Selasa, 31 Maret 2015

Catatan Yang Ceritanya Calon Guru (@_#)

Katakan dia seorang kakak. Aku? Seorang yang intens berkunjung ke dinding fesbuknya. Apalagi yang ia tulis kali ini, ah tentu saja tentang anak didiknya, tentang sekolahnya yang penuh inspirasi. Sejujurnya, aku adalah mahasiswa PGSD, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, yang sudah semestinya mengerti ilmu memahami dan mendidik anak. Tetapi, aroma mendidik anak seolah jauh dari keseharianku, aku lebih sering jengkel terhadap perilaku mereka, tapi sejak hobi stalking itu, aku mulai mengerti, siswaku adalah heart-warmerku…. 

Tulisan di dindingnya kali ini apa? Aku tergerak dan mencari nama Risa Wismaliya. Tertera paling atas di dindingnya sebuah judul yang ia tulis panjang “Sayang melalui Perjuangan (Banjir Hadiah)”, apa pula ini? Aku mencoba menerka apa isi tulisan ini, rasanya jari tak sabar untuk menekan read complete. 

“Minggu pagi kemarin,” tulisnya memulai cerita, aku dikejutkan dengan kedatangan tiga orang siswa…. Begitu terus kubaca sampai akhir, sampai titik. Aku berusaha mencari kelanjutannya, tapi tidak ada lagi, habis. Habis dengan tulisan: Bukan hanya dengan barangnya tetapi perjuangan mereka untukku, artinya mereka sayang. 

Tulisannya tentang tiga anak didiknya yang datang jauh-jauh untuk memberinya hadiah di hari Minggu pagi, ah hadiah? Hadiah yang banyak, tidak hanya satu bahkan lebih, benar-benar banjir, aku tahu kesimpulannya adalah banjir kebahagiaan, banjir kasih sayang dari siswanya.

Apa yang telah ia lakukan sampai-sampai tiga orang anak itu nekad datang jauh-jauh hanya untuk memberi kejutan? Dengan diantar seorang ojek jalanan, mereka bertiga berdempetan menuju pasar, mencari badcover, sepatu dan kerudung untuk ibu gurunya. Lalu dengan senang hati mengantarkannya pula dengan penuh suka cita. Apa yang menggerakkan hatinya. Aku terus mencari alasan itu. Mengapa anak-anak yang biasanya nakal begitu murah hati dan bertindak inspiratif demikian, apa yang telah meracuninya? Oh bukan meracuni, siapa yang telah merubahnya? Aih tentu saja gurunya. Pertanyaannya jelas: Apa yang telah dilakukan seorang Risa terhadap siswanya?

Aku menelusuri mungkin ada catatan atau status yang terlewat dari dinding fesbuknya. Tertanggal 05 Januari 2015 dia menulis sebuah status, “Bunda hanya ingin kalian menjadi anak-anak yang sholeh, itu pun sudah cukup… tetapi Bunda juga bahagia dengan cenderamata ini, makasih ya, Dafa-Dafi.” Aku yakin benar Dafa-Dafi adalah nama siswanya di sekolah, distatus itu nampak pula sebuah gambar gantungan kunci dan jam weker.

Benar, aku semakin iri… bagaimana, bagaimana, bagaimana caranya agar anak-anak itu mencintaiku?

Sampailah pertanyaanku pada catatannya yang lain, ada tentang ketika ia dalam kelas, ketika membuat ranting mimpi, sering kali ia dan siswanya duduk lesehan untuk belajar, botram (makan nasi bersama siswa), ketika ia meminta ijin tidak masuk karena harus ke Malaysia, catatan ketika anak-anak merangkulnya saat pulang dari Malaysia, catatan ketika ia meminta anak-anak membuat surat terimakasih untuk ibu dan bapaknya, catatan ketika ia menangis bersama siswanya sebelum ia pergi lagi ke Malaysia yang seolah tidak akan bertemu lagi, catatan ketika ia menjadi coach lomba futsal dan volley putri, catatannya ketika siswanya menang sebagai juara umum, catatannya ketika memandikan siswa, dan catatannya ketika ia membagikan raport, ketika semua murid maju ke depan sebagai juara dari setiap kategori.

Rupanya ini yang membuatnya sangat dicintai murid, ia mengerti dan memahami muridnya lebih dari ia memahami dirinya. Tulisnya lebih mengagetkan, ketika ia menangis bersama siswa sebelum berangkat ke Malaysia, ia mendelegasikan tugas kelas ke muridnya yang bahkan masih kecil, lagi-lagi semua mengerti dan siap. “A tuliskan anak-anak yang nakal, B ingatkan jadwal piket, C bla…bla… sampai semua siswanya mendapat amanah,” lalu dengan itulah mereka belajar bertanggung jawab. Konsekuensi yang nakal tidak dapat oleh-oleh, dan lain-lain.

Ketika itu, setelah semua mendapat amanah. Ia duduk tenang melingkar, lalu dimulailah percakapan yang mengharukan, saat ia meminta maaf pada muridnya. Jarang bukan ada guru yang memint maaf? Apalagi dengan cara yang mengharukan, sampai muridnya berkaca-kaca. Murid perempuan yang lebih sensitive langsung memeluknya, guru yang selama ini ia sebut “Bunda”, tetapi murid laki-laki berbeda, mereka terbengong-bengong, bingung, dan sebagainya. Lebih mengharukan saat siswa perempuan menjawab permintaan maaf dengan tangisan, “Bunda, maafkan kami. Kami yang nakal, jangan menangis Bunda.” Tentu saja Bunda Risa selalu memiliki ide yang tak akan pernah bisa dilupakan seumur hidup oleh siswanya. Ia berkata, “Bunda akan berhenti menangis, tetapi ada syaratnya, tolong hapus air mata Bunda tapi langsung oleh tangan siswa laki-laki.” Inilah uji mental. Ia begitu berani mengajukan sesuatu yang seolah remeh, tapi besar sekali akibatnya. Bagaimana jika tidak ada yang berani? Di sana ia menulis, ia memejamkan matanya, setelah beberapa menit kelas tetap sepi tidak ada yang berani, anak perempuan meminta anak laki-laki, anak laki-laki justru gelisah, ada yang lari tak jelas, ada yang mengegrak-gerak tangan kaki, semua salah tingkah. Bertambahlah air mata Bunda Risa, kemudian seorang anak laki-laki keluar kelas, entah kemana. Satu menit kemudian dia datang, mendekati Bunda Risa. Bunda Risa yang masih duduk, bertanya, “Tadi dari mana?”

Dengan malu dan segan, anak laki-laki menjawab, “Maaf ibu tadi cuci tangan dulu, tangannya kotor, maaf….” Bertambah deraslah air mata Bunda Risa, ia menangis, benar-benar terharu dengan anak didiknya. Dengan tangan gemetar anak itu menghapus air mata Bunda Risa.

Aku ikut menangis membaca catatan itu, siswa yang selama ini membuatku pening, naik darah, dan sebagainya, terasa berubah tingkah dihadapan Bunda Risa.

Suatu hari ingin kubertanya padanya, bagaimana ia bisa dicintai?

Tulisannya lagi lah yang menjawab, perlakukan anak didik seperti anak sendiri, jadikan ia inspirasi, bukan hanya siswa yang belajar dari kita, sejujurnya kitalah yang belajar dari mereka. Mereka memiliki pengalamna yang kaya, seringkali mereka lebih cerdas dari yang kita bayangkan. Kepolosannya adalah kejujuran, ungkapannya tak dibuat-buat, mereka adalah inspirasiku. Anak-anakku kalianlah, inspirasi Bunda.

Aku terdiam malu, dan memikirkan apa yang telah kulakukan selama ini. Apa yang akan kulakukan terhadap anak didikku? Ah aku merasa mencintainya dan ingin segera bertemu dengannya, siapapun mereka, siswaku.

Rabu, 11 Maret 2015

Sedikit Refleksi

Sambil menuliskan ini, saya mendengar ceramah Aa Gym "Menemukan Sang Menantu". Sambil bergetar, mendengarkan bagaimana proses bagaimana beliau memilihkan menantu untuk putrinya. Saya kutip sedikit bagaimana sang anak menyerahkan urusan jodohnya kepada orang tuanya, AaGym menirukan ucapan Icha, "Bapak, Icha mah gak akan nyari jodoh, biar Allah saja yang menetapkan, syariatnya biar Bapak saja yang mencari". Hikmah apa yang bisa diambil bila anak menitipkan jodoh pada orang tuanya? Berikut ini adalah sepenggal cerita K.H. Abdullah Gymnastiar dalam mencarikan jodoh untuk putri keeempatnya.

Ya Allah, saya menjadi sedih sangat sedih....

Aa mengatakan, ini anak menitipkan jodoh pada bapaknya, yang bapaknya ini kurang ilmu kurang kasih sayang. Bagaimana dengan nasib hamba yang menitipkan jodohnya pada Allah, yang sempurna ilmu dan kasih sayangnya.

Rabb, pernah hati ini salah, dan tergelincir pada keinginan hati yang tak sepantasnya.

Kini segalanya kutitipkan kepada Mu, segala rasa yang ada, segala aib yang tersembunyi, segala nafsu yang menggebu, setiap rindu yang menyiksa, jika semuanya telah Engkau siapkan, hamba ridha dengan segala pilihanMu, kutitipkan segalanya pada Mu, Engkaulah sebaik-baik pemilih, berilah yang terbaik untuk kehidupan akhirat hamba. Rabbku... pilihkanlah yang terbaik.

Jika lembaran kemarin penuh kesalahan, maka hari ini lembaran masih putih.

Hati ini hanya harus yakin, bahwa masa depan yang terbaik akan datang, tetap berkhusnudzon kepada Allah.
Tiada perkara yang luput dari pengetahuanNya.

Semangat calon Ibu Rumah Tangga yang baik, (^^) calon  guru SD yang baik, cmiiiwwww!


Senin, 02 Februari 2015

Guru Profesional?

Walaupun aku sepakat bahwa menjadi seorang guru bukan sebuah profesi, tapi meyakini jika guru haruslah profesional, yes banget!

Mejadi guru bukan sekedar cita-cita, melainkan panggilan jiwa, bukan? Aku mulai menghayati peranku, walau hari ini, baru berani duduk di ruang kantor, mendengarkan suara anak-anak, dan terus mengetikkan jari, sembari berkata kata dalam hati.

Menjadi guru harus profesional?

Mataku tertuju pada sebuah banner yang dipajang di ruang guru, tepat dihadapanku. 10 ciri guru profesional.
coba kupahami satu-satu.
  1. Selalu punya energi untuk siswanya.
  2. Punya tujuan jelas untuk pelajaran.
  3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif.
  4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik.
  5. Bisa berkomunikasi baik dengan orang tua siswa.
  6. Punya harapan yang tinggi pada siswanya.
  7. Pengetahuan tentang kurikulum.
  8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan.
  9. Selalu memberikan yang terbaik untuk siswa dan proses pengajaran.
  10. Punya hubungan yang berkualitas dengan siswa. 
(Kemendiknas, 2011)
 
Bismillah, rupanya ini ciri seorang guru profesional. Belajar dari ahlinya, mereka yang berpengalaman. Semoga banyak mengambil pelajaran dari sini. Niat belajar...karena Allah.
 
Akakakkaaakk, masih takut sama anak-anak. tidak mau memberi kesan pertama yang buruk, jadi masih belum berani keluar....hahaha.
 

Kamis, 27 November 2014

Menginginkanmu Bulan

Menginginkanmu Bulan
Berlabuh di pangkuan malamku
Di beranda rumah mengganti hujan
mengganti denting air dan bulir embun

Menginginkanmu Bulan
Jatuh di sudut sudut gelap kota
Memeluk jiwa-jiwa yang terlukam
dan aku

Menginginkanmu Bulan
Berbicara padaku lagi
Memberi satu dua senyum nakal
dan menghiburku di tengah malam

Bulan
Teki apa yang tengah kau cipta
Langit apa yang tengah kau damba
Sedang malam gulita
dan jiwaku... entah berlari kemana?

Bulan
Jika urusan panjangmu telah usai
Berbaliklah dan katakanlah satu kata dua kata
Kita masih bisa bercengkrama di hutan-hutan tanpa tutupan.

Aku menginginkanmu, Bulan.

Minggu, 23 November 2014

Menjadi seorang guru?

Pada mulanya aku membayangkan akan menjadi seorang guru yang disenangi siswa-siswanya, yang mampu membangkitkan semangat para anak didiknya, dan bisa menikmati keberhasilan dengan mnyaksikan siswa-siswa sukses menjadi orang-orang yang berguna dalam hidupnya, baik untuk masyarakat maupun bangsa serta Negara. 

Namun kini, tantangan baru kuhadapi, setelah menceburkan diri pada sebuah jurusan kuliah bernama pendidikan guru sekolah dasar, mendapatkan rasa takut yang tak bisa dielakkan. Setelah dijejali berbagai macam teori pembelajaran, metode, strategi, teknik, pendekatan, dan lain-lain justru yang tumbuh bukanlah rasa ingin jadi “guru” yang semakin membara tetapi yang muncul kini adalah “aku takut dan tidak percaya diri” untuk menjadi seorang guru. Apalagi mendapati kenyataan, anak-anak di sekolah bagaikan monster-monster kecil yang menyulutkan api perang setiap harinya, menguras emosi, membuat kepala pusing, dan amarah yang hampir pecah. Dari beberapa kali praktik mengajar yang kulakukan, tidak ada satupun kegiatan belajara yang nampak manis dan menyenangkan, akan selalu ada rintangan yang ditimbulkan oleh manusia kecil bernama “siswa”.

Suatu hari aku bertanya, mungkinkah ini karena praktik mengajar di perkuliahan yang kurang?

Setiap hari kami pergi ke kampus, duduk di kursi dengan manis, mendiskusikan berbagai kemungkinan pembelajaran yang terjadi di dalam kelas yang kelas dan siswa-siswanya hanya adal dalam benak kepala. Lalu mempelajarai berbagai metode, kemudian menerapkannya pada kondisi yang kita tak tahu, beginikah ketika di lapangan? Yang jelas aku hanya melihat bahwa kita terlalu banyak berpikir dalam praktik yang kosong. Melihat kelemahan bahwa perguruan tinggi hanya mengadakana pelatihan mengajar di akhir tahun, saat beberapa bulan lagi akan dinyatakan lulus.

Di belahan Negara lain, lembaga pendidikan “pabrik guru” telah menyadari betapa pentingnya sebuah praktik mengajar bagi seorang calon guru. Mengutamakan praktik berarti telah memberi kesempatan keada seluruh calon guru untuk berpikir ulang “apakah aku benar-benar ingin menjadi seorang guru?”, kenyataan dilapangan bahwa kelak engkau akan menjadi seorang guru dengan siswa yang tidak selalu manis, bahwa inilah yang akan  dihadapi. Banyak masalah yang menuntut keningmu untuk mengkerut, bibirmu mengerucut, bahkan matamu meneteskan air. Inilah yang akan kau temui! Adakah masih ingin bertahan untuk menjadi guru dengan optimis dan gigih? Karena dengan menjadi guru, artinya menentukan arah masa depan bangsa. Ibaratnya peran guru adalah seseorang yang sedang lomba marathon di kegelapan, orang tidak peduli, biapun ada yang peduli ia tak menghargai, tapi seorang guru akan terus berlari dan menghargai setiap langkah usahanya, karena ia yakin janji kemenangan di depan sana.

Pelatihan mengajar diadakan di awal tahun, bahkan di setiap bulan, memberikan ruang pada calon guru untuk memahami masalah-masalah yang akan ditemui. Tidak sekedar mengawang-ngawang.

Saya hanya seorang mahasiswa tingkat akhir yang kebetulan berada di jurusan PGSD, lalu mulai meragukan ilmu yang telah dipelajari. Sudah cukupkah ilmu-ilmu ini untuk menjadi bekal saya? Akankah saya mampu menjadi seorang guru? Dengan kapasitas yang saya miliki ini? Sungguh meragukan diri sendiri adalah hal yang sangat mematikan.

Apa yang membuat saya berpikir jika saya tak bisa menjadi seorang guru? Saya mulai mencari alasan untuk setiap masalah tersebut, mencari tahu penyebabnya. Ya, apa yang saya temui ternyata adalah: pengalaman saya tidak nyaman dengan pembelajaran yang saya lakukan.

Baiklah, jika saya tidak nyaman, bagaimana membuat pembelajaran menjadi nyaman untuk diri saya?

Usaha yang paling mungkin adalah saya belajar dari pengalaman orang lain, akhirnya Tuhan menemukan saya dengan sebuah buku yang akhirnya dapat membuka kelopak mata saya untuk memandangi sebuah kejaiban bernama: “Siswa-siswa itu Menyenangkan!”

LouAnne Johnson menulis dengan detail dalam bukunya Pengajaran yang Kreatif dan Menarik, bahwa sebagai seorang guru akan dituntut dalam 3 area: interpersonal, akademik, dan kepemimpinan.

Interpersonal berhubungan dengan kecerdasan komunikasi soerang guru, akademik berhubungan dengan kecerdasan intelektual guru, dan kepemimpinan berhubungan dengan kecerdasan management guru. Bagaimana ketiga aspek tersebut menjadi mutlak untuk guru yang super, excellent, atau good. Menjadi guru yang disukai, tegas, humoris, cerdas, dan diikuti. Bagaimana bisa semua karakter yang saling bertentangan itu harus dimiliki guru? Disukai tapi juga disegani, humoris tapi tegas, bagaimana caranya?

Menghormati diri anda sendiri sebagai guru akan berimplikasi pada penghargaan Anda pada siswa, tidak dikendalikan situasi, tapi ANDALAH YANG mengendalikan SITUASI, bukan menguasai siswa-siswa, tapi anda bisa mengendalikan diri anda sendiri dan kelas anda. Jika ada seseorang yang tidak sopan menginterupsi penjelasan Anda saat sedang seriusnya mengajarkan sebuah teori, mungkin kita akan berteriak, “Zaki diam!” atau “Zaki, duduk!” atau “Zaki, dengarkan Ibu, jika tidak, Ibu keluarkan kamu dari kelas, atau ibu hukum kamu.” Dan serangkain perintah serta ancaman.

Tapi itu justru menjadi tampak menyenangkan untuk siswa, karena tandanya anda tertarik dengan situasi buruk yang diciptakan, untuk itulah kita harus tenang, coba melangkah ke arah Zaki dan memintanya dengan sopan “Zaki, ibu berharap kamu keluar kelas sebentar.” Tanpa jeda, kita bisa membukakan pintu kelas, dan mentapa Zaki dengan tatapan harapan.  Ketika Zaki berkenan ia akan melangkah keluar kelas, dan kita bisa berbicara di luar kelas barang satu menit, untuk mengajaknya kerjasama, jika ia bisa belajar di kelas dan artinya bekerjasama dengan kita, ia diperbolehkan masuk, jika ia tetap ingin mengganggu kelas dan berbuat onar, ia akan dikirim ke kantor, atau ruang guru. Biarkan ia berpikir dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Beri tanda, jika ia memutuskan. Misal ketuklah pintu jika ia ingin bergabung. Dan lanjutkanlah pelajaran kita.

Nah, bukankah berat pekerjaan seorang guru? Karena ia tidak hanya memberikan palajaran akademik semata, ia kini menjadi sosok sentral dalam panggung kelas, dituntut menjadi sosok yang disukai dan menjadi inspirasi siswa-siswanya. Bukankah setiap perbuatan dan perkataan guru akan terekam di benak siswa dengan jelas?

Menjadi seorang guru?

Seperti remaja yang baru menginjak dewasa, saya tiba-tiba merasa merindukan sebuah ruangan pribadi, sebuah kamar yang bisa saya dekorasi sekeinginan hati, ya sebuah kamar bernama kelas. Ingin memiliki ruangan sendiri yang bisa saya eksplorasi tanpa campur tangan siapapun, dengan siswa yang beraneka ragam.

Saya mulai membayangkan diri saya berada ditengah-tengah mereka, sebagai sosok baru yang sama sekali tak pernah mereka kenali. Lalu saya mulai berpikir, apa yang saya inginkan? Apakah saya akan benar-benar mengajari mereka? Ilmu apa yang saya miliki sehingga saya berhak mengajari mereka?

“Apa yang saya inginkan dari siswa-siswa saya untuk mereka ketahui ketika mereka meninggalkan kelas?”

Saya ingin siswa-siswa saya memiliki kemampuan akademis yang lebih baik, memiliki rasa yang kuat akan standar-standar etis mereka sendiri, kehausan yang tak pernah puasa pada pengetahuan, hasrat menjadi sukses sesuai definisi sukses mereka, dan kekuatan karakter untuk memperlakukan manusia dengan pengormatan dan harga diri.

Begitulah jawaban Johnson.

Baiklah, kita mulai masuk pada praktik dan teknis yang harus disiapkan oleh seorang guru yang benar-benar ingin menciptakan perubahan. Ini mengingatkan saya, karena sebentar lagi saya harus PLP, dan kemungkinan sekali untuk berhadapan dengan kondisi siswa yang tidak menyenangkan.

Saya menghadiahi benak saya dengan sebuah ruangan kelas dan sejumlah murid.

Baiklah, Ibu Eli, sekarang lakukan persiapan.
  • Siapkan ruangan Anda, bagaimana tempat duduk Anda dan siswa, situasi ruangan, tempelkan kata-kata motivasi, dekorasi ruangan dengan cat yang menyenangkan, tanam pohon palm palsu di sudut ruangan, gelar karpet lembut di sana, dan pastikan sepatu siswa disimpan di rak di sudut ruangan. Siapkan perlengkapan belajar sampai kesehatan, kotak “alat tulis boleh pinjam”, dan jangan lupa percayakan pembagian tugas untuk menjaga apa yang telah anda susun ke beberapa siswa.
  • Buatlah agenda harian yang akan anda tempelkan di papan tulis, jika perlu buatlah agenda semester. Buat kalender kelas, beri tanda, kapan ujian, kapan kuis, kapan hari libur, kapan hari special kelas, bahkan kapan ulang tahun siswa-siswa Anda. Biarkan kalender itu dipasang di dinding kelas, dan siswa Anda mampu membacanya, buatlah pengumuman atau memo, tiga hari sbeelum ujian, agar anak-anak Anda mempersiapkan dirinya.
  • Pada hari pertama Anda mengajar bu Eli, tidak perlu memulai dengan aturan yang justru akan membuat siswa kecut, fokuslah dengan merengkuh siswa-siswa melalui otak interaktif mereka. Dapatkan pegangan yang kuat. Akan ada banyak waktu untuk menyampaikan aturan.
----------------------------------------------
Pastikan setelah memenuhi persiapan, jadikan minggu pertama PLP menjadi minggu utama.

Hari pertama mulai dengan senyuman, pilihlah kegiatan sederhana namun cukup menarik, missal membuat kartu nama model tenda untuk diletakkan di meja belajar mereka. Sediakan kartu indeks dan spidol warna, biarkan siswa menulis namanya sendiri-sendiri. Atau menuliskan nama-nama mereka, lalu secara acak menyimpan nama-nama tersebut pada kursi yang harus mereka duduki. Atau meminta mereka menuliskan belajar seperti apa yang mereka inginkan, cita-citanya, dan masalahnya.

Jangan dilupakan, pakaian, cara berbicara, intonasi, volume suara, pilihan kata, dan terutama ekspresi wajah.

(Tulisan untuk siap-siapa PLP. Az.)

Selasa, 18 November 2014

Ikhlas...

Memang seperti kebanyakan orang, aku terbiasa berkata iklas, ikhlasin saja, aku ikhlas, ya hidup mesti ikhlas, ikhlas banget kok...
Tapi rupanya kita lupa dengan hukum belajar, bahwa ujian sesuatu materi hanya diberikan untuk mereka yang memang belum memiliki skill di materi tersebut. Misal seorang siswa belum menguasai aljabar, maka ia akan diuji dengan aljabar.
Lalu, ujian keiklasan hidup ini? Bukankah ini pertanda aku harus bisa menguasai ilmu ikhlas? Bagaimana caranya?
Ikhlas, ya. Sebuah ilmu yang perlu diperbarui setiap hari, lesensi ilmu ikhlas ini mesti dipertahankan. Sebab banyak hal pula yang dapat menyebabkan ilmu ini hilang, seperti tinggi hati, apresiasi diri berlebihan, bangga diri, merasa paling baik, merasa sempurna.... serta tentu saja karena lupa jika hidup ini hanya titipan.
Karena hidup memang titipan, jadi dijalani nyapun harus sesederhana mungkin, tidak merasa berlebihan dalam memiliki sesuatu atau mencintai sesuatu. Saat Allah percaya, ia titipkan pada kita fisik yang sempurna, harta yang cukup, orang-orang yang baik. Namun jika suatu saat Allah mengambulnya, akankah kita menyesal atau marah?
Bukankah Allah pemiliknya? Mengapa harus marah? Mengapa harus tidak terima? Semuanya milik Allah termasuk jiwa kita, dan yang tersisa dari kita adalah dosa, kita tak pernah memiliki apa-apa.
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS. Al An’am:59).
Lalu jika ini adalah perbuatan Allah, akankah kita menyesal? Jika penyesalan adalah karena diri kita yang teledor, wajar, itu tandanya kita berjanji untuk tidak teledor. Namun untuk berburuk sangka pada perbuatan Allah? menyesal karena perbuatan Allha?
Dan kehendak Allah tidak pernah sekalipun untuk mendzolimi hambanya.
"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Annisa: 40)

Dua bulan lalu saya kehilangan orang yang paling berjasa, yang rela menukarkan nyawa demi melahirkan ku.
Kemarin, satu-satunya impian yang tercoret di buku mimpi, raib pula, handphone kesayangan, yang jadi pembantuku saat menyelesaikan tugas.

Ya, inti dari semua ini adalah ikhlas, nerimo. Dan tentu saja dengan berbaik sangka terhadap ketentuan Allah.
Aku tak pernah tahu, ini baik atau buruk. Tetapi, aku hanya harus berbaik sangka pada Tuhanku..

Setiap kehilangan akan tergantikan, setiap yang pergi akan kembali, setiap yang naik akan turun, setiap yang memberi akan menerima. Inilah hukum kembali.

 Aku? Hanya harus bersemangat, untuk menata diriku, menata aktivitasku, untuk menjadikan pribadi yang lebih baik di mata Allah, dan berusaha mendapatkan cintaNya. Berusaha dapat bermanfaat seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangalah kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan : ’Seaindainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan jadi begini atau begitu’, tetapi katakanlah : ‘Qoddarallāhu wa maa syā-a fa’ala” (HR. Muslim)

 Ini semua sudah takdir Allah, ikhlas dan move on!

Az, gedung baru, 19/11/14; 10;08.

Minggu, 05 Oktober 2014

Apa kabar cinta dalam hatimu?

Aku melihat cinta seperti pelita. Menyala tenang terangi malam, terkadang angin berhembus dan hampir membuatnya mati, atau kadang juga angin mengobarkannya lebih nyala. 
 
Kini pelita itu kehilangan daya, habis kering sudah minyak yang menjadikannya sinar. Cinta itu hampir saja padam… jika saja.. jika saja… aku tak lantas menemukan Mu…


Aku bersyukur menemukannya dalam wujud lain yang berbeda, bukan sesuatu yang mulanya sangat ingin kuingkari pertemuannya. 
Pada mulanya engkau adalah bagian dari malam yang menjadikan hidup ini hitam, sikap yang ditunjukkan lebih banyak berseberangan, ideology yang hampir tak menemukan titik temu. Namun entah, karena itukah aku merasa engkau adalah tetesan lilin panas yang membeku di ujung jariku. Aku merasa panas dan tak mampu melepaskan rasa itu sampai ia dingin sekalipun.
Siapakah engkau gerangan?
Bukan sesuatu yang mudah untuk menemukan dan memutuskan engkau menjadi sesuatu yang “special”. Dimulai dari pengingkaran, rasa benci, dan berbagai penampikan…. Akhirnya hati sekejap berubah menjadi rasa nyaman, menghargai, toleransi, dan sayang. Ketika kelemahan itu muncul dihadapanku, tak ada lagi rasa ingin menunjukkan betapa lemahnya engkau, tersisa adalah kasih yang tiada batas untuk terus memaklumi…..
Benar saja, ketertarikan kita pada seseorang tak akan lama jika hanya didasarkan pada kelebihan, lantas apa yang membuat rasa tertarik ini begitu lama bertahan? Ya, menyukai karakter, menyempurnakan kekurangan dari diri masing-masing…
Jika diibaratkan engkau seperti sosok yang berkarakter jahat, dan jiwaku melihat kejahatan itu sebagai sebuah peluang untuk menjadi baik, begitulah aku menatapmu, engkau manusia yang baik, dan ada banyak peluang untuk terus kita bersama melangkah saling memperbaiki untuk terus jadi baik lagi baik dan terus memperbaiki sampai akhir.
Tapi kini, tapi kini… tapi kini, aku merasa telah semakin berubah, banyak yang berbeda dalam diriku sendiri… mungkin karena uban yang terus tumbuh akhir-akhir ini, usia renta atau pengikisan diri oleh waktu yang tak tentu…. Dalam mataku engkau pun berubah. 
“Bukan kita yang menghendaki perubahan, namun waktu yang memaksa untuk terus bergulir dan meciptakan perubahan-perubahan, kecil atau besar, terlihat atau tak terlihat, diduga atau tak terduga.”
Tak pernah berkurang perasaanku terhadap sesuatu, namun waktu memberiku pilihan, sesuai keyakinanku dan prinsif hidup yang harus kupegang. Rasa yang kumiliki tak hanya soal seseorang, melainkan juga tentang masa depan dan kehormatan (izzah).
“Kamu berhak terhadap sesuatu yang disukai, tapi hak itu tidak harus lantas menjadikanmu lemah. Hidup ini mesti realistis. Tak ada lagi Shah jahan yang membangunkan Taj Mahal untuk istrinya, jangan terus berangan, ini kenyataan.”
Dan rekahan harapan jadi satu-satunya hiburan, doa-doa tak boleh kering, akan selalu doa itu terus diuntai kelangit, dan jadi tangga untuk menemukan cinta Tuhan. 
Sejujurnya aku takut menuliskan semua ini, aku sangat ketakutan, tulisan ini akan mengubah pandangan seseorang terhadap kepribadianku. Namun menulis itu mesti jujur, tak boleh ada yang dikurangi satu senti pun. 
Belajar dari masalalu, bahwa setiap takdir yang terjadi selalu bermula karena keputusan yang gegabah, keputusan bersikap yang terlalu berani. Ya persis seperti menulis ini. Sangat berani, apalagi di media yang setiap manusia bisa mengaksesnya, membacanya, ada yang memikirkannya, ada yang mencibirnya, ada yang diam-diam menyimpannya, ada pula yang merasa satu perasaan, atau juga ada yang tak peduli dan bahkan tak mengerti…………….
Lalu sebaiknya bagaimana?
Aku mendiamkan semuanya, membiarkannya mengalir dan hanyut, lalu tak boleh ada kata::: baik berupa pernyataan maupun pertanyaan. Kita jalani saja, perlahan-perlahan. Jangan membuat riak diatas riak, dunia sudah cukup ricuh dan keruh…………
Adapun tentang jiwaku yang tak pernah kehilangan harap, ada penyerahan diri yang kuat. Tentang cinta yang mulanya kusadari sebagai sebuah fitrah, lalu kuhapuskan layaknya sebuah kesalahan, dan rasa takut yang begitu dalam… 
Diatas semua itu ada Allah, dan satu-satunya janji yang dapat kupercayai dari dunia adalah janji Allah. Barang siapa mengehendaki suatu kebaikan, hendaklah ia mempersiapkan diri untuk menerima kebaikan itu.
Allah, aku menghendaki sebuah keluarga dan keturunana yang salih yang terlahir dari rahim pendosa sepertiku. 
Adalah, satu-satunta tumpuan: Engkau yang mengampuni kelam masalalu, yang memberi jawaban dan menghapus keputusasaan dan kekhawatiran dari hati kami.
Biarkanlah cinta tetap mengalir, dan muaranya adalah Allah.
Siapalah aku, mampu mempertahankan dan menuntutmu untuk tetep menyimpan rasa?
Siapalah aku, aku tak akan mampu membuatmu merubah pikiran, perasaan, dan hati…
Sungguh hanya Allaah yang berhak membolak-balik, hatiku atau hati sesiapapun…
Adapun tentang hatimu. Akan kupahami sebagai sebuah miniature impian. Yang bukan lagi tentang aku didalamnya, melainkan tentang peradaban yang akan dibangun satu abad ke depan. Bukan?