Aku ingin mengatakan kepadamu, kejujuran, bukan dusta. Bahagia itu Sederhana. Akan kubisikkan itu setiap pagi, dan engkau akan percaya, bahwa hati kita telah bahagia melalui cara-cara yang sederhana.
Minggu, 02 Agustus 2015
ONE DAY, 2017
Seorang wanita dari sebuah bandara kota T, Lanud Wiriadinata, turun tanpa penyambutan siapapun, tanpa dijemput siapapun. Bandara ini sudah cukup sesak. Taksi berbagai perusahaan menawarkan jasanya. Wanita itu menjawab setiap tawaran dengan senyuman saja, sebuah basa-basi untuk menolak.
Ia hanya ingin menyusuri kenangan. Kota T adalah kampung halamannya. Dua setengah tahun adalah waktu yang cukup lama untuk meninggalkan semuanya. Pergi menenangkan diri, niatnya waktu itu. Dan satu-satunya alasan adalah menuntut ilmu.
Ia berjalan cukup lama, koper berisi beberapa helai baju dan buku-buku ia sorong. Di stopnya angkot 01. Jalanan cukup basah, hujan turun perlahan. Ia buka kaca jendela, agar satu dua rintik bisa menyentuh jemari mungilnya yang gigil.
Sepanjang perjalanan itu, tiada percakapan. Ia sibuk menelusuri pikirannya sendiri. Diangkot ini dulu waktu tingkat 1, pelbagai kehidupn telah dilalui. Saat pertama mencari kostan, berteman dengan sebuah geng, geng yang aneh dan lalu berpisah, lalu jatuh cinta, terluka, menjadi mahasiswa yang sok sibuk dan sok kritis, skripsinya yang lama dan tak kunjung usai karena ditengah pata hati, terlambat lulus, dan ah semua kenangan itu... dan orang-orang itu.
“Turun dimana Neng?”
Dia terkejut dengan penyambutan kata “neng”, hanya ada beberapa orang yang memanggilnya “neng”... itu pun beberapa lainnya memutuskan kembali memanggil nama setelah melewati beberapa kejadian. Mang angkot ini, telah mengembalikan satu dari sekian kenangan, melalui kata...
“Neng, hei?”
“Iya mang, emmmm Dadaha!”
Dulu, seorang dosen sering mengejeknya, bukan mengejek tapi “mungkin” hanya bercanda tentang “Cinta di atas langit Dadaha”, bukan 99 cahaya di langit erofa?
Sore ini memang waktu yang pas untuk sekedar duduk di taman Dadaha yang konon katanya sudah dibangun dengan desain yang wah. Berita yang selalu ia ikuti di luar sana, yang lebih menarik dari berita menikahnya princess, atau revolusi dalam negeri, ya itu perkembangan kota ini. Aku membayangkan air mancur yang tinggi, sekelilinggnya koi berenang dengan indah, bunga merah hijau kuning orange atau putih bermekaran. Ini musim semi jika di Jepang, apakah di kota T bisa pula bersemi. Aku berharap yang bersemi bukan hanya bunga, juga hatiku yang lama mati. Ah, aku ini lebai saja...
Handphone di saku mantel panjangku bergetar, sebuah pesan masuk, “Selamat datang kembali di kota T, ditunggu di kampus kebanggaan ya.” Aku tahu orang ini salah satunya yang sering memaksaku untuk berbagi cerita, semuanya. Bahkan ia masuk ke daftar orang menyebalkan di beberapa tulisanku, tapi penyambutannya hari ini amat kusukai. Seolah-olah ia membuka pintu rumah saat aku berada di halamannya, seakan-akan ia membuka kedua lengannya saat aku tak tahu harus bersuara ke siapa, ia membuka dunia lama dengan baik. Bagiku sekarang dunia baru.
Angkot 01 berhenti, aku dulu sering naik becak di sini.
“Neng sudah sampai.”
Aku tersenyum, sepatu tinggiku memaksaku membungkuk keluar dari angkot.
“Awww,” aku merasakan sakit sekali dibagian kepalaku. Rupanya rambut lurusku menyangkut dikaca-kaca jendela yang tadi sengaja kubuka.
“Kenapa neng?” Mang angkot kaget melihat aku meringis, menahan sakit.
Sejak kepergianku dua tahun lalu, dan semua luka yang kubawa pergi. Aku memutuskan membuka jilbabku, menjadi orang lain di tempat baru, dengan jeans ketat yang kugunakan, dibalik mantel yang hampir menyentuh lututku, juga hihghills membuatku 10 cm lebih tinggi.
“Tidak apa-apa Mang.”
Aku menyodorkan uang pecahan sepuluh ribu, entahlah ongkos sekarang berapa. Sejak krisis ekonomi tanah air naik turun, aku tak peduli lagi tentang harga-harga, bagiku yang penting aku masih bisa beli, mungkin itu pikiran yang amat berbahaya?
Mang angkot siap mengembalikan lebih uangku, tapi melihat kebaikan dan kenangan itu, aku memutuskan tersenyum saja.
“No Mang, gak usah, buat Mamang aja.”
“Enggak Neng, ini buka haknya.”
“Buat Mang aja, sedkit kok.”
“Enggak Neng, ambil saja.”
Ia menyorongkan uang itu, “Buat Neng yang baru sampai di kota ini, berhati-hati ya...”
Aku tertegun, entah apa yang terjadi dengan kota ini, mungkin kembali jadi kota santri? Atau justeru pesan mang angkot ini memberiku tanda untuk hati-hati karena situasi kota yang rawan?
Entahlah. Hawa dingin menusukku, sore hari meniupkan angin yang dingin sampai sumsum belakang. Aku menyorong kembali koper, rintik hujan menemaniku. Dramatis! Aku berharap ada seseorang dari masa dulu yang bisa kukenal dan kuajak diskusi tentang “apa kabarnya?”
“Neng, beca?”
Mang ini, memanggilku, ah masih juga dengan kata: neng...
Mungkinkah hanya orang baru yang memanggilku neng?
Aku menangguk, syal yang menutup leher dan mulutku menahan pandanggannya dari melihat sungging senyumanku melihat mamang ini. Mamang ini dulu sering mengantarku ke pusat belanja, sewaktu tingkat 1, mahasiswa baru yang tak tahu arah.
“Mang, antar ke taman ini ya.”
Mang beca mengerutkan keningnya, “Neng taman ini sedang ditutup.”
“Kenapa lho kok?”
“Ada pembunuhan dua hari lalu.”
Aku membayangkan seorang perempuan tergeletak bersimbah darah.
“Seorang anggota geng motor dikoyak-koyak, mengerikan.”
Bayanganku rapuh dan pudar, bukan perempuan luka yang mati, tapi seorang geng motor? Entahlah anganku kembali plong, hatiku merasa lebih ridho jika orang seperti itu yang meninggal.
“Pemuda itu baik, tapi entahlah mengapa ia gabung di geng motor itu... ia seorang dosen muda, semua orang tidak menyangka.”
Aku diam, dan membayangkan seseorang yang mungkin kukenal. Seorang dosen muda, apakah seorang penyair?
“Dia penyair, musisi, pelukis, budayawan... hidupnya diabdikan untuk seni dan budaya, sampai-sampai lupa menikah. Tetapi sayang ia meninggal di usia muda, ah bahkan sebelum ia genapkan...”
“Mang tahu dekat?”
“Minggu ini minggu yang menyedihkan buat Mamang, dia baik, sekali lagi baik, tiap minggu ia akan mampir di warung susu murni di dekat pangkalan. Memesan satu dua surabi, dan bercerita banyak hal kepada kita yang tak tahu apa-apa tentang pendidikan dan negara. Tapi sudahlah, itu takdirnya.”
Aku tertekan, dosen muda, belum menikah, penyair, musisi, pelukis? Apakah dia yang dulu juga pernah mampir di warung dekat organ jantungku? Hah! Tidak mungkin, jika iya berita itu pasti sudah sampai.
Aku melirik hp canggihku, oh aku lupa belum mengaktifkannya sejak tiba di tanah air.
“Mang belok dulu Mang, warung cell.”
Aku membeli kartu data, dan memastikan hp canggihku, penghubung seluruh isi dunia, menyala kembali dengan rentetan bunyi notif.
“Jadi mau kemana Neng?”
Aku tertegun sesaat ketika duduk di jok beca. Kemana ya? Aku ingin singgah di sini sebnetar sebelum memutuskan pulang ke rumah. “Hem.... Warung lesehan saja mang!”
Perutku lapar, dan gerimis sore telah membuatnya terasa sempurna, lapar akut. Aku rindu makanan tanah kelahiranku, rasa pedas yang memanggang lidah, atau lalaban yang hijau dan sambal yang segar. Tapi rasa penasaranku tentang si terbunuh membuat semuanya terasa tidak enak algi...
Aplikasi line ku berbunyi, aku lirik, teman semasa kuliah. Mengabarkan berita duka cita... tentang sahabat kami yang terbunuh. Aku terhenyak.
Dugaanku?
Dua tahun setengah, aku pergi mengejar impian masterku di negeri jiran. Sembari mengobati luka hati yang kuderita. Kini kembali dengan hati yang lebih siap, dengan harapan yang masih menggunung, juga sepucuk rindu yang tak pernah diperlihatkan... namun, apalah artinya itu? Jika selama itu aku membohongi jiwaku? Dan takdirku terus bergerak, mengambil semua yang kucintai?
Dugaanku?
Bukan berita itu yang melukaiku sampai berpikir ulang tentang sesalnya niat kepergianku, tapi satunya lagi. Aku bersyukur saat terbunuh itu adalah A, dan bukan B. Hah, benar orang-orang baik selalu meninggal lebih cepat.
Berita selanjutnya, masih dari teman semasa kuliah.
“...dalam walimatul ursy B dan C...”
Aku mengatupkan bibirku, menggitnya erat, menyibak rambutku yang mulai basah. Aku keluar dari becak, meninggalkan koperku, dan berjalan jauh ke tengah-tengah kota. Menjadi orang lain, bukanlah pilihan, cinta takkan kembali dengan menjadi orang lain. Rambutku merah? Mungkin Tuhan tak suka.
Aku master dengan lulusan terbaik, menjadi hilang akal sehatku cukup dalam 1 menit?
***
Rupanya yang berlari hanya pikiranku saja, aku masih mengotak-atik tuts keyboard notebookku. Guncangan pesawat tak menyurutkanku untuk tetap menulis, dasar kepala keras! Aku sering mengataiku sendiri dengan itu, bukan keras kepala. Hehehe.
Ah! Keluargaku pasti sudah menunggu di bandara yang baru saja dibuka itu, bukan saja keluarga, kabar kepulanganku membuat si idaman hati, yang dua bulan lalu mengkhitbahku menyempatkan diri menyambut pula. Padahal ia sendiri sedang sibuk menyiapkan diri untuk turnamen di Sentul, Bogor. Dasar!
Membuatku malu saja. Ia pasti datang dengan gayanya yang kontoversi. Rambut cueknya, mata tajamnya, dan pakaian koboi sekenanya, jauh sekali dari formalitas. Tapi entahlah, justeru nyaman melihatnya demikian.
Seperkian menit lagi lepas landas, suara peringatan mengencangkan sabuk pengaman sudah berlalu. Aku berkemas, diluar sana titik hitam kepala (mungkin salah satunya kepala ibu), aku merindukan kota ini, kota yang segera memelukku dengan penerimaan seperti penerimaan ibu akan kembalinya seorang anak yang lebih memilih terus belajar daripada bekerja dan bersuami.
Ah ibu, pilihan ibu, seorang pembalap ya bu.
Az. (20/07/15)
Senin, 27 Juli 2015
SIDANG SKRIPSI (2)
Masih juga belum baikan, tapi harus tetap banyak bersyukur dan bersabar.
Ketika seorang hamba sakit, satu kesakitan itu dihitungnya satu penghapus dosa. Mungkin ada dalam diri kita yang hanya bisa bersih, jika kita mengalami sakit.
Aku melihat temanku rona wajahnya memerah, sangat merah. Humaira, mungkin aliran darahnya naik ke kepala, karena panik, dag-dig-dug. Ia tengah menanti giliran untuk masuk ke ruang sidang. Denga sedikit bercanda, kusapa saja, biar sedikit cair dan tak gugup, “Teh, eta pipi meuni beureum, cantik teh, kemerah-merahan, humaira....!”
Dengan masih gugup ia menjawab, “Teteh oge sami, beureum, hehehe... duh kumahanya engke?”
Well, temanku yang satu ini, memang parnonya lebih akut, banyak cemasnya, dan itu hanya ada dalam kepala, realitanya tidak seperti yang ia pikirkan. Bolak-balik penuh kecemasan, tapi sepertinya ia mulai mampu menguasai dirinya. Dengan langkah yang pasti, ia masuk ke ruang sidang. Dan aku menyimaknya di luar dengan hati-hati. Semua berjalan baik-baik saja... Tuh kan! Air mengalir, waktu bergulir, jalan terbentang, semua pada tempatnya, tak ada yang terjadi, selain isi kepala yang terlalu banyak menerka.
Aku sendiri bolak-balik di koridor, Dr. Arli masih asyik dengan Teh Mira, Drs. Edi juga bolak-balik bertanya ke kang Indra. Tak kunjung usai, keluhku... Entah mengapa kondisi seperti itu seharusnya membuatku lebih banyak persiapan, tapi ada rasa hati ingin segera selesai saja, as soon as posible!
Akhirnya yang ditunggu, kunjung selesai pula. Ibu Arli mempersilahkanku, dan meminta jeda untuk menunggu Pak Ed yang masih di ruangan sebelah. Bismillah, rasa tegang sedikit demi sedikit pudar, aku merasa bahwa ini adalah untuk belajar, untuk jujur pada proses, untuk siap hadapi apapun. Pak Din membantu Bu Arli menghadirkan Pak Ed yang sudah sumringah siap sedia dengan pertanyaan, pernyataan, dan lain sebagainya (mungkin).
Menuliskan bagian ini, sedikit sulit, karena intinya berada pada titik lemah skripsi yang dibuat. Pak Ed mempersilahkan ibu Arli memimpin persidangan. Sebagai terdakwa yang sakit gigi, aku diminta menjelaskan penelitianku selama 7 menit saja. Mungkin tidak sampai 7 menit, aku sudah terdiam, dan ibu mulai bertanya kepada....
“Apa itu sastra? I not found it, saya tak menemukan definisi sastra dalam skripsi ini.”
Memang beruntung, subuh tadi sempat baca buku Wellek dan Waren tentang Teori sastra, dan halaman satu itu percis sama dengan pertanyaan ibu. What the meaning of....?
“Sastra adalah kegiatan kreatif, hasil seni, keindahan. Di skripsi itu ada di bab II tentang apa itu sastra anak.”
Itu sastra pengertian siapa? Dan sebagainya....
Terus bergulir pertanyaan, hingga pada satu tanya ini: Apakah skripsi, termasuk sastra?
“Skripsi termasuk karya ilmiah yang mesti ditulis dengan bahasa formal dan ilmiah. Bahasa sastra dan bahasa formal ilmiah tentu berbeda.”
“Apakah bahasa skripsi ini sudah ilmiah?”
Wew, ini jebakan bathman. Entahlah, apakah skripsiku karangan bebas atau memang ilmiah, aku tak mengerti dengan gaya penulisanku. Seharusnya seorang profesional bisa membedakan, dimana dia menulis karya ilmiah dan dimana ia menulis karya sastra yang estetis.
“Peneliti masih belajar bu,” ucapku.
“Ini banyak kata sambung di depan kalimat, ini misal kata “sehingga”,.. tapi tidak tahu ya, saya bukan ahli bahasa.”
Pertanyaan kembali tentang latar belakang dan bab II. Ibu lalu persilakan Pak Ed.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku, sebisa mungkin fokus pada sikapku, agar tidak menyebalkan.
Sambil membolak-balik buku produk, Pak Ed mulai membuka persidangan babak 2.
“Ketika anda membuat biografi seseorang, anda mesti hati-hati, berbagai unsur budaya dan sejarah akan bersatu padu dengan ketokohan itu. Saya jadi ragu setelah baca buku ini, apakah buku ini fiksi karangan anda atau memang fakta?”
Jleb. Masih belum paham, kemana angin berlabuh, kemana arah pembicaraan Pak Ed.
“Misal ini UIN, anda tahu istilah UIN ada tahun berapa? Dulu baru ada istilah IAIN. Mengapa di buku ini istilah UIN suda ada sejak Acep kecil? Saya kenal Acep, kita satu daerah, walaupun ya mungkin beliau tidak kenal saya. Dulu pernah bareng ngaji/sekolah... (kira-kira begitu redaksinya).”
Ya, ini kekurang hati-hatian peneliti. Saat wawancara pak Acep menyatakan UIN dan meralat kembali dengan IAIN, tapi peneliti menuliskan di naskah lengkap dua-duanya. Transkrip wawancara tersedia di lampiran.
Lanjut kembali dengan ungkapan kecewa beliau, membaca judul skripsinya saya membayangkan isi skripsinya tentang para sastrawan... kan sastrawan lokal banyak, mengapa kok isinya satu dan fokus AZN saja? Lebih baik jika anda keukeuh ingin menggunakan data-data ini, anda rubah redaksi judul skripsi. Terus saya juga terganggu dengan kata lokal, saya tahu eksistensi Pak Acep, dan beliau kalau dalam pandangan saya sudah bukan lokal lagi, tapi internasional. Lokal di sini itu kurang tepat, terlalu ambigu maknanya.
Bla-bla-bla... sampai dibantai pula teori-teori di bab II, dan tentang sastra anak berserta hubungannya dengan buku cerita anak.
“Intinya buku yang Anda buat itu buku cerita anak, bukan buku sastra anak! Jadi yang di BAB II fokus ke variabel yang anda teliti. Apa coba variabel penelitian anda?”
“Buku cerita anak, sastrawan lokal...” jawabku.
“Nah, ituh!”
Bu Arli dengan sedikit tersadar, ikut menimpali, “Iya pak Ed, tadi saya ke bawa arus loh. Saya malah bertanya sastra. Padahal lihat judulnya kan buku cerita anak. Hehe...”
Coba anda sebutkan variabel penelitianya, mana variabelnya, tidak ada di skripsi Anda ini.
Hukhukhuk, dengan sedikit memberanikan diri, “Dalam penelitian kualitatif, variabelnya diletakkan pada definisi operasional pak,” ucapku.
“Maa coba tunjukkan ke saya mana DO nya?”
Tanganku bergetar, ada kok, tapi sudah saya bolak-balik kok tetep gak ada, cek di daptar isi kok gak ada, ada deh di bab II atau bab III.
“Mana?” ulang bapak, seolah ingin menunjukkan kalau.... ah sudah, fokus eli, lebih tenang eli.
“Ini pak, halaman 38.” Jawabku.
“Variabel itu beda dong dengan DO. Coba anda jelaskan operasional itu apa?”
Aku jadi inget pak prof waktu bertanya apa itu teori, ya Allah tolong hambamu... T_T
“Operasional, yang dioperasikan.... yang di...”
“Nah kalo ini bukan yang dioperasikan, ini mah kamus leksikal. Variabel itu nanti yang akan jadi batasan penelitian!”
Sebenarnya perkataan ini sudah kutelan beberapa bulan terakhir dari Dr. Dian, tentang DO yang kubuat. DO oh DO! Dan itu memang sudah jadi batasan, dan dijadikan instrumenku. Ah sudahlah... itu tak penting hari ini, membela diri hanya akan memperlihatkan ketakberdayaan saja, semakin runyam kan.
Aku membiarkan semuanya dengan berbagai tafsirnya, toh ini kesalahanku.
“Oh ya, coba anda buka halaman 1, itu redaksi itu menurut siapa?”
Menurut Brucher dalam Musthafa, pak? jawabku tak paham.
“Coba anda bandingkan dengan yang di bawah, yang kata Huck.”
Menurut Braser dalam Musthafa menyatakan bahwa....
Huck dalam Musthafa menyatakan bahwa...
“Bandingkan, jadi yang benar itu yang bawah. Dan di skripsi anda ini, saya menemukan banyak seperti itu. Kalau anda teliti mungkin skripsinya tak akan setebal ini.” ucap belia sambil tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum saja, oh masa banyak yang begitu, nanti di cek ah, tak berani bertanya balik, coba tunjukkan mana saja pak? Duh kurang ajar tenan ini anak mungkin jadinya. Well setelah di cek di bab I dan bab II, hanya itu satu-satunya redaksi yang double-double... hehehe :P geli jadinya...
Selama persidangan berlangsung, guru besar lainnya bolak-balik ke ruangan, beliau bagaikan kekuatan bagiku, entah...
"Sudah itu dari saya, rubah redaksi judul menjadi: pengembangan buku cerita anak tentang sastrawan Acep Zamzam Noor sebagai bla bla bla.... Nilainya nanti ya!" kata Pak Ed.
“Ini lembar revisinya,” Bu Arli menyerahkan secaraik kertas dengan tulisan, revisi lihat skripsi. Aku keluar dengan syukur, walau babak belur aku sudah cukup bahagia sudah melewati hari ini. ya Allah, nuhun....
Pak Ed keluar ruangan mengikutiku, “Ini lembar revisinya,” ucap beliau. Dengan santai beliau menulis revisinya dengan tersenyum-senyum: “Eta ge pami bade di turut, mangga..”
Ya Allah, benar sudah kini aku teh, sungguh terlihat keras kepala dan menyebalkan. Ampun Gusti. Dibalik semua penguji itu, ada banyak hikmah dan pelajaran bukan? Aku tak ingin melewatkan satu hikmahnya, sekecil apapun. Hidup kita tak selamanya benar walau berusaha terus dalam koridor yang benar, kita membutuhkan orang lain untuk menjelaskan pada kita letak hidup yang sebenarnya, mawas diri, mengedepankan sikap, dan penghargaan, itu.
Ujian sidang skripsi, hanya satu kali dalam hidupku, dan hari itu beliau-beliau telah berhasil mewarnai satu hariku dengan warna yang mencolok dan berbeda. Semoga semua guruku bahagia, dan seperti pinta beliau dulu di tahun 2012, semoga selamat di dunia dan akhirat.
Semoga semua orang selalu dalam naungan berkah dan rahmat Nya. Jazakumullah.
Az (11/07/15)
MARYAM
“Aduhai celaka, alangkah baik seandainya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tak berarti, lagi dilupakan.” (QS Maryam: 23)
Untuk Maryam yang tak akan dilupakan oleh Tuhan bahkan saat dirinya ingin dilupakan. Untuk juang yang menyisakan perih dalam pelajaran yang agung, Tuhan mengabadikan namanya dalam satu surat kitab suci mulia. Untuk Maryam, yang cintanya menghaluskan semesta, menundukkan langit, dan menjadikan dirinya rendah tunduk pada ketentuan Rabbnya.
Adalah hakikat angin untuk pergi lalu dan lalang. Adalah hakikat daun untuk busuk, tua dan jatuh. Adalah kematian, sebagai hakikat tinggi semua yang hidup. Adalah keberadaan sebagai hakikat dari penciptaan. Sedang aku lupa, hakikatku sendiri.....
Bukan aku yang Maryam. Dia adalah seseorang bernama Maryam, perempuan tentu saja, aku laki-laki. Bukan maryam yang itu, ini adalah Maryam lain. Sedang ceritanya selalu mengikutiku, kemanapun aku pergi, ada suara-suara memanggil, pilu. Apa sebab ia memangil? Mungkin ini tentang kepergiannya yang tak kuketahui, di sana ada separuh dosa dan sesal yang kusembunyikan.
***
Suatu hari dengan menangis Maryam menemuiku, memintaku melakukan sesuatu yang tak bisa kulakukan saat itu.
“Tolong lah aku, Ndra,” ia sering memanggilku Ndra, padahal namaku bukan itu. Sejak kali pertama kita berpapasan, dan ia mengikutiku dan memanggil-manggilku dengan “Ndra” sementara namaku bukan itu.
“Kenapa? Minta tolong kok ke aku? Aku bukan dewa loh...,” seperti biasa aku bercanda dengan antusias kepadanya. Entah ada sebagian dari hatiku yang cenderung kepadanya. Cenderung sayang.
Dia menggigit bibirnya kuat. Setelah lama kutunggu, yang keluar bukanlah kata. Ada seorang perempuan menangis dihadapanku, itu serba salah.
“Hei kok nangis?” ujarku tidak enak. Airmata itu ia usap, dan mulai menenangkan diri, bibirnya yang mengatup kini bergerak-gerak lambat ingin mengucap sesuatu yang berat.
“Aku mengandung, Ndra.”
Kabar ini bagiku seperti sayatan yang diberi garam. Perih! Maryam mungkin bisa melihat bagaimana aku begitu terpukul. Kecenderungan hati itu, tak menyisakan lagi harapan.
“Setahun lalu aku menikah dengan pemuda bernama Andra. Kami menikah diam-diam, hanya keluargaku yang tahu,” perempuan itu berkata lirih.
“Lalu? Mengapa kau bersedih? Apakah suamimu meninggalkanmu?”
Maryam, perempuan itu menangis lebih hebat lagi. Ia menggelengkan kepalanya. “Andra tak mungkin meninggalkan kami.” Ucapnya seolah berteriak.
“Tentu saja, karena kau begitu baik hati dan tak bisa bedakan mana lelaki yang culas!” ujarku geram.
Maryam tak lagi menjawab. Kesimpulannya membuatku menyesal telah berkata demikian keras, “Kamu tentu tak bisa menolongku.”
Perempuan ternyata memang sulit ditebak, ia tak lagi menjelaskan “apa yang bisa kulakukan” untuknya, kemudian pergi meninggalkanku yang diliputi rasa bersalah.
Esok harinya aku berusaha menemuinya dengan niat minta maaf, tapi dua jam aku berdiri di depan rumahnya tak menghasilkan apa-apa, selain desau bambu dan gonggongan anjing kampung.
“Mencari Maryam?”
Aku mengangguk. Senang ada seseorang yang bisa menjelaskan kepadaku perihal perempuan yang entah mengapa aku begitu mengkhawatirkannya.
“Dua hari lalu pergi, entah kemana. Mungkin nanti siang atau sore kembali. Mungkin pulang ke rumah orang tuanya di kota T.”
Semua serba mungkin, aku tak bisa percaya.
“Apakah Maryam sering keluar begini?” Aku berpendapat jika sudah kebiasaannya, kata “mungkin” bisa saja menjadi “kebenaran”.
“Tidak, biasanya ia senang tinggal di rumah. Dan orang tuanya yang akan mengunjunginya.”
Aku tahu, jika kata “mungkin” itu terlalu abstrak. Dengan masigul kutatap lagi daun pintu rumahnya, siapa tahu, tiba-tiba saja ada yang menggerakannya dari dalam. Rupanya itu hanyalah inginku, tidak akan pernah ada pintu yang terbuka jika penghuninya pun tak ada. Tapi siapa tahu? Angin bisa saja menggerakannya bukan?
Sesampainya di kosanku, aku berusaha mencari tulisan-tulisan Maryam yang berserakan dimana-mana. Benarkah aku Andra? Ternyata Andra itu suaminya? Apakah aku suaminya? Sering dalam tulisan itu Maryam berkata panjang-panjang, jika aku adalah Andra, bukan namaku sekarang. Sikapku mengingatkannya pada Andra, bahkan kebiasaanku berpakaian adalah jelmaan Andra, bahwa caraku berjalan, berbicara, dan manatapnya adalah milik Andra. Apakah aku Andra? Sungguh, aku lupa. Siapakah aku?
Kepalaku oh berputar! Pusing tujuh keliling. Aku membiarkan diriku tenggelam, lalu mata terpejam lelap karena rasa mual pun menyeruak. Semenjak itu, aku tak berani lagi bertanya, siapakah aku? Kepalaku oh berputar. Tak ada lagi pertanyaan.
Mungkin saja aku lupa, dan akan selalu lupa. Juga maryam yang telah pergi dengan sisakan sesak dadaku. Sedang benci dari keluarganya tak lagi dapat kuhapuskan, aku yang telah meinggalkannya? Benarkah?
Aku kebingungan, tentang diriku, akan selamanya menjadi manusia yang tak tahu asal-usul. Jika saja, aku tak temukan jawaban. Tentang kejadian di masa itu.
Apakah lupa itu hanya dapat terjadi karena benturan keras? Apakah lupa bentuk amnesia itu hanya karena kecelakaan? Sedang aku baik-baik saja, tak ada yang kurang, tak ada yang sakit, tak ada kecelakaan.
Sebuah handphone namak di bawah kertas-kertas. Apakah ini handphoneku? Tentu saja, karena ada di dalam lemariku. Lemariku, ini daerah terlarang. Aku berusaha mencari-cari jawaban di sana, apakah aku melupakan sesuatu, atau meninggalkan sesuatu. Setahun ini, aku lupa bahwa dunia telah maju, dan handphone adalah kebutuhan yang telah menjadi primer. Lalu dimana nomor handphone keluargaku? Tak pernah ada kecuali satu nama di daftar panggilan: Maryam. Nama yang tak pernah kutambahkan sebagai kontak, tapi ia telah ada.
Apakah ini tanda? Aku dan maryam adalah (pernah) dekat?
“Mengapa aku tak menghubunginya sekarang?”
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau..........”
***
Jika semua telah sampai pada hakikatnya, lalu apa yang tersisa?
Apakah lupa, jika Tuhan adalah satu-satunya yang menciptakan hakikat?
Itukah sisa dari segala hakikat?
Kau lupa?
Ah Tuhan. Bukankah tak pernah lupa, tak melupakan, tak mungkin dapat dilupakan?
Bulan berlalu dan aku melakukan semua rutinitas sebagai seorang perantau yang bekerja penuh waktu di sebuah lembaga swasta. Lembaga dengan cabang dimana-mana. Suatu hari nama Maryam berkedip masuk ke kotak masuk, rupanya itu pemberitahuan dari operator saja, bahwa panggilanku beberapa kali di minggu ini sampai ke nomor Maryam. Itu tandanya: sudah aktif!
“Maryam!” aku kegirangan.
Lambat suara itu hadir, tersedak oleh perasaan yang campur aduk. Suara berat memulai percakapan itu.
“Ini Bapak, Ndra..”
Dengan kegamangan aku menerima dipanggil sedemikian. Dengan masih terguguk suara berat itu melanjutkan kata-kata, singkat saja. Isinya beruapa kenyataan bahwa Maryam tak akan dapat lagi kutemui, selamanya dalam wujud yang bisa terindrai.
“Bukankah engkau suaminya? Mengapa kau tidak bertanggung jawab!” bentaknya diujung berita.
Aku suaminya? Aku sendiri lupa bagaimana caranya aku menjadi seorang suami dari perempuan yang meluluh lantakkan kecenderungan itu.
“Aku bukan Andra Pak. Aku Nurdin!”
“Ya, jelas persis kau Andra. Lihat ini nomor siapa, hah?”
Aku tercekik, dari mana nama Nurdin kuperoleh? Aku hanya menerka-nerka, saat bekerja orang-orang memanggilku Nurdin.
***
Adalah Maryam, istriku, yang telah membawa semuanya pergi. Juga Imran, bayi kecil kami yang juga ia bawa pergi. Kenangan itu kabur, entah sejak kapan dan mengapa aku terkena penyakit lupa ini. Sedang Maryam adalah istriku, tak mungkin aku lupa. Tak mungkin! Tetapi itulah manusia. Aku pun manusia. Hanya Tuhan yang tak pernah melupa.
Tasikmalaya, 15 April 2015
Kamis, 09 Juli 2015
SIDANG SKRIPSI
sedang tidak enak badan, tapi ingin menuliskan sesuatu tentang skripsi.
buakn lagi tentang bagaimana menyusunnya, tentang bagaimana proses sidang itu berlangsung. Jika aku mesin, ini cerita akan kuulang-ulang diceritakan... kepada sesiapa yang ingin tahu.
Enam hari sebelum sidang skripsi, aku bersama teman iseng-iseng membayangkan proses persidangan. maklum, kita terlalu parno..
dan dari obrolan itu sepakat dengan tips-tipas menghadapi penguji:
1. Pura-pura sakit, bleh meriang flu, sakit gigi, atau batuk-batuk. Mana ada penguji yang tega nahan tersangka sampai 1 jam 2 jam, kan tersangka mau ke dokter segera gituloh, walaupun gak ke dokter ya kan harus istirahat.
2. Tips 2 ini cukup manusiawi, bagaimana kalau pas sahur kita makan jengkol atau pete, terus jangan gosok gigi, nah nah kan berhadapan, penguji gak mau dong bau terus menerus, alhasil sidang akan cepat berlalu. Bisa sih, tapi bisa dipastikan nilai atittude kita C, hehehe..
3. Tips ketiga adalah menjawab pertanyaan dengan semanis mungkin tanpa pembelaan untuk hal-hal teknis, dan pantang menyerah untuk masalah yang bisa ganggu kontent, misal mempertahanakan rumusan masalah :D kan kalo masalah penomoran halaman mah, bukan esensi. Harus manis nih, kalo bisa angguk-angguk kepala dan mencatat semua perkataan penguji. hahaha...
4. Tips ke empat, menjawab sebelum dikasih pertanyaan. begini, coba anda.... langsung kita jawab, "saya bersedia pak." haham tips ini apasih gaje.
Begitulah kita menciptakan tips menghadapi ujian sidang skripsi.
Entah karena kualat atau apalah, setelah percakapan malam itu, dinding mulutku bengkak, sariawan, dan sariawannya suhbanallah sebesar naudzubillah, kalo kesentuh gigi samping, rasanya ingin teriak sekuat-kuatnya............. sakitttttt banget! Seumur hidup baru mengalami sariawan separah ini. Dan kata orang ini bisa disebabkan:
1. Setres
2. Kurang tidur
3. Kurang minum
4. Kurang makan buah dan sayur...
Pokoknya gitu lah, berbagai cara dilakukan. Sempat terbesit, apakah ini karena efek menggunakan akawa gigi juga ya? Sejak Juni saya berniat merapihkan gigi, dan benar saja, setiap mau bicara saya harus buka mulut hati-hati, kalu tidak kawat gigi bisa nyangkut di lubang naudzubillah itu...
Ibu bilang, ke dokter, buka lagi saja kawatnya!
Ada 4 hari tiap mau buka saum, bangun tidur, atau mau sahur pasti nangis dulu, apalagi pas gosok gigi, cireumbay....
Sakitnya gak ketulungan, sampai suatu hari berdiri di depan cermin dan berkata, aku gak sakit, kamu sakit ge aku kuat, tapi tetep we bari ceurik... da sakit. LOL.
Bapak bilang, coba pakai harangasu, harangasu abu hitam dari sisi-sisi hawu... yeuh kolot jaman baheula mah pake harangasu. Oke... dengan mata terpejam, kuoleskan harangasu ke dinding mulut tepat ke lubangnya, dengan air mata bercucuran akhirnya si harangasu menempel tepat. jedad jedud berkurang, setelah itu tetep sakit lagi...
Ibu bilang aku salah memakinya, harusnya pas mau tidur, terus biar sama kapasnya saja.
oke, demi sidang lancar, saya coba lagi, walau tahu sakitnya kaya gimana... oles harangasu pakai kapas, ditempel di lubang sebelum tidur bari cireumbay!
Pas bangun tidur, memang enak dingin, dan pipiku chubby kan, nah nah sebelum makan tentu kapas di lepas dong, lalu satu dua.. tiga.. kapas di tarik.. "AWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWwwwwwwwwwwwwwwwwwwww!" seperti dicubit didaerah yang luka. menjerit sekuat tenaga, sakit broh!
Ibu kaget, kenapa? kulihat lubang di dinding mulutku semakin dalam dan merah. Kata ibu, atuh da kapasnya di bawa tidur!
Ibu!!!!! kan ibu yang bilang...
Dengan santai ibu bilang, 5 menit saja, kapasnya ambil lagi..
Ah sudahlah...
Hari selas sidang, tapi sariawanku tak kunjung menunjukkan tanda sembuh, aku tak bisa berkata, meminta atu berbicara dengan isyarat, atau menulis. dan sebalnya orang-orang malah ketawa, atau ngajak bercanada yang bikin posisis mulut pipi dan wajah berkerut, itu sakit loh. jadinya sering menyepi dan nangis sendiri deh...
Hari Senin kembali ke tasik, ibu menyelipkan harangasu di balik tasku, anggo nya kata ibu. Senin itu aku mau ketemu OM Pidi, mau simulais sidang, dan memang walau terbata-bata aku bisa ngomong dan menjawab pertanyaan om pidi.
Om Pidi bilang, itu sih kamu pakai kawat segala ih, buka kali lah Li... duh!
Akhirnya pulang dari Om Pidi, karena tak kuat dengan sakit, dan harangasu tak mempan, oh ya sempat juga pakai osari yang dari madu dan kurma itu loh, GAK MEMPAN, ngajeletot tapi terus aja nyut nyut.. memutuskan ke dokter gigi, dokter gigi yang biasa merawat tak bisa datang ya sudah datang ke dokter gigi lain, dan alhasil dibuka lah dua kawat yang dekat dengan lubang naudzubillah itu.
Apakah jadi plong? Mendingan, tapi tetap sakitnya tak bisa dihilangkan terutama ketika berbicara.
Besok sidang tapi aku gak bisa bicara? bagaimana bisa, ya ALlah sebuhkan abi ya Allah.. itu doa yang tak henti-henti.
Tahu gak? Selama sakit sariawan, saking panasnya mulut kalo tidur ingin sekali dikipasin, sampai selalu nyiapin kain khusus jika aku posisinya ke kanan atau kiri, siapain buat ngeces! Hahaha jorokkan, but that true!
Hari H tiba... ini tulah kayanya, aku beneran sakit, sariawanku jedud-jedud, mungkin ini puncaknya.
Dengan masker pink, aku siap di sidang... penyidangnya:
1. Prof. Cece
2. Dr. Karlimah
3. Drs. Edi Hendri
Tahu kan ketiganya, guru-guru besar idealis yang aku akan mendadak ciut, dan bisa membuat berat badanku turun drastis. Ya Allah, abi ingin hari ini lancar dan abi bisa bicara kalo ditanya ituh ya Allah plis ya Allah... itulah nikmat bisa bicara itu, jaga lisan makanya sist bro!
Ternyata prof Cece memsiahkan diri, ia menyidangku sendirian, eh dibantu dua asdosnya Pak Opik dan Om Pidi. ENtah karena situasi yang dibuat merinding, parnoku kambuh, dan jawabanku entah apa, menguap kemana semua isi skripsiku, dan yang pasti aku merasa suaraku bergetar hahahha,, sampai ketika akan berkata olehnya.. kok aku malah bilang olehna, aku berpikir huruf Y nya kemana ini? Aku ulangi katana, aduhhh kok ngilang sih.. hahaha. akhirnya aku diam, sambil pengen nangis gitu juga, hahaha, maklum gigi juga sakit karena kawatku membuat formasi baru pasca dibuka 2 biji... lah kompleks we, hari itu :D
teori apa yang anda gunakan? tanya pak Prof.
Tarigan pak dan wellek dan Waren. mengapa bukan teori anda? Anda tahu apa itu teori?
Sist bro, aku diam loh ditanya gituh beberapa detik, aku tak mau dong asal bunyi, sambil mikir masa perkuliahan dulu tahun 2011, pak didi yang bilang apa bedanya asumsi sama teori. AKu jawab sambil dagdigdug, "Asumsi yang sudah terbukti kebenarannya pak." "Iya itu teori, tepatnya teori itu itu sesutau yang bisa menjelaskan, menerangkan, terus apalagi ayo?
aku melongo....
"Menemukan.."
bukan itu, "memprediksi!" ucap prof, mungkin jengkel padaku yang belet.. :(
Apa yang anda ketahui tentang kebenaran?
Hah? Ini apa pula?
Jika berjata tentang kebenaran, maka sumber kebenaran yang bersifat postulat adalah kebenaran Tuhan, ucapku datar dan sok tahu, hahahha...
iya itu, benar, dan sumber itu apa?
setelah itu adalah hadist ucapku lagi hahaha..
iya apa itu sumbernya? aku masih aja loading.
"Alquran dong!" ucap prof gereget, hehe peace Pak.
Panjang dan lebar lagi pertanyaan, tentang narasumber skripsiku sastrawan Acep Zamzam Noor, mengapa anda memilihnya? apakah anda memilih be,iau karena anda merasa harus memperkenalkan beliau atay karena masalah?
Karena masalah dilapangan pak, jelasku datar.
bagus, ucap prof lagi.
Ya ALlah untung mulutku gak salah jawabm ya Allah, terima kasih.
Kenapa tidak membuat biografi ANda saja?
Aku tercekat, biografi diriku sendiri? Siapalah aku mah pak, apalah-apalah, jawabku.
Pak Prof marah. Kamu ya, tidak bersyukur, kamu itu.... (bahasa pak prof asalnya anda jadi kamu?) kamu harus syukuran! Jangan pesimis, jangan down, potensi kamu bla... bla... kamu itu pasti banyak yang suka ke kamu... sudahlah skripsi kamu sudah oke, saya mau pesan ke kamu, tanggal 25 Juli saya juga pergi dari kampus, begitu juga kamu, anggap ini petuah ya, kalau jodoh itu jangan standar tinggi.. bla-bla-bla...
Hidup ini mana tahu, nih dua orang ini, mereka gak tahu mulanya akan jadi dosen, ujarnya melirik pak opik dan om P, dia liriknya pada pak Opik, hanya seorang mahasiswa yang suka di masjid ngawurukkan barudak, gak tahau hati saya tersentuh saja dan nawarin dia ngajar di kampus. Tuh hati saya yang bergerak saya gak tahu, itu kehendak Allah... kamu juga...
saya jadi meleleh mendengarnya, banyak yang diceritakan beliau tentang jodohnya, ibu. Dan itu berujung pada pertanyaan penutup, jadi kesimpulan yang tadi saya omongkan apa?
"jangan mencari yang sempurna pak! ucapku polos dan bingung.
Ah kamu, bukan itu... kamu Pidi, apa?
Om Pidi tersenyum sama-sama bingung wajahnya, "Harus saling melengkapi pak, ucapnya mantap.
nah itu: SALING MELENGKAPI!
Sampai saat ini, itu yang aku ingat dari sidangku dengan beliau. Sok ada yang mau nanya, tawar pak prof pada dua asistennya. Pak Opik mengambil buku produkku, ini puisi siapa?
karya peneliti pak,
karya siapa tanya pak prof ingin tahu juga?
Annisa Zahraa pak. jawabku.
Dan om Pidi meledak tawanya, begitu juga pak prof yang memandangku dengan aneh.
Coba bacakan! perintah Pak Opik.
Guys, bayangkan gigiku yang sakit ngomong aja, mesti baca puisi, sumpeh itu mau nangis saja, sambil minta ampun, takut-takut air liurku yang panas keluar bak lahar tak tertahan. Ya Allah...........
Akhirnya kubacakan puisi, dan diujung sesi tepuk tangan untuk tangisku yang tak bisa ditahan, sakit bro! bukan menghayati puisi :(
Setelah ditanya bertubi oleh Pak Opik, gak bertubi juga ketang, pak prof memperlihatkan nilai yang kuperoleh, nih buat kamu, saya berani nagsih dan memperlihatkan ke kamu, sudah tanpa revisi! Aku melongo dan setenagh bahagia juga... sidang itu tak semenyeramkan awalnya. Saat pak prof mempersialkan duduk, dan bertanya, siapa nama Anda?
hah, ini serius nih ucapku sambil degdegan.
Semua aman pada akhirnya.
Keluar dari ruangan sidang, mencari WC, pakai masker lagi.. siap diuji lagi dengan dr. arli dan drs. edi.
______________bersambung dulu ya_______________-
Minggu, 31 Mei 2015
Welcome Juni 2015
Di bulan ini...
Berapa hari lagi daftar sidang...
Berapa hari lagi sidang...
Berapa hari lagi...
Dan bulan depannya...bulan Juli..
Apa kah yang akan Tuhan Kehendaki akan diri ini...
Wahai Juni, seperti isi surat Umar terhadap Nil. Jika engkau bukan ciptaan Allah maka janganlah kau bergerak, namun jika engkau menggulirkan hari-harimu karena kehendak dan perintahNya, maka bergeraklah dengan mudah dan lancar.
Masih tahun lalu, Juni lalu, saat KKN, dan kenangan lalu, telah jadi latar belakang dari sebuah proposal kehidupan. Kini, hendak kujalani, dan yang kini adalah latar belakang pula untuk depan yang mungkin masih berupa misteri.
Adakah Juni kini, saat semuanya telah jauh lebih berubah. Aku memutuskan menari saja dengan laurnya, merasa nyaman dengan zonanya, ada masanya muda harus berkarya, tak boleh lagi begini.
Baru saja kemarin memimpikan ingin mengunjungi ITB, tanggal 4 Nanti Allah jalankan takdirku mengunjunginya. Jika saja impian itu sudah begitu ingin dialami, begitu jelas tergambar... semuanya manjadda wajada...
Termasuk dengan hal satu itu yang aku inginkan, mandiri dan bisa berdiri dengan kaki sendiri.
Oh Tuhan Juni, rahasiakanlah apa yang membuatku malu..
Oh Tuhan Juli, lindungilah diriku, dan tuntunlah diri ini menemukan kebenaran dan keridhoanMu...
Oh Allahku, sekiranya jatah usiaku di dunia ini masih ada, sebelum sampai nafas ini terhenti, perbaikilah akhlakku, perbaikilah Rabbku berilah aku kesempatan membahagiakan hati saudariku tanpa menyakitinya... jadikan diri ini cukup atas dunia dan hak-hak manusia.
Jauhkan mataku dari memandang yang tak mesti, jauhkan telingaku dari mendengar berita yang mengusik imanku, jauhkan kaki tanganku dan tubuhku dari melakukan sesuatu yang tak Kau sukai.
Jika saja Juni ini tak ada bedanya dengan mei, april, maret, ....
Biarkan sekali ini, aku jadikan juni sebagai satu penanda.
Dengan perantara Musa, kumohonkan pada Mu sebuah kebaikan padaku bulan ini.
Dengan perantara Yunus, sungguh kuakui diri ini telah menganiaya diri sendiri.
Dengan perantara saudara-saudara Yusuf, bahwa kuakui pula aku telah melakukan kesalahan, dan aku ridho terhadap apa yang akan diputuskan atas takdirku.
Karena engkau maha pengampun lagi penyayang....
Selasa, 12 Mei 2015
Tamu Masa Depan
"Saat usia ibu 22 tahun 8 bulan, ibu memutuskan untuk berdiri," ucapku memulai cerita.
"Apakah selama ini ibu hanya duduk-duduk?" tanyanya heran.
"tentu saja, ibu tidak duduk jika Allah tak hendaki, nak. Ibu duduk karena belum siap. Di usia itu ibu merasa siap, karena kuliah hampir selesai, dan tuntutan untuk lain hal telah tuntas."
"bagaimana ibu berdiri dan ayah dapat melihat ibu?"
Aku tersenyum, anakku terlahir sebagai anak yang kritis dan jenius. Tentu kekritisan ini dari Ayahnya.
"Apakah kamu dapat melihat cahaya dengan jelas di siang hari? Tat kala ada matahari?"
"Tentu tidak, apalah artinya.."
"Begitulah, ayah menemukan ibu saat malam itu ada satu cahaya saja."
"Apakah cahaya itu milik ibu?"
Aku lagi-lagi tersenyum.
Mengingat rangkaian masalalu, yang mungkin saja saat ini terasa misterius.
"Ayahmu orang yang baik, pekerja keras, bisa melihat masa depan dengan jelas, walau pun saat itu posisi ia tak jelas."
"Ibu, apakah ayah pun adalah cahaya. Dan ibu bisa menyambutnya waktu itu?"
Aku ingin tertawa. Tapi niatku diurungkan, tentu saja karena anakku ini bertanya dengan mata serius.
"Tentu. Ayahmu seperti bulannya saat malam, sedang ibu hanya kunang-kunang betina, yang cahayanya hanya cukup untuk menerangi diri sendiri."
"Aku ingin seperti ayah." uacapnya semangat.
Aku memeluknya, terharu. Ya, tiada kebahagiaan yang Allah karuniakan sebagai penghapus duka selain buah hati dan keluarga yang mencintai.
Tetiba. Anakku melepaskan pelukannya, berlari, dan berteriak"Abbu...!"
dari kejauhan pula kulihat samar-samar, seorang lelaki yang dipanggil abu oleh seorang putra yang tadi memelukku, dan mengaku sebagai anakku, berdiri tegak sempurna.
Mataku yang kabur, dan pendengaranku yang terbatas, tak sampai menerka dengan tepat. Mereka menjauh dan masuk kekehidupanku masa kini. Aku semakin samar, dan bayangan mereka gelap.
Ia adalah suami terbaik. Entah siapa.
Kamis, 23 April 2015
Cinta
Berdiri diantara dua pilihan
Memilih A atau B
Jika A inilah akibatnya..........
Jika B inilah jadinya.............
Bagaimana jika A dan B, akhirnya berlalu?
Tolong jangan sampai...
Kucoba melakukan istikharah
Tetap saja, hatiku condong pada keduanya,
Akhirnya aku memutuskan
Bagaimana jika menanti saja,
Siapa diantara dua itu yang sabar, lalu salah satunyaberlalu
dan aku akan menjaga satuya..
ah lalu bagaimana jika keduanya sepakat untuk berlalu?
Berdiri diantara dua pilihan
Memilih M atau N
Jika M, dia begini, lebih, kurangnya kutimbang
Jika N, begitu, lebih, kurangnya kuhitung
Siapa yang salah tiba-tiba perasaan ini muncul begitu saja?
Tentu karena mata ini sebelumnya tak kujaga,
tentu karena komunikasi ini sebelumnya tak kubendung
ini akibatnya,
saat cinta telah tumbuh dari mata ke hati,
tak ada hati yang jernih lagi untuk menumbuhkan cinta dari mata
Oh lupa,
Takdir akan membawaku, pada siapapun.
*Maafkan jika diri ini penyebabnya.
Assalamualaikum sahabat, hari ini kita bahas puisi di atas ya :)
Jika saya ada diantara pilihan itu, dan sama-sama mengetahui bahwa posisi saya ada di A atau M atau B atau di N. Langkah terbaik adalah: mundur karena Allah. Jadi ingat iwan fals: aku bukan pilihan.
Tuhan memberikan ujian pada hambanya, sesuai tingkatannya. Saatnya kini kita menjadi dewasa, dan mampu mengendalikan semua yang terjadi. Apa yang bisa dilakukan?
Pertanyaan bagus, berarti fokus pada solusi:
Bismillah mudah-mudahan ini solusi yang tepat untuk siapapun, tanpa ada yang tersakiti.
- Cinta itu mampu dibangun, oleh sebab itu pilihan terbaik adalah menikah.
- Bagaimana jika SIM belum di dapat, maka "berpuasalah" sembari terus memantaskan diri kita di hadapan Allah.
- Berdoalah untuk satu kata: suami, bukan satu nama. Itu!
Jika mampu meyakinkan keluarga, segeralah menikah, karena itu akan menjaga kesucian hati, memperbaiki keluarga, menjaga warisan keturunan, dan kehormatan. Bagaimana jika keluarga belum mengijinkan? Bertawakallah pada Allah. Berpuasalah, menundukkan pandangan, dan tutup telinga dan mata, murnikan hati.
Ingat sayang, janji Allah: Barang siapa yang melepaskan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Percaya gak? Yakin gak?
Kemudian Allah pun berjanji bahwa: Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik.
Jadi percayalah: Terus menerus belajar untuk lebih baik dari hari ke hari, in sya Allah, akan dipantaskan dengan yang baik pula. Berlalulah, mendayunglah, lurus ke depan, jangan hiraukan, percantik akhlak, banyak yang harus diperbaiki. Tidak sekedar dzahir tetapi juga batin.
Yakin sama Allah, berdoalah untuk lulus ujian ini, dan mendapatkan jodoh terbaik, yang bisa mencintai dan melindungimu dengan tanpa keinginan untuk melihat wanita lain. Bukankah itu keinginan setiap wanita?
Tetaplah pada jalan dakwah, lalui semua dengan kesabaran, perbaiki shalat, dan belajar menerima kenyataan, cintai setiap orang, hiduplah dengan bahagia.
Az.
Langganan:
Postingan (Atom)


