menghayati peranku, walau hari ini, baru berani duduk di ruang kantor, mendengarkan suara anak-anak, dan terus mengetikkan jari, sembari berkata kata dalam hati.
Menjadi guru harus profesional?
Mataku tertuju pada sebuah banner yang dipajang di ruang guru, tepat dihadapanku. 10 ciri guru profesional.
Mejadi guru bukan sekedar cita-cita, melainkan panggilan jiwa, bukan? Aku mulai menghayati peranku, walau hari ini, baru berani duduk di ruang kantor, mendengarkan suara anak-anak, dan terus mengetikkan jari, sembari berkata kata dalam hati.
Menjadi guru harus profesional?
Mataku tertuju pada sebuah banner yang dipajang di ruang guru, tepat dihadapanku. 10 ciri guru profesional.
coba kupahami satu-satu.
- Selalu punya energi untuk siswanya.
- Punya tujuan jelas untuk pelajaran.
- Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif.
- Punya keterampilan manajemen kelas yang baik.
- Bisa berkomunikasi baik dengan orang tua siswa.
- Punya harapan yang tinggi pada siswanya.
- Pengetahuan tentang kurikulum.
- Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan.
- Selalu memberikan yang terbaik untuk siswa dan proses pengajaran.
- Punya hubungan yang berkualitas dengan siswa.
Bismillah, rupanya ini ciri seorang guru profesional. Belajar dari ahlinya, mereka yang berpengalaman. Semoga banyak mengambil pelajaran dari sini. Niat belajar...karena Allah.
Akakakkaaakk, masih takut sama anak-anak. tidak mau memberi kesan pertama yang buruk, jadi masih belum berani keluar....hahaha.
Minggu, 23 November 2014
Menjadi seorang guru?
Pada mulanya aku membayangkan akan menjadi seorang guru yang
disenangi siswa-siswanya, yang mampu membangkitkan semangat para anak didiknya,
dan bisa menikmati keberhasilan dengan mnyaksikan siswa-siswa sukses menjadi
orang-orang yang berguna dalam hidupnya, baik untuk masyarakat maupun bangsa
serta Negara.
Namun kini, tantangan baru kuhadapi, setelah menceburkan
diri pada sebuah jurusan kuliah bernama pendidikan guru sekolah dasar,
mendapatkan rasa takut yang tak bisa dielakkan. Setelah dijejali berbagai macam
teori pembelajaran, metode, strategi, teknik, pendekatan, dan lain-lain justru
yang tumbuh bukanlah rasa ingin jadi “guru” yang semakin membara tetapi yang
muncul kini adalah “aku takut dan tidak percaya diri” untuk menjadi seorang
guru. Apalagi mendapati kenyataan, anak-anak di sekolah bagaikan
monster-monster kecil yang menyulutkan api perang setiap harinya, menguras
emosi, membuat kepala pusing, dan amarah yang hampir pecah. Dari beberapa kali
praktik mengajar yang kulakukan, tidak ada satupun kegiatan belajara yang
nampak manis dan menyenangkan, akan selalu ada rintangan yang ditimbulkan oleh
manusia kecil bernama “siswa”.
Suatu hari aku bertanya, mungkinkah ini karena praktik mengajar di perkuliahan yang kurang?
Setiap hari kami pergi ke kampus, duduk di kursi dengan manis, mendiskusikan berbagai kemungkinan pembelajaran yang terjadi di dalam kelas yang kelas dan siswa-siswanya hanya adal dalam benak kepala. Lalu mempelajarai berbagai metode, kemudian menerapkannya pada kondisi yang kita tak tahu, beginikah ketika di lapangan? Yang jelas aku hanya melihat bahwa kita terlalu banyak berpikir dalam praktik yang kosong. Melihat kelemahan bahwa perguruan tinggi hanya mengadakana pelatihan mengajar di akhir tahun, saat beberapa bulan lagi akan dinyatakan lulus.
Di belahan Negara lain, lembaga pendidikan “pabrik guru” telah menyadari betapa pentingnya sebuah praktik mengajar bagi seorang calon guru. Mengutamakan praktik berarti telah memberi kesempatan keada seluruh calon guru untuk berpikir ulang “apakah aku benar-benar ingin menjadi seorang guru?”, kenyataan dilapangan bahwa kelak engkau akan menjadi seorang guru dengan siswa yang tidak selalu manis, bahwa inilah yang akan dihadapi. Banyak masalah yang menuntut keningmu untuk mengkerut, bibirmu mengerucut, bahkan matamu meneteskan air. Inilah yang akan kau temui! Adakah masih ingin bertahan untuk menjadi guru dengan optimis dan gigih? Karena dengan menjadi guru, artinya menentukan arah masa depan bangsa. Ibaratnya peran guru adalah seseorang yang sedang lomba marathon di kegelapan, orang tidak peduli, biapun ada yang peduli ia tak menghargai, tapi seorang guru akan terus berlari dan menghargai setiap langkah usahanya, karena ia yakin janji kemenangan di depan sana.
Pelatihan mengajar diadakan di awal tahun, bahkan di setiap bulan, memberikan ruang pada calon guru untuk memahami masalah-masalah yang akan ditemui. Tidak sekedar mengawang-ngawang.
Saya hanya seorang mahasiswa tingkat akhir yang kebetulan berada di jurusan PGSD, lalu mulai meragukan ilmu yang telah dipelajari. Sudah cukupkah ilmu-ilmu ini untuk menjadi bekal saya? Akankah saya mampu menjadi seorang guru? Dengan kapasitas yang saya miliki ini? Sungguh meragukan diri sendiri adalah hal yang sangat mematikan.
Apa yang membuat saya berpikir jika saya tak bisa menjadi seorang guru? Saya mulai mencari alasan untuk setiap masalah tersebut, mencari tahu penyebabnya. Ya, apa yang saya temui ternyata adalah: pengalaman saya tidak nyaman dengan pembelajaran yang saya lakukan.
Baiklah, jika saya tidak nyaman, bagaimana membuat pembelajaran menjadi nyaman untuk diri saya?
Usaha yang paling mungkin adalah saya belajar dari pengalaman orang lain, akhirnya Tuhan menemukan saya dengan sebuah buku yang akhirnya dapat membuka kelopak mata saya untuk memandangi sebuah kejaiban bernama: “Siswa-siswa itu Menyenangkan!”
LouAnne Johnson menulis dengan detail dalam bukunya Pengajaran yang Kreatif dan Menarik, bahwa sebagai seorang guru akan dituntut dalam 3 area: interpersonal, akademik, dan kepemimpinan.
Interpersonal berhubungan dengan kecerdasan komunikasi soerang guru, akademik berhubungan dengan kecerdasan intelektual guru, dan kepemimpinan berhubungan dengan kecerdasan management guru. Bagaimana ketiga aspek tersebut menjadi mutlak untuk guru yang super, excellent, atau good. Menjadi guru yang disukai, tegas, humoris, cerdas, dan diikuti. Bagaimana bisa semua karakter yang saling bertentangan itu harus dimiliki guru? Disukai tapi juga disegani, humoris tapi tegas, bagaimana caranya?
Menghormati diri anda sendiri sebagai guru akan berimplikasi pada penghargaan Anda pada siswa, tidak dikendalikan situasi, tapi ANDALAH YANG mengendalikan SITUASI, bukan menguasai siswa-siswa, tapi anda bisa mengendalikan diri anda sendiri dan kelas anda. Jika ada seseorang yang tidak sopan menginterupsi penjelasan Anda saat sedang seriusnya mengajarkan sebuah teori, mungkin kita akan berteriak, “Zaki diam!” atau “Zaki, duduk!” atau “Zaki, dengarkan Ibu, jika tidak, Ibu keluarkan kamu dari kelas, atau ibu hukum kamu.” Dan serangkain perintah serta ancaman.
Tapi itu justru menjadi tampak menyenangkan untuk siswa, karena tandanya anda tertarik dengan situasi buruk yang diciptakan, untuk itulah kita harus tenang, coba melangkah ke arah Zaki dan memintanya dengan sopan “Zaki, ibu berharap kamu keluar kelas sebentar.” Tanpa jeda, kita bisa membukakan pintu kelas, dan mentapa Zaki dengan tatapan harapan. Ketika Zaki berkenan ia akan melangkah keluar kelas, dan kita bisa berbicara di luar kelas barang satu menit, untuk mengajaknya kerjasama, jika ia bisa belajar di kelas dan artinya bekerjasama dengan kita, ia diperbolehkan masuk, jika ia tetap ingin mengganggu kelas dan berbuat onar, ia akan dikirim ke kantor, atau ruang guru. Biarkan ia berpikir dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Beri tanda, jika ia memutuskan. Misal ketuklah pintu jika ia ingin bergabung. Dan lanjutkanlah pelajaran kita.
Nah, bukankah berat pekerjaan seorang guru? Karena ia tidak hanya memberikan palajaran akademik semata, ia kini menjadi sosok sentral dalam panggung kelas, dituntut menjadi sosok yang disukai dan menjadi inspirasi siswa-siswanya. Bukankah setiap perbuatan dan perkataan guru akan terekam di benak siswa dengan jelas?
Menjadi seorang guru?
Seperti remaja yang baru menginjak dewasa, saya tiba-tiba merasa merindukan sebuah ruangan pribadi, sebuah kamar yang bisa saya dekorasi sekeinginan hati, ya sebuah kamar bernama kelas. Ingin memiliki ruangan sendiri yang bisa saya eksplorasi tanpa campur tangan siapapun, dengan siswa yang beraneka ragam.
Saya mulai membayangkan diri saya berada ditengah-tengah mereka, sebagai sosok baru yang sama sekali tak pernah mereka kenali. Lalu saya mulai berpikir, apa yang saya inginkan? Apakah saya akan benar-benar mengajari mereka? Ilmu apa yang saya miliki sehingga saya berhak mengajari mereka?
“Apa yang saya inginkan dari siswa-siswa saya untuk mereka ketahui ketika mereka meninggalkan kelas?”
Saya ingin siswa-siswa saya memiliki kemampuan akademis yang lebih baik, memiliki rasa yang kuat akan standar-standar etis mereka sendiri, kehausan yang tak pernah puasa pada pengetahuan, hasrat menjadi sukses sesuai definisi sukses mereka, dan kekuatan karakter untuk memperlakukan manusia dengan pengormatan dan harga diri.
Begitulah jawaban Johnson.
Baiklah, kita mulai masuk pada praktik dan teknis yang harus disiapkan oleh seorang guru yang benar-benar ingin menciptakan perubahan. Ini mengingatkan saya, karena sebentar lagi saya harus PLP, dan kemungkinan sekali untuk berhadapan dengan kondisi siswa yang tidak menyenangkan.
Saya menghadiahi benak saya dengan sebuah ruangan kelas dan sejumlah murid.
Baiklah, Ibu Eli, sekarang lakukan persiapan.
Suatu hari aku bertanya, mungkinkah ini karena praktik mengajar di perkuliahan yang kurang?
Setiap hari kami pergi ke kampus, duduk di kursi dengan manis, mendiskusikan berbagai kemungkinan pembelajaran yang terjadi di dalam kelas yang kelas dan siswa-siswanya hanya adal dalam benak kepala. Lalu mempelajarai berbagai metode, kemudian menerapkannya pada kondisi yang kita tak tahu, beginikah ketika di lapangan? Yang jelas aku hanya melihat bahwa kita terlalu banyak berpikir dalam praktik yang kosong. Melihat kelemahan bahwa perguruan tinggi hanya mengadakana pelatihan mengajar di akhir tahun, saat beberapa bulan lagi akan dinyatakan lulus.
Di belahan Negara lain, lembaga pendidikan “pabrik guru” telah menyadari betapa pentingnya sebuah praktik mengajar bagi seorang calon guru. Mengutamakan praktik berarti telah memberi kesempatan keada seluruh calon guru untuk berpikir ulang “apakah aku benar-benar ingin menjadi seorang guru?”, kenyataan dilapangan bahwa kelak engkau akan menjadi seorang guru dengan siswa yang tidak selalu manis, bahwa inilah yang akan dihadapi. Banyak masalah yang menuntut keningmu untuk mengkerut, bibirmu mengerucut, bahkan matamu meneteskan air. Inilah yang akan kau temui! Adakah masih ingin bertahan untuk menjadi guru dengan optimis dan gigih? Karena dengan menjadi guru, artinya menentukan arah masa depan bangsa. Ibaratnya peran guru adalah seseorang yang sedang lomba marathon di kegelapan, orang tidak peduli, biapun ada yang peduli ia tak menghargai, tapi seorang guru akan terus berlari dan menghargai setiap langkah usahanya, karena ia yakin janji kemenangan di depan sana.
Pelatihan mengajar diadakan di awal tahun, bahkan di setiap bulan, memberikan ruang pada calon guru untuk memahami masalah-masalah yang akan ditemui. Tidak sekedar mengawang-ngawang.
Saya hanya seorang mahasiswa tingkat akhir yang kebetulan berada di jurusan PGSD, lalu mulai meragukan ilmu yang telah dipelajari. Sudah cukupkah ilmu-ilmu ini untuk menjadi bekal saya? Akankah saya mampu menjadi seorang guru? Dengan kapasitas yang saya miliki ini? Sungguh meragukan diri sendiri adalah hal yang sangat mematikan.
Apa yang membuat saya berpikir jika saya tak bisa menjadi seorang guru? Saya mulai mencari alasan untuk setiap masalah tersebut, mencari tahu penyebabnya. Ya, apa yang saya temui ternyata adalah: pengalaman saya tidak nyaman dengan pembelajaran yang saya lakukan.
Baiklah, jika saya tidak nyaman, bagaimana membuat pembelajaran menjadi nyaman untuk diri saya?
Usaha yang paling mungkin adalah saya belajar dari pengalaman orang lain, akhirnya Tuhan menemukan saya dengan sebuah buku yang akhirnya dapat membuka kelopak mata saya untuk memandangi sebuah kejaiban bernama: “Siswa-siswa itu Menyenangkan!”
LouAnne Johnson menulis dengan detail dalam bukunya Pengajaran yang Kreatif dan Menarik, bahwa sebagai seorang guru akan dituntut dalam 3 area: interpersonal, akademik, dan kepemimpinan.
Interpersonal berhubungan dengan kecerdasan komunikasi soerang guru, akademik berhubungan dengan kecerdasan intelektual guru, dan kepemimpinan berhubungan dengan kecerdasan management guru. Bagaimana ketiga aspek tersebut menjadi mutlak untuk guru yang super, excellent, atau good. Menjadi guru yang disukai, tegas, humoris, cerdas, dan diikuti. Bagaimana bisa semua karakter yang saling bertentangan itu harus dimiliki guru? Disukai tapi juga disegani, humoris tapi tegas, bagaimana caranya?
Menghormati diri anda sendiri sebagai guru akan berimplikasi pada penghargaan Anda pada siswa, tidak dikendalikan situasi, tapi ANDALAH YANG mengendalikan SITUASI, bukan menguasai siswa-siswa, tapi anda bisa mengendalikan diri anda sendiri dan kelas anda. Jika ada seseorang yang tidak sopan menginterupsi penjelasan Anda saat sedang seriusnya mengajarkan sebuah teori, mungkin kita akan berteriak, “Zaki diam!” atau “Zaki, duduk!” atau “Zaki, dengarkan Ibu, jika tidak, Ibu keluarkan kamu dari kelas, atau ibu hukum kamu.” Dan serangkain perintah serta ancaman.
Tapi itu justru menjadi tampak menyenangkan untuk siswa, karena tandanya anda tertarik dengan situasi buruk yang diciptakan, untuk itulah kita harus tenang, coba melangkah ke arah Zaki dan memintanya dengan sopan “Zaki, ibu berharap kamu keluar kelas sebentar.” Tanpa jeda, kita bisa membukakan pintu kelas, dan mentapa Zaki dengan tatapan harapan. Ketika Zaki berkenan ia akan melangkah keluar kelas, dan kita bisa berbicara di luar kelas barang satu menit, untuk mengajaknya kerjasama, jika ia bisa belajar di kelas dan artinya bekerjasama dengan kita, ia diperbolehkan masuk, jika ia tetap ingin mengganggu kelas dan berbuat onar, ia akan dikirim ke kantor, atau ruang guru. Biarkan ia berpikir dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Beri tanda, jika ia memutuskan. Misal ketuklah pintu jika ia ingin bergabung. Dan lanjutkanlah pelajaran kita.
Nah, bukankah berat pekerjaan seorang guru? Karena ia tidak hanya memberikan palajaran akademik semata, ia kini menjadi sosok sentral dalam panggung kelas, dituntut menjadi sosok yang disukai dan menjadi inspirasi siswa-siswanya. Bukankah setiap perbuatan dan perkataan guru akan terekam di benak siswa dengan jelas?
Menjadi seorang guru?
Seperti remaja yang baru menginjak dewasa, saya tiba-tiba merasa merindukan sebuah ruangan pribadi, sebuah kamar yang bisa saya dekorasi sekeinginan hati, ya sebuah kamar bernama kelas. Ingin memiliki ruangan sendiri yang bisa saya eksplorasi tanpa campur tangan siapapun, dengan siswa yang beraneka ragam.
Saya mulai membayangkan diri saya berada ditengah-tengah mereka, sebagai sosok baru yang sama sekali tak pernah mereka kenali. Lalu saya mulai berpikir, apa yang saya inginkan? Apakah saya akan benar-benar mengajari mereka? Ilmu apa yang saya miliki sehingga saya berhak mengajari mereka?
“Apa yang saya inginkan dari siswa-siswa saya untuk mereka ketahui ketika mereka meninggalkan kelas?”
Saya ingin siswa-siswa saya memiliki kemampuan akademis yang lebih baik, memiliki rasa yang kuat akan standar-standar etis mereka sendiri, kehausan yang tak pernah puasa pada pengetahuan, hasrat menjadi sukses sesuai definisi sukses mereka, dan kekuatan karakter untuk memperlakukan manusia dengan pengormatan dan harga diri.
Begitulah jawaban Johnson.
Baiklah, kita mulai masuk pada praktik dan teknis yang harus disiapkan oleh seorang guru yang benar-benar ingin menciptakan perubahan. Ini mengingatkan saya, karena sebentar lagi saya harus PLP, dan kemungkinan sekali untuk berhadapan dengan kondisi siswa yang tidak menyenangkan.
Saya menghadiahi benak saya dengan sebuah ruangan kelas dan sejumlah murid.
Baiklah, Ibu Eli, sekarang lakukan persiapan.
- Siapkan ruangan Anda, bagaimana tempat duduk Anda dan siswa, situasi ruangan, tempelkan kata-kata motivasi, dekorasi ruangan dengan cat yang menyenangkan, tanam pohon palm palsu di sudut ruangan, gelar karpet lembut di sana, dan pastikan sepatu siswa disimpan di rak di sudut ruangan. Siapkan perlengkapan belajar sampai kesehatan, kotak “alat tulis boleh pinjam”, dan jangan lupa percayakan pembagian tugas untuk menjaga apa yang telah anda susun ke beberapa siswa.
- Buatlah agenda harian yang akan anda tempelkan di papan tulis, jika perlu buatlah agenda semester. Buat kalender kelas, beri tanda, kapan ujian, kapan kuis, kapan hari libur, kapan hari special kelas, bahkan kapan ulang tahun siswa-siswa Anda. Biarkan kalender itu dipasang di dinding kelas, dan siswa Anda mampu membacanya, buatlah pengumuman atau memo, tiga hari sbeelum ujian, agar anak-anak Anda mempersiapkan dirinya.
- Pada hari pertama Anda mengajar bu Eli, tidak perlu memulai dengan aturan yang justru akan membuat siswa kecut, fokuslah dengan merengkuh siswa-siswa melalui otak interaktif mereka. Dapatkan pegangan yang kuat. Akan ada banyak waktu untuk menyampaikan aturan.
----------------------------------------------
Pastikan setelah memenuhi persiapan, jadikan minggu pertama
PLP menjadi minggu utama.
Hari pertama mulai dengan senyuman, pilihlah kegiatan sederhana namun cukup menarik, missal membuat kartu nama model tenda untuk diletakkan di meja belajar mereka. Sediakan kartu indeks dan spidol warna, biarkan siswa menulis namanya sendiri-sendiri. Atau menuliskan nama-nama mereka, lalu secara acak menyimpan nama-nama tersebut pada kursi yang harus mereka duduki. Atau meminta mereka menuliskan belajar seperti apa yang mereka inginkan, cita-citanya, dan masalahnya.
Jangan dilupakan, pakaian, cara berbicara, intonasi, volume suara, pilihan kata, dan terutama ekspresi wajah.
(Tulisan untuk siap-siapa PLP. Az.)
Hari pertama mulai dengan senyuman, pilihlah kegiatan sederhana namun cukup menarik, missal membuat kartu nama model tenda untuk diletakkan di meja belajar mereka. Sediakan kartu indeks dan spidol warna, biarkan siswa menulis namanya sendiri-sendiri. Atau menuliskan nama-nama mereka, lalu secara acak menyimpan nama-nama tersebut pada kursi yang harus mereka duduki. Atau meminta mereka menuliskan belajar seperti apa yang mereka inginkan, cita-citanya, dan masalahnya.
Jangan dilupakan, pakaian, cara berbicara, intonasi, volume suara, pilihan kata, dan terutama ekspresi wajah.
(Tulisan untuk siap-siapa PLP. Az.)
Senin, 18 Agustus 2014
Ibu, Maafkan Anakmu.
Bahagia itu teramat sederhana...
Ketika rasa syukur dan sabar senantiasa dijadikan senjata paling teruji disetiap kondisi dan situasi.
Sahabat, tahukah kita bahwa: Ketika kita mempercayai sebuah prinsip, maka Allah akan mengujinya, apakah kita sungguh-sungguh terhadap prinsip yang kita yakini tersebut atau hanya sekedar basa-basi? Begitullah Allah menyatakan, "Apakah mereka kira bahwa Kami akan membiarkan mereka setelah mereka menyatakan beriman? Sungguh kami akan mengujinya dengan kebaikan dan keburukan, untuk melihat siapakah yang beriman dengan sungguh-sungguh?"
Maka hari Jumat lalu, tepat 1 Agustus yang menjadi memoriku... tahun ini.. tiada kuduga... Allah mengujiku dengan kebaikan. Dan bertambahlah kebahagiaanku, satu persatu...
Embun yang kujaga agar tak tumpah, hari ini jatuh menetes ke tanah, bersatu bersama ribuan dan milyaran tetes lainnya. Menuju alam yang tak tiada terbayangkan kedahsayatannya dan ke"rahasiaannya."
Malam ini malam kedua, dan langit malam kutengok, tiada lagi sabit, tiada lagi rembulan, gerimis malam membasahi wajahku yang tengadah...
Ku harap doa-doaku tak sekelam itu, dan karena hatiku tengah bahagia, tolong... tentramlah damailah malam...
Seperti biasa... setelah jariku tak lagi lelah, aku mulai mengingat, jika harus ada kenangan yang mesti kurapihkan bersama serpihan hikmahnya, yang mesti kubagi agar manusia semua mengerti... jika"dari perpisahan kita harus belajar menghargai kebersamaan"...
Kumulai dari mana cerita ini?
Kumulai dari tiga hari lalu saja, selesai makan takjil dan solat magrib, aku baru ingat untuk mengecek handphone. Ya ada banyak panggilan tak terjawab, dan 2 pesan masuk. dari nomor yang sama bertuliskan "Ema". Ku cek pesan masuknya, bertuliskan, "El ema..." dan "El, ema sakit."
Dengan tangan yang bergetar aku mulai merasa sangat gigil dan khawatir, lalu ku telpon balik... suara disana terdengar terisak, dan aku sengaja me-loudspeaker-kan panggilan, agar semua orang rumah tahu, tanpa aku harus menjelaskan, ibu bapak turut mendengar... dan aku mengatakan "teteh, insya Allah, eli ke Tasik Esok hari."
Namun, ada yang sangat menyakitkan dihati dengan berkata seperti itu, ini adalah hari ke-empat bulan syawal... dan aku sama sekali belum sempat meraih tangan ema untuk kucium dan kusesap baunya, atau kupeluk tubuhnya dan merasakan wangi keringatnya...lalu kuminta ridhonya, aku belum melakukan itu.... belum sama sekali.. dan airmataku jatuh-jatuh-perlahan...
Aku sadar, aku harus kuat, perut yang belum kuisi, kupaksa untuk kumasukan tiga sampai enam suapan. Dan rasa asin airmata menyatu di dalam mulutku. Aku ingin terbang saja ke emak, dan sampai dalam hitungan detik. Tapi, ternyata aku tak punya sayap.... lalu sambil megunyah, kuraih telpon genggam dan mencoba hubungi kakak satu lagi yang membersamai emak berangkat ke Rumah Sakit.
"Hallo, teteh lagi dimana sekarang?"
"Teteh di Cibodas El, yang ada pabrik Daiki.. macet,"
"Emak mau di rujuk ke RS mana?"
"Gak tahu el, mau ke dokter Dadan dulu yang belakang masjid agung, dokter dalam, atau ke RSU ya..."
"teteh coba langsung saja ke RSU, biar ditangai langsung sama yang jaga..."
"Oh, iya El.."
dan.. percakapan itu membulatkan keputusanku.. aku ingin malam ini juga ke sana...
Ketika rasa syukur dan sabar senantiasa dijadikan senjata paling teruji disetiap kondisi dan situasi.
Sahabat, tahukah kita bahwa: Ketika kita mempercayai sebuah prinsip, maka Allah akan mengujinya, apakah kita sungguh-sungguh terhadap prinsip yang kita yakini tersebut atau hanya sekedar basa-basi? Begitullah Allah menyatakan, "Apakah mereka kira bahwa Kami akan membiarkan mereka setelah mereka menyatakan beriman? Sungguh kami akan mengujinya dengan kebaikan dan keburukan, untuk melihat siapakah yang beriman dengan sungguh-sungguh?"
Maka hari Jumat lalu, tepat 1 Agustus yang menjadi memoriku... tahun ini.. tiada kuduga... Allah mengujiku dengan kebaikan. Dan bertambahlah kebahagiaanku, satu persatu...
Embun yang kujaga agar tak tumpah, hari ini jatuh menetes ke tanah, bersatu bersama ribuan dan milyaran tetes lainnya. Menuju alam yang tak tiada terbayangkan kedahsayatannya dan ke"rahasiaannya."
Malam ini malam kedua, dan langit malam kutengok, tiada lagi sabit, tiada lagi rembulan, gerimis malam membasahi wajahku yang tengadah...
Ku harap doa-doaku tak sekelam itu, dan karena hatiku tengah bahagia, tolong... tentramlah damailah malam...
Seperti biasa... setelah jariku tak lagi lelah, aku mulai mengingat, jika harus ada kenangan yang mesti kurapihkan bersama serpihan hikmahnya, yang mesti kubagi agar manusia semua mengerti... jika"dari perpisahan kita harus belajar menghargai kebersamaan"...
Kumulai dari mana cerita ini?
Kumulai dari tiga hari lalu saja, selesai makan takjil dan solat magrib, aku baru ingat untuk mengecek handphone. Ya ada banyak panggilan tak terjawab, dan 2 pesan masuk. dari nomor yang sama bertuliskan "Ema". Ku cek pesan masuknya, bertuliskan, "El ema..." dan "El, ema sakit."
Dengan tangan yang bergetar aku mulai merasa sangat gigil dan khawatir, lalu ku telpon balik... suara disana terdengar terisak, dan aku sengaja me-loudspeaker-kan panggilan, agar semua orang rumah tahu, tanpa aku harus menjelaskan, ibu bapak turut mendengar... dan aku mengatakan "teteh, insya Allah, eli ke Tasik Esok hari."
Namun, ada yang sangat menyakitkan dihati dengan berkata seperti itu, ini adalah hari ke-empat bulan syawal... dan aku sama sekali belum sempat meraih tangan ema untuk kucium dan kusesap baunya, atau kupeluk tubuhnya dan merasakan wangi keringatnya...lalu kuminta ridhonya, aku belum melakukan itu.... belum sama sekali.. dan airmataku jatuh-jatuh-perlahan...
Aku sadar, aku harus kuat, perut yang belum kuisi, kupaksa untuk kumasukan tiga sampai enam suapan. Dan rasa asin airmata menyatu di dalam mulutku. Aku ingin terbang saja ke emak, dan sampai dalam hitungan detik. Tapi, ternyata aku tak punya sayap.... lalu sambil megunyah, kuraih telpon genggam dan mencoba hubungi kakak satu lagi yang membersamai emak berangkat ke Rumah Sakit.
"Hallo, teteh lagi dimana sekarang?"
"Teteh di Cibodas El, yang ada pabrik Daiki.. macet,"
"Emak mau di rujuk ke RS mana?"
"Gak tahu el, mau ke dokter Dadan dulu yang belakang masjid agung, dokter dalam, atau ke RSU ya..."
"teteh coba langsung saja ke RSU, biar ditangai langsung sama yang jaga..."
"Oh, iya El.."
dan.. percakapan itu membulatkan keputusanku.. aku ingin malam ini juga ke sana...
Sahabat, intusi itu benar-benar ada.. dan kabar dari hati ke
hati memang ada...
Pukul dua sinagnya, selesai mengerjakan laporan KKN, kepalaku terasa pening.. dan aku berusaha untuk menidurkannya sebentar, walau terus saja tak terpejam, kulirik jam 14.30. Lalu aku mulai bersungguh-sungguh minta kepada Allah agar sebentar saj amenidurkan diriku, sambil membaca surat al-ikhlas, akhirnya aku tertidur.... pulas!
Dan suara BBM masuk mengagetkanku, seketika bangun dengan mata terkejut dan hati yang berdebar, dan kulirik jam 16.15, aku terperanjat karena belum solat Asar. Namun ingatan mimpi itu lebih terasa mengagetkanku...pula...
Lalu aku cepat mengambil wudhu, solat dan mengambil Al-Quran, kau tahu sebelum sempat ku baca Quran, tiba-tiba airmataku jatuh sangat deras, sangat deras, sampai cegukkan, karena sebuah mimpi tadi..
Aku bermimpi sangat panjang tentang keluarga asliku, keluarga yang darahnya mengalir menjadi darahku, Aku bermimpi... memanen singkong, lalu pulang ke rumah, lalu mendapati kakak perempuanku yang sulung sakit parah, lalu saudaraku yang lain bercerai, lalu Emaku bersedih, lalu kudapati pula keluarga angkatku tengah bertengkar hebat satu sama lain, dan aku berjalan keluar rumah seketika itu pula telah berada di rumah yang dulu semasa kecilku, saat perpisahanku dengan keluarga asliku belum terjadi.. dan aku melihat sesuatu, diatas langit sebelah barat.... sesuatu ajaib dilangit sana.. sangat terang ya sangat terang, bercahaya, kulihat matahari di sebelah barat ada tiga. lalu aku bertakbir, oh kiamtkah ini.. kimatkah ini..!!!
Namun ketika itu ada yang mengingatkanku, "Coba kau perhatikan baik-baik Eli, itu yang terang bukanlah matahari.. melainkan bulan, matahari dan palanet lain.. mirif sekali dengan planet bumi.."tuturnya.
Aku begitu tenang mendengarnya.. dan cahaya dari ketiga bintang itu menyebar...
kemudian entah kemana lagi jiwaku melayang, karena tiba-tiba aku merasa ada di sebuah perjalanan, dan menjadi musafir dari seseorang yang tak kukenali berada di depanku, orang itu memusuhiku, dan tiba-tiba aku merasa bisa mejadikan orang itu baik... ya, memberikan singkong yang ku panen untuknya. Ia tersenyum dan mengabarkan kedatanganku. lalu ada seseorang lain mengingatkanku, "Eli, katanya mau ke Pesantren.. ayo sekarang berangkat!"
Ah aku ingat, jika aku belum menjenguk kakakku yang sakit atau sekedar menemaninya.. dan aku menolak, "Sebentar ya aku jenguk dulu, nanti nyusul deh!"
dan orang itu bilang, "iya sok atuh, diantosnya..."
Dan aku menjenguk kakakku yang sakit tadi, di kamar, dan betapa perih hatiku menyaksikannya sangat terluka.... dan terbangunlah...
Pukul dua sinagnya, selesai mengerjakan laporan KKN, kepalaku terasa pening.. dan aku berusaha untuk menidurkannya sebentar, walau terus saja tak terpejam, kulirik jam 14.30. Lalu aku mulai bersungguh-sungguh minta kepada Allah agar sebentar saj amenidurkan diriku, sambil membaca surat al-ikhlas, akhirnya aku tertidur.... pulas!
Dan suara BBM masuk mengagetkanku, seketika bangun dengan mata terkejut dan hati yang berdebar, dan kulirik jam 16.15, aku terperanjat karena belum solat Asar. Namun ingatan mimpi itu lebih terasa mengagetkanku...pula...
Lalu aku cepat mengambil wudhu, solat dan mengambil Al-Quran, kau tahu sebelum sempat ku baca Quran, tiba-tiba airmataku jatuh sangat deras, sangat deras, sampai cegukkan, karena sebuah mimpi tadi..
Aku bermimpi sangat panjang tentang keluarga asliku, keluarga yang darahnya mengalir menjadi darahku, Aku bermimpi... memanen singkong, lalu pulang ke rumah, lalu mendapati kakak perempuanku yang sulung sakit parah, lalu saudaraku yang lain bercerai, lalu Emaku bersedih, lalu kudapati pula keluarga angkatku tengah bertengkar hebat satu sama lain, dan aku berjalan keluar rumah seketika itu pula telah berada di rumah yang dulu semasa kecilku, saat perpisahanku dengan keluarga asliku belum terjadi.. dan aku melihat sesuatu, diatas langit sebelah barat.... sesuatu ajaib dilangit sana.. sangat terang ya sangat terang, bercahaya, kulihat matahari di sebelah barat ada tiga. lalu aku bertakbir, oh kiamtkah ini.. kimatkah ini..!!!
Namun ketika itu ada yang mengingatkanku, "Coba kau perhatikan baik-baik Eli, itu yang terang bukanlah matahari.. melainkan bulan, matahari dan palanet lain.. mirif sekali dengan planet bumi.."tuturnya.
Aku begitu tenang mendengarnya.. dan cahaya dari ketiga bintang itu menyebar...
kemudian entah kemana lagi jiwaku melayang, karena tiba-tiba aku merasa ada di sebuah perjalanan, dan menjadi musafir dari seseorang yang tak kukenali berada di depanku, orang itu memusuhiku, dan tiba-tiba aku merasa bisa mejadikan orang itu baik... ya, memberikan singkong yang ku panen untuknya. Ia tersenyum dan mengabarkan kedatanganku. lalu ada seseorang lain mengingatkanku, "Eli, katanya mau ke Pesantren.. ayo sekarang berangkat!"
Ah aku ingat, jika aku belum menjenguk kakakku yang sakit atau sekedar menemaninya.. dan aku menolak, "Sebentar ya aku jenguk dulu, nanti nyusul deh!"
dan orang itu bilang, "iya sok atuh, diantosnya..."
Dan aku menjenguk kakakku yang sakit tadi, di kamar, dan betapa perih hatiku menyaksikannya sangat terluka.... dan terbangunlah...
Mimpi ini sangat mempengaruhiku, amat sangat membawa
firasatku.
Lalu ku telpon kakak angkatku, "A dimana? Ema sakit, aku mau ke sana sekarang."
Kakakku menjawab "otw".
Dengan sisa tenagaku, aku berkeinginan sekeras baja untuk pergi malam ini juga, namun motornya masih dibawa kakak. Oke, kita packing dulu...
Lalu ku sms kakak, "Insya Allah eli ke sana jam 7-an teh, ketemu di RSU ya."
Lalu ku telpon kakak angkatku, "A dimana? Ema sakit, aku mau ke sana sekarang."
Kakakku menjawab "otw".
Dengan sisa tenagaku, aku berkeinginan sekeras baja untuk pergi malam ini juga, namun motornya masih dibawa kakak. Oke, kita packing dulu...
Lalu ku sms kakak, "Insya Allah eli ke sana jam 7-an teh, ketemu di RSU ya."
Dan ketika kakak datang, terjadi sedikit perbincangan sengit
diantara kami. Ibu khawatir, dan beliau tak ijinkan aku membawa motor
malam-malam, kondisi jalanan macet, dan mataku yang sedikit rabun, juga
perasaanku yang tak baik, membuatnya sangat cemas..
Akhirnya selepas isya, ibu berkeputusan kakak angkatku akan mengantarku, dan Ibu Bapak serta tetangga kerabat menyusul kemudian.
Bismillah, dengan mata yang basah, dengan malam yang dingin, dengan sabit yang menggantung, dan dengan isakan aku berangkat. membayangkan wajah Ema, membuatku teramat rindu, dan takut, aku takut kehilangan... Lalu kuingat kekuatan doa, seketika itu juga kuketikan permohonan doa, di wall fb akun “Annisa Zahraa” agar ibuku sehat dan sembuh….
rasanya jiwaku telah sampai, dan lalu memeluk Ema, tapi ternyata kondisi jalan begitu membuatku kadang terpejam, karena sesak. Tepat jam 21.05 aku sampai di pintu masuk RSU. Kulihat dua kakakku menanti dengan air mata yang mengalir, dan kusapa, "mengapa menangis? harus kuat ya," hahahha,,, aku pembohong, rupanya aku harus bersandiwara untuk terlihat "kuat". Padahal hati sendiri hancur berkeping-keping….
"Mana Emak?"
"Di IGD, El,"
Aku masuk, dan tak kudapati, dimana beliau, lalu aku kembali keluar, "mana kok gak ada?"
Ternyata emak sedang di CT-Scan, bersama saudara laki-laki. Dan aku tunggu 5 menit, dan masuk kembali ke IGD, masya Allah, dan airmataku benar-benar jatuh, dan kakiku hampir lumpuh, dan tanganku gemetar, aku tersedak sampai ulu hati...
Emak,,, aku berusap perlahan, namun hatiku berteriak sangat keras, menjerit sekuat-kuatnya....
Akhirnya selepas isya, ibu berkeputusan kakak angkatku akan mengantarku, dan Ibu Bapak serta tetangga kerabat menyusul kemudian.
Bismillah, dengan mata yang basah, dengan malam yang dingin, dengan sabit yang menggantung, dan dengan isakan aku berangkat. membayangkan wajah Ema, membuatku teramat rindu, dan takut, aku takut kehilangan... Lalu kuingat kekuatan doa, seketika itu juga kuketikan permohonan doa, di wall fb akun “Annisa Zahraa” agar ibuku sehat dan sembuh….
rasanya jiwaku telah sampai, dan lalu memeluk Ema, tapi ternyata kondisi jalan begitu membuatku kadang terpejam, karena sesak. Tepat jam 21.05 aku sampai di pintu masuk RSU. Kulihat dua kakakku menanti dengan air mata yang mengalir, dan kusapa, "mengapa menangis? harus kuat ya," hahahha,,, aku pembohong, rupanya aku harus bersandiwara untuk terlihat "kuat". Padahal hati sendiri hancur berkeping-keping….
"Mana Emak?"
"Di IGD, El,"
Aku masuk, dan tak kudapati, dimana beliau, lalu aku kembali keluar, "mana kok gak ada?"
Ternyata emak sedang di CT-Scan, bersama saudara laki-laki. Dan aku tunggu 5 menit, dan masuk kembali ke IGD, masya Allah, dan airmataku benar-benar jatuh, dan kakiku hampir lumpuh, dan tanganku gemetar, aku tersedak sampai ulu hati...
Emak,,, aku berusap perlahan, namun hatiku berteriak sangat keras, menjerit sekuat-kuatnya....
Sosok yang lembut, yang basa menyambutku dengan pelukan,
yang mengantarkanku dengan tatapan dan doa-doa, kini terbujur dengan berbagai
macam bantuan medis. Selang oksigen, selang makanan yang menjejali hidung, juga
selang untuk beliau pipis.
Ibuku, koma, dan aku tak bisa lagi menatap cahaya dari matanya yang terpejam. aku menyesal,,,, sangat menyesal tak pergi ke emak selepas idul fitri, oh... asatgfirullah ingat Eli, ini sudah takdir Allah.. akhirnya dengan sisa isak, aku mendekat dan mencium kening Ema yang sedikit panas.
Ema, lirihku di dekat telinganya. Ini Eli, Mak! Eli datang, emak kuat ya? kataku sambil terisak..
Ini adalah pengalamn pertama emak masuk rumah sakit...
Dan oleh karenanya, ini sangat membuatku khawatir dan cemas...
Malam itupun, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tak tidur, aku terus menggenggam tangan emak yang sekali-kali terlihat kejang.. dan aku merasa mati rasa, aku merasa ini bagian mimpi.. ini mimpikan?
Senin kemarin, selesai solat idul fitri, aku menelpon beliau, dan suara beliau tak begitu jelas, putus-putus, saling berlepas salah dosa, dan menanyakan kapan anaknya ini akan menemuinya. Dan kujawab tanggal 1 Agustus ma.. dan emak diam. Lalu kutanyakan kesehatannya, beliau mengeluh pusing, dan aku berkata untuk tetap sabar dan berhati-hati mengkonsumsi makanan, karena memang idul fitri baisaya banyak makanan yang berpotensi membuat darah tinggi emak naik.
Kemudian karena pulsaku habis, telpon terputus....
Ah, kini beliau tak berdaya, dihadapanku, seolah tertidur pulas...
"Emak, empat hari berjuang menguatkan dirinya, untuk bertahan agar mampu menatapku kah? Betapa berdosa diri ini.. Rabb ampunilah..
Entah bagaimana perasaanku begitu harus menjadi KUAT. aku harus optimist, saat dokter jaga mengingatkan, agar aku tak meninggalkannya, dan memperhatikan detak jantungnya.. aku marah, ya sedikit marah. Oke, Emak akan sembuh kok, ya ingat emak akan sembuh, bukankah Allah maha penyembuh. Show must gone!
Harapan-harapan itu tertumpah dalam doa, dan ayat-ayat yang terus-menerus ku bacakan sengaja didekat telinga beliau, ya teruatama juz 29, karena beliau hafal surat-suaratnya, siapa tahu jiwanya mendengar dan lalu kita bersama membaca J
Aku tetap saja tertidur, sesak jiwaku tak bisa lagi ditahan, aku mengabarkan sakit ema pada semua orang yang sangat penting, yang berada di kotak hp ku. Lalu saat pagi-pagi dan kutengok keadaan emak tak siuman-siuman juga. AKhirnya kita mulai bisa pindah ke kamar, karena itulah dengan sangat menyesal….
Aku pulang dulu ke rumah kostan, untuk solat subuh dan juga membawa perlengkapan pindah kamar.. seprai tidur, karpet, kaos kaki, makanan, mukena, dll…
Dan siangnya tak ada perubahan yang cukup berarti, dan emak tak kunjung siuman. saat pagi itu, emak berbusa, dan malam itu juga… demamnya yang tadi siang menurun, kini naik kembali, sehingga saat keningnya ku raba, bak terasa sangat sangat panas.
Ah….. harapanku masih begitu tinggi, aku masih optimis.
Namun, rasanya ini terlalu egois, oleh sebab itu ketika kumandang magrib bergema, dan aku ingin memurnikan hatiku… dan kuikhlaskan semuanya… Jika kepergian emak adalah kebahagiaan untuk beliau dan jalan Allah yang telah digariskan sebagai wujud kasih sayangNya, maka aku ikhlas Tuhan… karena di dunia ini pun begitu banyak yang membebaninya.. dan aku tak sanggup membhagiakannya, dan karena hanya Allah yang bisa dan akan membahagiakannya. Aku ridho ya Allah, karena semua ini hanya titipan, begitu pula dengan orang tua…
Dan setelah isya, aku berkata: aku masih ingin duduk didekatnya membacakan surat-surat penyembuh, dan mengakhirkan solat isyaku. Menanti jam 9, waktunya ema minum obat. Jam 08.20 aku merasa harus solat isya sekarang, lalu kuperbarui wudhuku, dan akan mulai solat, namun jam menunjukkan waktunya dimana aku harus memberi ema susu sebagai makanan sebelum minum obat, aku mengambil dulu obat dari kotak dan mengeluarkannya, mana saja yang harus di lembutkan… Lalu kakak perempuanku berteriak memanggilku, “Eli…”
Dan aku berdiri, mendekati emak, yang sedang mendapat bisikan kata “Allah, Allah, Allah…”
Dan ku raba dadanya, sudah tak ada lagi………………..
Dan kakiku beku, dan tanganku beku, dan sekujur tubuhku kaku… aku meminta mendekat dan membisiki telinga emak dengan syahadat, karena infusan masih jalan dan oksigen pun masih berjalan, aku berharap emak masih ada, dan detak jantungnya akan kembali,,, tapi… tapi.. tapi itu sekedar harapan… bibir ema telah terkatup,
“Ayhadu Alla ila Allah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasullalah”
Aah emaaaaaaaaaaaaaaa….. satu jam lalu aku menghapus air mata emak, entah mengapa emak menangis dan wajahnya teduh seolah-olah sendu mengucap kata perpisahan, ah emak, kumohon bertahan.. kumohon ya Allah. Dan itu adalah harapan terkahir, dimana aku harus belajar ikhlas dan ridho terhadap apa yang menimpaku dan keluarga… emak telah wafat, innalilahi wa inna ilaihi rojiun.. Tuhanku, Tuhan kami, Allah, Allahlah penciptanya, Allahlah yang menghidupkannya, dan Allah lah yang mematikan, semua akan kembali pada Nya, karena setiap-tiap yang hidup akan merasakan mati…
Inilah akhir kehidupanmu ibuku, oh ibuku, Jumat, 01 Agustus 2014, 5 Syawal 1435 H. Dan sambut cinta Rabbmu dengan keadaan tenang lagi di ridhoinya. Ketika malaikat izroil menyeru dengan suara lemah, lagi perangai lembut, “Hei jiwa yang wangi yang tersemayam dalam jasad yang wangi, keluarlah, dan penuhilah panggilan Rabbmu,” dan lalu jiwa itu diangkat ke arsy melewati pintu-pintu langit yang berbanjar para malaikat yang bertanya.. “Oh siapakah jiwa yang wangi ini, siapakah namanya, bagaimana ia di dunianya?” dan ketika ruh itu sampai ke hadiratNya, lalu Allah berfirman, “Ini seorang wanita salihah, Romlah binti Wiharja, adalah hambaku yang beriman, berilah ia tempat yang baik dan kembalikan kepada kuburnya dengan pelayanan baik.”
Ibuku, koma, dan aku tak bisa lagi menatap cahaya dari matanya yang terpejam. aku menyesal,,,, sangat menyesal tak pergi ke emak selepas idul fitri, oh... asatgfirullah ingat Eli, ini sudah takdir Allah.. akhirnya dengan sisa isak, aku mendekat dan mencium kening Ema yang sedikit panas.
Ema, lirihku di dekat telinganya. Ini Eli, Mak! Eli datang, emak kuat ya? kataku sambil terisak..
Ini adalah pengalamn pertama emak masuk rumah sakit...
Dan oleh karenanya, ini sangat membuatku khawatir dan cemas...
Malam itupun, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tak tidur, aku terus menggenggam tangan emak yang sekali-kali terlihat kejang.. dan aku merasa mati rasa, aku merasa ini bagian mimpi.. ini mimpikan?
Senin kemarin, selesai solat idul fitri, aku menelpon beliau, dan suara beliau tak begitu jelas, putus-putus, saling berlepas salah dosa, dan menanyakan kapan anaknya ini akan menemuinya. Dan kujawab tanggal 1 Agustus ma.. dan emak diam. Lalu kutanyakan kesehatannya, beliau mengeluh pusing, dan aku berkata untuk tetap sabar dan berhati-hati mengkonsumsi makanan, karena memang idul fitri baisaya banyak makanan yang berpotensi membuat darah tinggi emak naik.
Kemudian karena pulsaku habis, telpon terputus....
Ah, kini beliau tak berdaya, dihadapanku, seolah tertidur pulas...
"Emak, empat hari berjuang menguatkan dirinya, untuk bertahan agar mampu menatapku kah? Betapa berdosa diri ini.. Rabb ampunilah..
Entah bagaimana perasaanku begitu harus menjadi KUAT. aku harus optimist, saat dokter jaga mengingatkan, agar aku tak meninggalkannya, dan memperhatikan detak jantungnya.. aku marah, ya sedikit marah. Oke, Emak akan sembuh kok, ya ingat emak akan sembuh, bukankah Allah maha penyembuh. Show must gone!
Harapan-harapan itu tertumpah dalam doa, dan ayat-ayat yang terus-menerus ku bacakan sengaja didekat telinga beliau, ya teruatama juz 29, karena beliau hafal surat-suaratnya, siapa tahu jiwanya mendengar dan lalu kita bersama membaca J
Aku tetap saja tertidur, sesak jiwaku tak bisa lagi ditahan, aku mengabarkan sakit ema pada semua orang yang sangat penting, yang berada di kotak hp ku. Lalu saat pagi-pagi dan kutengok keadaan emak tak siuman-siuman juga. AKhirnya kita mulai bisa pindah ke kamar, karena itulah dengan sangat menyesal….
Aku pulang dulu ke rumah kostan, untuk solat subuh dan juga membawa perlengkapan pindah kamar.. seprai tidur, karpet, kaos kaki, makanan, mukena, dll…
Dan siangnya tak ada perubahan yang cukup berarti, dan emak tak kunjung siuman. saat pagi itu, emak berbusa, dan malam itu juga… demamnya yang tadi siang menurun, kini naik kembali, sehingga saat keningnya ku raba, bak terasa sangat sangat panas.
Ah….. harapanku masih begitu tinggi, aku masih optimis.
Namun, rasanya ini terlalu egois, oleh sebab itu ketika kumandang magrib bergema, dan aku ingin memurnikan hatiku… dan kuikhlaskan semuanya… Jika kepergian emak adalah kebahagiaan untuk beliau dan jalan Allah yang telah digariskan sebagai wujud kasih sayangNya, maka aku ikhlas Tuhan… karena di dunia ini pun begitu banyak yang membebaninya.. dan aku tak sanggup membhagiakannya, dan karena hanya Allah yang bisa dan akan membahagiakannya. Aku ridho ya Allah, karena semua ini hanya titipan, begitu pula dengan orang tua…
Dan setelah isya, aku berkata: aku masih ingin duduk didekatnya membacakan surat-surat penyembuh, dan mengakhirkan solat isyaku. Menanti jam 9, waktunya ema minum obat. Jam 08.20 aku merasa harus solat isya sekarang, lalu kuperbarui wudhuku, dan akan mulai solat, namun jam menunjukkan waktunya dimana aku harus memberi ema susu sebagai makanan sebelum minum obat, aku mengambil dulu obat dari kotak dan mengeluarkannya, mana saja yang harus di lembutkan… Lalu kakak perempuanku berteriak memanggilku, “Eli…”
Dan aku berdiri, mendekati emak, yang sedang mendapat bisikan kata “Allah, Allah, Allah…”
Dan ku raba dadanya, sudah tak ada lagi………………..
Dan kakiku beku, dan tanganku beku, dan sekujur tubuhku kaku… aku meminta mendekat dan membisiki telinga emak dengan syahadat, karena infusan masih jalan dan oksigen pun masih berjalan, aku berharap emak masih ada, dan detak jantungnya akan kembali,,, tapi… tapi.. tapi itu sekedar harapan… bibir ema telah terkatup,
“Ayhadu Alla ila Allah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasullalah”
Aah emaaaaaaaaaaaaaaa….. satu jam lalu aku menghapus air mata emak, entah mengapa emak menangis dan wajahnya teduh seolah-olah sendu mengucap kata perpisahan, ah emak, kumohon bertahan.. kumohon ya Allah. Dan itu adalah harapan terkahir, dimana aku harus belajar ikhlas dan ridho terhadap apa yang menimpaku dan keluarga… emak telah wafat, innalilahi wa inna ilaihi rojiun.. Tuhanku, Tuhan kami, Allah, Allahlah penciptanya, Allahlah yang menghidupkannya, dan Allah lah yang mematikan, semua akan kembali pada Nya, karena setiap-tiap yang hidup akan merasakan mati…
Inilah akhir kehidupanmu ibuku, oh ibuku, Jumat, 01 Agustus 2014, 5 Syawal 1435 H. Dan sambut cinta Rabbmu dengan keadaan tenang lagi di ridhoinya. Ketika malaikat izroil menyeru dengan suara lemah, lagi perangai lembut, “Hei jiwa yang wangi yang tersemayam dalam jasad yang wangi, keluarlah, dan penuhilah panggilan Rabbmu,” dan lalu jiwa itu diangkat ke arsy melewati pintu-pintu langit yang berbanjar para malaikat yang bertanya.. “Oh siapakah jiwa yang wangi ini, siapakah namanya, bagaimana ia di dunianya?” dan ketika ruh itu sampai ke hadiratNya, lalu Allah berfirman, “Ini seorang wanita salihah, Romlah binti Wiharja, adalah hambaku yang beriman, berilah ia tempat yang baik dan kembalikan kepada kuburnya dengan pelayanan baik.”
Dan…. Sejak itulah kebahagiaan akan meliputimu Ibuku,
bundaku, emakku.. aamiin, aamiin, aamiin.. aamiin ya Allah, aamiin ya Rabb…
Tiada yang lebih kuharapkan Rabbku, Selain engkau ampuni kesalahan ibuku, menerima segala kebaikan dan amal serta ibadahnya kepadaMu, dan aku bersaksi jika ibuku adalah sungguh wanita yang taat kepadaMu. Kebangganku adalah terlahir dari rahimnya yang suci… J
Emak, cita-cita emak terlaksana, untuk wafat dalam keadaan yang tak menyusahkan anak-anak emak, kepergian emak yang begitu tiba-tiba… dan kenangan serta kebaikan emak telah jauh dalam hati kami.
Tiada yang lebih kuharapkan Rabbku, Selain engkau ampuni kesalahan ibuku, menerima segala kebaikan dan amal serta ibadahnya kepadaMu, dan aku bersaksi jika ibuku adalah sungguh wanita yang taat kepadaMu. Kebangganku adalah terlahir dari rahimnya yang suci… J
Emak, cita-cita emak terlaksana, untuk wafat dalam keadaan yang tak menyusahkan anak-anak emak, kepergian emak yang begitu tiba-tiba… dan kenangan serta kebaikan emak telah jauh dalam hati kami.
Terpatri dalam sanubari…………
Ah, semoga kita dikumpulkan kelak. Aku mencintaimu karena Allah… Emak, kini tugasku adalah menunaikan amanahmu untuk menjadi wanita kuat, yang salihah, lagi bersuamikan orang salih.
Emak……… kupanggil engkau dalam doa dan sujudku,
Allahku… sayangilah kedua orang tuaku, sayangilah seperti bagaimana mereka menyayangiku sejak kecil…
Ah, semoga kita dikumpulkan kelak. Aku mencintaimu karena Allah… Emak, kini tugasku adalah menunaikan amanahmu untuk menjadi wanita kuat, yang salihah, lagi bersuamikan orang salih.
Emak……… kupanggil engkau dalam doa dan sujudku,
Allahku… sayangilah kedua orang tuaku, sayangilah seperti bagaimana mereka menyayangiku sejak kecil…
Pertemukanlah kami sekeluarga dalam kenikmatan dan Rahmat Mu
kelak, pertemukanlah kami,,,,
Catatan ini terasa rancu dan tak beraturan, semoga sahabat semua semakin sayang kepada ibu dan bapaknya. Semoga kita menjadi anak yang berbakti…
Catatan: Sudi kiranya sahabat semua dengan ikhlas dan khusuk, mendoakan Ayah dan Ibu saya. Semoga yang membaca catatan ini, Allah jadikan pula kehidupan keluarganya lebih baik, lebih soleh, lebih bertaqwa, dan digolongkan pada golongan kanan.
Untuk Abi-ku: Odong bin Abdullah (Alm) dan Umiku: Romlah binti Wiharja (Almh). Dua malaikat bumi yang melaluinya Allah titipkan kehidupan kepadaku sampai batas tertentu, kepada engkau berdua, cinta dan sayangku…. Tiada terhenti… selama nafas masih kuhela, selama kepala ada diatas leher… selama bibir dan hati berfungsi… doa-doaku takan terhenti.. tiada hentiii untukmu…. Rabbku, yang menyukai doa, yang suka mengabul doa, yang pemurah lagi penyayang kabulkanlah setiap doa kami… Pertemukanlah ayah dan ibu hamba dengan orang-orang yang beliau cintai, para mukmin, dan….. Rasulullah SAW orang yang paling ingin beliau temui… pertemukanlah dan puaskanlah hatinya, hingga tenang karena Rahmat Mu, aamiin….
Catatan ini terasa rancu dan tak beraturan, semoga sahabat semua semakin sayang kepada ibu dan bapaknya. Semoga kita menjadi anak yang berbakti…
Catatan: Sudi kiranya sahabat semua dengan ikhlas dan khusuk, mendoakan Ayah dan Ibu saya. Semoga yang membaca catatan ini, Allah jadikan pula kehidupan keluarganya lebih baik, lebih soleh, lebih bertaqwa, dan digolongkan pada golongan kanan.
Untuk Abi-ku: Odong bin Abdullah (Alm) dan Umiku: Romlah binti Wiharja (Almh). Dua malaikat bumi yang melaluinya Allah titipkan kehidupan kepadaku sampai batas tertentu, kepada engkau berdua, cinta dan sayangku…. Tiada terhenti… selama nafas masih kuhela, selama kepala ada diatas leher… selama bibir dan hati berfungsi… doa-doaku takan terhenti.. tiada hentiii untukmu…. Rabbku, yang menyukai doa, yang suka mengabul doa, yang pemurah lagi penyayang kabulkanlah setiap doa kami… Pertemukanlah ayah dan ibu hamba dengan orang-orang yang beliau cintai, para mukmin, dan….. Rasulullah SAW orang yang paling ingin beliau temui… pertemukanlah dan puaskanlah hatinya, hingga tenang karena Rahmat Mu, aamiin….
Az (03/8/14---04/8/14 : 12:43)
Minggu, 30 Maret 2014
Hidup Ini Perjalanan yang Membahagiakan
Assalamualikum.
Mari sedikit berbagi dengan
tulisan, mungkin saja bisa menghibur, memotivasi, atau menginspirasi.
Hari itu (Rabu, 27 Maret
2014) Allah memberi banyak pelajaran, ketika presentasi monev (monitoring
evaluasi) PMW (Program Mahasiswa Wirausaha), yang ngereview kami langsung paham
saat melihat laporan neraca keuangan dan laba rugi yang kami susun, beliau berkata:
ini membutuhkan pengembangan dan
pemasaran yg lebih gencar dan survive! Omsetnya memang sedikit sekali :)
Saat me-review, sama sekali
tdak ada ketegangan, beliau paham sepertinya, dan kami mengkonsultasikan segala
keresahan dan permasalahn kami. Benar-benar tidak disangka, jauh dari
perkiraan, padahal saat kami masuk ruangan beliau sedang meriview "Dimas:
pengusaha dr wonogiri" dan berapi2 bertanya keuangan begini begitu yang
membuat nyali CIUT.
Oke, dan pak reviewer
selesai, Pak Yana yang akan menentukan proposal laporan kami diterima atau
tidak. Beliau mengatakan: laporan kami memang sepertinya TIDAK RASIONAL. Kita berenam dan belum menunjukan hasil yang
signifikan. Ada apa? Masalahnya bagaimana?
Kerja dadakan memang selalu
tak bisa optimal. Ditolak :) secara halus, dengan 2 opsi pilihan. Opsi 1: Merevisi
ulang dan ditunggu sampai jam 3 sore, dgn kompensasi: dana tahap 2 bisa
dicairkan. Opsi 2: Merevisi ulang dan boleh di kirim rabu (3/4), dana tahap 2
bisa dicairkan Rabu.
Lalu? Apa yang kami pilih?
Sepertinya kami akan memilih
opsi 2, karena perbaikan terlalu mustahil, waktu menunjukan pukul 2, sedang yang
harus kami perbaiki meliputi content laporan, susunan, kelengkapan lampiran,
membuat CD sekaligus bikin cover u/ CD nya, label dll. Arghh!
Oke, tapiiii jika dikirim Rabu
minggu depan, yah bisa jugaaaa. Hmmm. Tapi kami ingin kembali ke Tasik tanpa
masalah. Itu pointnya.
Akhirnya opsi pertama kami
ambil.
Lima orang membagi tugas
(Intan sedang dalam perjalanan/menyusul), hanya diriku yang bawa notebook, jadi
perevisian laporan tidak bisa dikerjakan cepat-cepat. Jenie, Erma, dan Nida
fotokopi bukti bon masuk keluar. Aku dan Giw, edittttt laporan, membuat design
Cover CD, dsb. Sampai saking cepatnya memerintah, notebook jadi nghange dan panas
:)
Setengah jam lagiiii, laporan
belum tuntas, dan design cover CD sudah jadi, Erma dan Nida langsung ke Gerlong
dan mencetaknya.
Jam 3 pas, laporan baruuuu
beres dengan lampiran foto acak-acakan :) hehe, tapi itu sudah cukup melegakan,
Jeni dan Giw langsung ke kopma dan siap memprint laporan dan memburning data.
Lalu apa yg terjadi?
Data yang dimasukan ke
flesdik untuk di print, masih data lama. Giw lari-lari dan bilang: teteh tadi
di save enggak? Ini data lama :( hihikzzzz
Aku cek dan ternyata daku
mengedit di file yang berbeda. Hihimp, maaf Giw, langsung di copypaste ke fd, Giw
lari lagi ke kopma. Uhhhh mantap! Waktu habis!
Erma dan Nida baru datang dari
gerlong, mereka bawa cover CD dan CD nya juga.
Menanti Jeni dan Giw cukup
lama. Tak sabar Erma telpon Bu Dirut, "Giw, masih lama gak?" Jawabn
disana mengatakan, "Susah nge-burningnya umhh."
Oke deh, biar kita yang
burning kata Erma. Erma meminta data, notebook yg baru saja dimatikan dihidupkn
lagi. Copas data dan mereka berangkat!
Sudah setengah 4, dengan di
temani The Tika aku memutuskan untuk solat terlebih dahulu, dan sebelumnya minta
maaf ke Pak Yana soal keterlambatan. Its okey! Secepatnya ya, jawabnya.
Saat perjalanan menuju
masjid, segera kuhubungi Jeni, beresssss semuanya the serunya. Ini lg mau ke
BAAK. Cover CD nya siapkan? Tanyanya. Hah? Cover CD dibawa Erma yg mau burning
data. Jadi mereka berhasil burning data nya. Langsung tlp Erma, Dik come back
again! Jeni was burning it, okey okey jawab erma. Jam 4, @mesjid al-furqon
bertemu Intan yg luarbiasa menyusul, dan kita kembali ke BAAK. Semua beres, dan
dana tahap 2 bisa dicairkan.
Subhanallah, inilah hidup
ini. Pilihan, sepanjang itu, kita mendapat manfaat dan motivasi. Sungguh membahagiakan saat tahu endingnya. Ending hidup akan membahagiakan jika kita berusaha.
Ada banyak ilmu dan
pandangan-pandangan yang mencerahkan, relasi dan tentu saja jatidiri.
Merasa kembali menemukan
diri, subhanallah.
Duhai Allahku, terimakasih
atas hidup ini, berkahi jalan dan langkah kami :) hingga khusnul khotimah.
Aamiin.
Salam semangat! Salam Jempol!
Langganan:
Postingan (Atom)






